Total Tayangan Laman

Translate

Sabtu, 03 April 2010

Awal Kebangkitan Sang Raja..?


Jenson Button akhirnya berhasil meraih kemenangan pertamanya di tahun ini saat gelaran GP Melborne, minggu lalu. Kemenangan yang berhasil kembali diraihnya sejak terakhir kali ia merasakan nikmatnya champagne di podium tertinggi di Turki.

Tapi sedihnya banyak yang menganggap kemenangan JB tersebut hanya keberuntungan belaka. Terlebih setelah Vettel harus retired setelah mobilnya sempat spin di atas sirkuit yang basah terguyur hujan. Vettel yang telah dua kali berturut-turut berhasil meraih pole position di dua race perdana musim balap tahun ini, kembali harus mengalami mimpi buruk. Dua kali ia sukses meraih grid terdepan tapi dua kali pula ia gagal menjuarai balapan padahal ia telah tampil mendominasi sepanjang setengah balapan.

Setelah di Bahrain, Vettel terpaksa melepaskan kemenangannya kepada Alonso karena masalah busi di mobilnya, minggu lalu di Albert Park, Melborne, Vettel lagi-lagi harus melepaskan kemenangan yang mestinya berhasil diraihnya. Tapi sayangnya di lap 23 mobilnya spin dan gagal melanjutkan lomba sehingga Button yang berhasil menyodok ke posisi kedua, di belakangnya, berkat strategi penggantian bannya yang meski gambling dan berisiko tapi terbukti sukses mengantarkannya meraih podium utama dan merebut kemenangan dari tangan Vettel.

Besok di Sepang, Malaysia, perjalanan Button dalam meraih kemenangan kembali sepertinya akan sangat sulit terlebih setelah ia hanya berhasil meraih p17 di sesi qualifying. Sementara rekan setimnya, Lewis Hamilton yang sepanjang tiga sesi latihan bebas menjadi yang terkencang pun besok harus memulai start dari grid 20. Kegagalan duo McLaren menembus Q1 ini ternyata juga dialami oleh duet Ferrari, Fernando Alonso yang berada di posisi ke-19 sementara Felipe Massa ada di P20, tepat di belakang Lewis Hamilton. Hasil lengkap qualifying di sini

Keadaan sirkuit yang basah karena hujan lebat yang turun saat sesi qualifying membuat McLaren melakukan kesalahan dan kesalahan tersebut harus dibayar dengan gagalnya dua andalannya menembus Q1. Tapi hasil buruk di qualifying ini belum berarti harga mati untuk duet McLaren karena keduanya pasti akan bertarung habis-habisan dan menunjukkan performa terbaik mereka untuk bisa merangsek naik ke atas dan meraih poin. Syukur-syukur bisa meraih podium atau kemenangan, mungkin?

 pic taken from here

Sementara itu, Michael Schumacher yang telah turun gunung dan kembali meramaikan pertarungan F1 belum juga berhasil meraih hasil maksimal di dua seri perdana kemunculannya kembali di dunia olahraga yang telah membesarkan namanya ini. Setelah di Bahrain ia hanya berhasil finish di urutan keenam, di Melbourne minggu lalu, sang raja bahkan harus terseok-seok untuk meraih satu poin yang tersisa dengan finish di posisi ke-10.

Di lap pertama, Schumi terpaksa harus masuk pit setelah sayang mobilnya rusak akibat bersinggungan dengan Fernando Alonso. Meski balapannya sulit tapi Schumi seperti pada masa-masa kejayaannya, tetap memperlihatkan kualitasnya sebagai pebalap senior yang telah mengantongi tujuh gelar dunia. Walaupun Mercedes-nya tak sekencang McLaren-Mercedes-nya Button atapun Hamilton, Schumi tetap berjuang sekuat tenaga untuk membawa mobilnya meraih poin. Perjuangannya pun membuahkan hasil. Meski ia hanya berhasil meraup satu poin, tapi Schumi yang telah berpengalaman menyadari bahwa tiap poin sangat berarti untuk menjaga kansnya di perebutan gelar dunia tetap terbuka.

Esok di Sepang, Schumi lagi-lagi gagal mengungguli rekan setimnya yang jauh lebih muda. Di sesi kualifikasi, Schumi hanya mampu meraih P8. Ia berada tepat di belakang mantan rekan setimnya, Rubens Barrichello yang sukses meraih P7. Sementara rekan setim Schumi, Nico Rosberg berhasil menjadi yang terkencang kedua dan akan memulai balapan di grid kedua, di belakang Mark Webber yang sebenarnya berharap bisa menjuarai GP di kandangnya, minggu lalu.

Meski hasil yang diraih Schumi di qualifying GP Malaysia tak terlalu mengesankan tapi Sepang sebenarnya memiliki tempat yang berarti bagi Schumi dan bisa jadi Sepang menjadi titik awal kebangkitan kembali sang raja. Di GP Malaysia 1999, Schumi kembali ke F1 setelah mengambil cuti panjang akibat kecelakaan yang dialaminya di Silverstone yang hampir membuat karir balapnya berakhir. Meski di GP Malaysia 1999 tersebut Schumi tak berhasil meraih kemenangan karena saat itu tugasnya memang membantu rekan setimnya, Eddie Irvine untuk meraih kemenangan, mengingat absennya Schumi membuat peluangnya dalam perebutan gelar pun tertutup dan saat itu rekan setimnya Irvine lah yang memiliki kans lebih besar untuk meraih gelar dunia dan tengah bertarung dengan Mika Hakkinen.

Sebagai pebalap kedua (posisi yang biasanya diemban oleh rekan setimnya), Schumi memainkan peranannya dengan sangat luar biasa. Sepanjang balapan, Schumi menjaga agar Hakkinen tak bisa menjadi ancaman bagi rekan setimnya, Irvine. Walaupun saat itu, Schumi turun sebagai pebalap kedua tapi aksi Schumi merupakan pebalap pertama yang paling cemerlang. Ia berhasil mempermainkan Hakkinen hingga akhir race membuat Hakkinen tampak kelelahan saat berada di podium ketiga sementara Schumi yang berada di podium kedua tersenyum simpul, puas karena berhasil mempermainkan rival beratnya tersebut. Tugas utama Schumi di GP Malaysia itu pun berhasil dilaksanakannya dengan cantik. Ia berhasil mengantarkan rekan setimnya meraih kemenangan meski di akhir musim, Irvine ternyata gagal meraih gelar dunia dari tangan Hakkinen.

Aksi Schumi di GP Malaysia 1999 menjadi awal kebangkitan Schumi yang pada musim 2000 hingga 2004 berhasil meraih gelar dunia untuknya dan untuk timnya, Ferrari. Siapa tahu pula, besok di GP Malaysia, Schumi berhasil menemukan kembali ritme balapnya dan berhasil meraih memperlihatkan aksi cantiknya seperti yang dipertontonkannya di Sepang 1999 terlebih Norbert Haug, pemimpin Mercedes meyakini bahwa sang raja belum benar-benar "habis" (berita lengkapnya) sementara Schumi sendiri masih memiliki kecintaan yang sangat besar terhadap balapan dan itu bisa merupakan modal berharga mengingat Schumi di masa keemasaannya sekalipun tak pernah kehilangan motivasi balapan. Mengenai kesulitannya di dua balapan, Schumi menyatakan bahwa ia telah berusaha sangat keras. Dan ia bukanlah pesulap. Yang terpenting adalah, ia berusaha semaksimal mungkin untuk meraih hasil maksimum yang bisa diperolehnya dan semua itu memerlukan usaha ekstra keras. (berita selengkapnya di sini).

"There are limits to what you can do, and I drove within those. I am not a magician so it is what we are facing – that we might not be as competitive from the beginning of the season. But life is not about wishful thinking – you have to work for it, " ungkap sang juara dunia tujuh kali ini. Dan Schumi telah membuktikan sepanjang karir balapnya, bahwa ia merupakan pebalap dengan etos kerja yang paling tinggi jadi untuk memetik hasil maksimal seperti yang diharapkannya mestinya bukanlah hal yang mustahil bagi pebalap yang memiliki semangat juang yang sangat tinggi ini.



Tidak ada komentar: