Total Tayangan Laman

Translate

Selasa, 13 April 2010

The Magic of Words


 "Words are the voice of the heart" - Confucius

Anne Sullivan, guru Helen Keller, penderita tiga cacat dalam usahanya untuk membuat Helen memahami setiap kata yang diejakannya di atas tangan Helen, tak pernah berhenti untuk mengajarkan Helen meski Helen bersikap memusuhinya bahkan Anne pun mendapatkan sikap skeptis dari kakak Helen sendiri yang menganggap usaha Anne sia-sia saja. Namun Anne tak pernah menyerah untuk menunjukan cahaya sejati bagi Helen agar Helen meski menderita tiga cacat, buta, bisu, dan tuli tak tersesat dalam dunia yang luas ini. Dan cahaya yang dimaksud oleh Anne adalah kata yang diharapkan Anne bisa membuka pintu hati Helen yang tertutup dari dunia sekitarnya. Kata-kata yang diejakan Anne di atas tangan Helen diharapkan bisa membangunkan Helen dari tidur panjangnya.

Usaha Anne pun akhirnya membuahkan hasil. Helen seperti mendapatkan kilatan petir yang menerangi seluruh hati dan jiwanya ketika Anne sambil memompakan air mengejakan kata "air (water)" ke atas tangan Helen. Dunia Helen yang selama ini diliputi kegelapan pun mulai menyeruakkan setitik cahaya.

Yang mengharukan adalah kata-kata Anne yang mengharukan pada Helen sebelum mendapatkan "pencerahan" itu. Anne mengatakan bahwa ia ingin menunjukkan sebuah dunia bagi Helen yang selama ini hidup dalam kegelapan itu dan dunia itu adalah dunia kata. Lewat kata kita bisa menjelajahi dunia walau kaki kita tak menjejak belahan dunia itu namun lewat kata-kata, kita bisa mengenal banyak tempat, kita bisa mengetahui banyak hal. Kata-kata merupakan kunci untuk menuju terang.

Aku tak tahu sejak kapan aku mengucapkan kata pertamaku tapi aku selalu ingat ketika aku berusaha untuk bisa membaca. Setiap buku seolah merupakan harta karun yang sangat berharga untukku sehingga aku betah berjam-jam lamanya melahap tiap kata di dalam "kotak harta karunku" itu. Ucapan Anne itu kiranya tepat karena lewat rangkaian kata aku jadi bisa mengetahui berbagai hal. Aku bisa mengenal banyak negara meski aku tak pernah menjejakkan kakiku ke negeri tersebut. Aku bisa bertemu banyak orang meski tak harus bertatapan muka. Lewat kata dunia bukan lagi merupakan misteri di dalam kegelapan. Bahkan lewat kata-kata yang terurai dalam buku-buku sejarah aku bisa mengetahui berbagai macam kejadian jauh sebelum aku lahir ke dunia ini.

Kata seringkali terasa seperti udara. Terasa tapi terabaikan. Kita tak pernah menyadari keberadaannya hingga saat kita kehilangannya. Sama seperti udara yang selalu kita rasakan, kita hirup dan seperti sudah menjadi bagian dari hidup itu sendiri sehingga kita tak menyadari keberadaannya hingga saat kita tak lagi bisa menghirup udara itu barulah kita merasakan kehilangan. Begitu pula dengan kata. Melekat erat pada lidah dan otak kita tapi terkadang kita tak sepenuhnya memahami kata-kata yang terucap itu sendiri. Kata-kata yang mestinya merupakan sebuah keajaiban dan pintu menuju terang seringkali menjadi pisau tajam yang menyayat hati hingga membuat orang lain terluka seperti yang diungkapkan oleh Ralph Waldo Emerson, "Words are alive; cut them and they bleed." 

Kata seringkali begitu mudahnya terucap dan sepertinya sangat bisa dipahami padahal sebenarnya kata yang terucap itu adalah misteri. Sepatah kata terkadang bisa membuat suasana seseorang yang semula suram menjadi cerah ceria tapi di lain waktu, sepatah kata dapat pula menghancurkan semangat seseorang menuju titik nadir terendah. Karena itu pula kiranya seorang raja besar sampai meminta pada Tuhan agar selalu mengawasi mulutnya dan berjaga pada pintu bibirnya. Dan seorang raja besar lainnya mengingatkan, "Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan."

Lewat kata-kata pula, mimpi seseorang dapat diceritakan dan bahkan dapat diwujudkan walau mungkin si pengucap kata tak pernah dapat melihat mimpinya terwujud seperti yang terjadi dengan mimpi seorang presiden Amerika Serikat yang bermimpi suatu saat seorang manusia akan bisa menjejakkan kakinya di bulan. Ia tak pernah melihat mimpinya itu terwujud karena ia telah tewas tertembak oleh seorang penembak misterius tapi berkat kata-katanya itu pula, sebuah mimpi yang lebih besar tercipta. Manusia bukan hanya bisa menjejakkan kakinya di bulan. Hasrat manusia untuk mengetahui rahasia antariksa luas bukan lagi menjadi hal mustahil yang tak dapat terwujud meski hingga kini manusia hanya bisa mengeksplor rahasia besar antariksa itu sepersekian bagian saja.

Kata-kata juga yang mampu membuat seorang Mao Tze Dong yang semula bukanlah siapa-siapa namun berhasil menguasai sebuah negara besar. Ia bahkan berhasil menyebarkan paham komunis yang diyakininya ke seluruh penjuru negeri tirai bambu yang begitu luas. Dalam catatan sejarah diketahui bahwa setelah pasukan komunis Mao berhasil mengusir pasukan nasionalis Kuomintang pimpinan Chiang Kai-Shek  dari daratan China menuju sebuah pulau yang kini menjadi negara kecil bernama Taiwan, Mao baru menyadari bahwa ternyata banyak dari rakyatnya masih menderita buta huruf.

Mao menyadari tugas untuk membuat rakyat China yang tersebar luas itu agar bisa melek huruf merupakan hal yang amat sangat sulit. Tapi ternyata Mao memiliki jurus jitu yang bisa membuatnya meraih dua keuntungan. "Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui," begitu mungkin kira-kira ungkapan yang tepat untuk ide Mao dalam membuat rakyatnya melek huruf sekaligus menyebarkan paham komunismenya.

Untuk mengatasi hal ini, ia memerintahkan setiap satu orang yang bisa baca tulis menuliskan ajaran-ajaran komunisme yang diyakininya itu dan mengajarkan satu orang yang buta huruf membaca dan menulis dari doktrin-doktrin komunismenya itu. Dan setelah si buta huruf itu akhirnya bisa membaca dan menulis, ia pun mengajarkan penderita buta huruf lainnya membaca dan menulis doktrin-doktrin komunisme tersebut dan begitu seterusnya. Berkat strategi Mao ini, bukan hanya penderita buta huruf berkurang di negerinya, tapi juga paham komunismenya makin berkembang luas hingga ke setiap sudut negeri China.

Sepatah kata bahkan bisa menyebabkan seseorang kehilangan nyawanya. Memang lidah merupakan sarana untuk mengecap dan mengucap itu kerap kali disebut lebih berbahaya dari sebilah pedang paling tajam sekalipun. Tapi sebuah kata-kata yang keliru ditafsirkan ternyata benar-benar bisa mengakibatkan nyawa orang lain melayang seperti yang terjadi pada sekelompok tentara Turki yang ditawan oleh Perancis saat perang di Timur Tengah pada 1799.

Sang Panglima besar, Napoleon Bonaparte saat itu sebenarnya berniat melepaskan 1200 tentara Turki yang ditawan pasukannya itu. Namun alih-alih melepaskan mereka, tentara Turki itu malah tewas terbunuh hanya karena Sang Panglima besar tengah menderita flu. Saat itu, Napoleon sambil diganggu batuk yang membuatnya jengkel tengah menginspeksi pasukannya. Di antara batuknya setengah bergumam sang Jenderal menggerutu dan mengatakan, "ma sacre tolix" yang artinya "batuk sialan". Tapi perwira pendamping sang Jenderal mengira bosnya mengatakan, "massacrez tour" yang artinya bunuh semua. Alhasil seluruh tawanan Turki yang berjumlah 1200 orang itu pun tewas dibunuh padahal semula sang Jenderal berniat melepaskan mereka tapi karena kesalahan dalam mendengar kata-kata sang Jenderal, seluruh pasukan Turki itu malah harus menemui ajal mereka.

Kata terkadang juga terasa tak ubahnya seperti air yang terkadang terasa lembut seperti tetesan air tapi ada kalanya deras menderu laksana debur ombak yang menghantam rasa dan jiwa seseorang. Kata adalah wujud dari peradaban manusia tapi terkadang manusia sendiri yang merendahkan martabat dan peradabannya dengan kata-kata tak beradab yang diucapkannya. Tapi kata bagiku adalah sebuah kunci bagi seseorang untuk meraih mimpinya. Lewat kata-kata baik yang diucapkan maupun yang ditulisnya, ia telah menularkan mimpi itu pada orang lain. Lewat kata-kata itu pula, misteri pikiran tak lagi terlalu sulit untuk dipahami. Lewat kata-kata pemikiran seseorang bisa memberikan inspirasi bagi orang lain.

Kerap sesaat sebelum tidur, ketika mataku setengah terpejam, aku suka sekali mengucapkan mimpiku dalam hening malam meski mungkin hanya bergaung dalam kamarku tapi pikiranku menyerapnya untuk memberikanku harapan bagi langkah kakiku pada hari baru yang siap menyongsong. Tak peduli betapapun konyolnya sebuah mimpi, kurasa alam semesta ini cukup luas untuk menampung setiap mimpi anak manusia. Jadi mengapa harus lelah bermimpi? Mengapa harus takut melangkah mewujudkan mimpi? Karena setiap kata yang terucap akan tetap bergaung di seluruh penjuru semesta dan hanya orang-orang yang mampu menangkap gaungnya itulah yang kiranya akan mencatatkan sebuah sejarah bagi hidupnya dan dunia.

Kata yang terangkum dalam bahasa mungkin merupakan sebuah tanda peradaban. Dan mungkin kemampuan dalam berbahasa ini pula yang membedakan manusia dari makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Mungkinkah itu pula yang menyebabkan manusia lebih suka berbicara daripada mendengarkan?


"Words without thoughts never to heaven go" - William Shakespeare.

Tidak ada komentar: