Total Tayangan Laman

Translate

Sabtu, 28 Mei 2011

Audrey Hepburn = Life Through War

Tag dari Selvia Lusman.

Bagi penggemar film, khususnya film-film klasik, pastinya nama Audrey Hepburn tak asing. Begitu banyak film-film Audrey Hepburn yang hingga saat ini masih dikenang para penikmat film seperti Breakfast at Tiffany's dan Roman Holiday. Audrey Hepburn, aktris cantik yang pada masa itu kerap menjadi ikon mode dunia juga terkenal sebagai duta UNICEF, profesi yang ditekuninya hingga akhir hayatnya.

Di balik wajah cantiknya, Audrey Hepburn memiliki masa kecil yang amat kelam. Ia hidup di masa perang dunia kedua, di mana hal ini sebagian besar mempengaruhi pandangannya sehingga ia hingga akhir hayatnya terlibat secara penuh sebagai duta UNICEF. Audrey merupakan gambaran sempurna dunia bintang glamour Hollywood namun rela meninggalkan gaya hidup glamour ala bintang dan mengabdikan sisa hidupnya sebagai duta UNICEF demi menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak miskin di negara-negara yang lebih baik bagi anak-anak miskin di negara-negara yang tingkat kehidupannya masih jauh dari sejahtera. 

Audrey Hepburn lahir pada tanggal 4 Mei 1929 di Ixelles, Belgia dengan nama Audrey Kathleen Ruston. Ayahnya, Joseph Victor Anthony Ruston (1889-1980) adalah keturunan Irlandia sementara ibunya, Ella, baroness van Heemstra (1900-1984) adalah seorang bangsawan Belanda. Kakek Audrey, Aarnoud Jan Anne Aleid, baron van Heemstra (1871-1957) pernah menjadi gubernur Dutch Guiana. Belakangan, ayah Audrey menambahkan nama belakangnya dengan nama keluarga dari neneknya, Kathleen Hepburn sehingga nama belakang Audrey pun berubah menjadi Hepburn-Ruston.

Ibu Audrey, Ella sebelum menikah dengan ayah Audrey pernah menikah dengan seorang bangsawan Belanda, Jonkheer Hendrik Gustaaf Adolf Quarles van Ufford (1854-1955). Dari pernikahan pertamanya ini, ia dikaruniai dua orang anak, Jonkheer Arnoud Robert Alexander "Alex" Quarles van Ufford dan Jonkheer Ian Edgar Bruce Quarles van Ufford.

Meskipun Audrey lahir di Belgia, namun Hepburn memiliki kewarganegaraan Inggris. Ayah Audrey bekerja sebagai agen asuransi di perusahaan Inggris sehingga Audrey dan keluarganya seringkali melakukan perjalanan antara Brussel, Inggris dan Belanda. Audrey sendiri saat kecil bersekolah di Inggris. Sejak tahun 1953-1938 Audrey bersekolah di "Miss Ridgen's School", sebuah sekolah keputrian di Elham, Kent yang terletak di bagian tenggara Inggris.

Pada tahun 1953 orang tua Audrey bercerai karena ayahnya menjadi simpatisan Nazi. Ayahnya lalu meninggalkan Audrey dan ibunya. Perpisahan orang tuanya disebut Audrey sebagai masa paling traumatis dalam hidupnya. Meski ayahnya telah menelantarkannya namun Audrey tetap menyayangi ayahnya. Ia bahkan membantu ayahnya secara finansial hingga akhir hayatnya dan dengan bantuan Palang Merah, ia memindahkan ayahnya ke sebuah tempat di Dublin, Irlandia.

Pada tahun 1939 seiring dengan meletusnya Perang Dunia II, ibu Audrey membawanya beserta kedua kakak tirinya pindah ke rumah kakek mereka di Amheim, Belanda karena mengira Belanda aman dari serangan Jerman. Namun ternyata pada tahun 1940 Jerman menginvasi Belanda. Selama masa pendudukan Jerman, Audrey menggunakan nama Edda van Heemstra, nama ini merupakan modifikasi dari nama ibunya, Ella karena ibunya merasa nama Audrey terlalu berbau Inggris dan hal ini amat berbahaya karena bisa menarik perhatian tentara Jerman yang bukannya tak mungkin akan berujung pada penahanan atau bahkan deportasi.

Di Amheim, Audrey belajar di Konservatorium Amheim dan di samping mendapatkan pelajaran sesuai kurikulum sekolah, ia juga belajar balet. Pada tahun 1944 Audrey mulai menjadi ballerina dan sering tampil secara sembunyi-sembunyi untuk mengumpulkan dana bagi gerakan bawah tanah melawan Nazi.

Setelah sekutu mendarat di mana peristiwa ini dikenal dengan istilah "D-day" pada tahun 1944 ternyata keadaan di Belanda malah makin buruk. Tentara Jerman yang sudah hampir kalah perang melawan sekutu memblokir jalur suplai sehingga banyak yang mati kelaparan dan kedinginan di jalan. Kondisi ini masih pula ditambah dengan aksi kekerasan di mana penembakan terhadap masyarakat lokal di mana kerap terjadi. Keadaan yang memprihatinkan ini pun menimpa keluarga Audrey. Hepburn dan beberapa orang lainnya sampai membuat kue dan biskuit dengan tepung yang berasal dari bunga tulip. Bahkan Audrey yang saat itu masih amat belia ini harus menyaksikan paman dan sepupu ibunya ditembak oleh orang Jerman. Sementara Audrey sendiri akibat perang mengalami kekurangan gizi. Ia bahkan sampai menderita anemia akut dan gangguan pernafasan.

Salah satu cara Audrey melewati waktu adalah dengan menggambar. Ketika Belanda akhirnya berhasil dibebaskan dari pendudukan Jerman, truk-truk dari PBB pun segera masuk untuk memberikan bantuan makanan bagi rakyat di sana. Dalam sebuah wawancara, Audrey mengatakan bahwa ia menghabiskan sekaleng condensed milk sehingga ia jatuh sakit akibat ia menaruh terlalu banyak gula di oatmeal-nya.

Pengalamannya saat perang inilah yang mendasari Audrey untuk terlibat dengan UNICEF. "I can testify to what UNICEF means to children, because was among these who received food and medical relief right after World War II," ujarnya menjelaskan mengapa UNICEF amat berarti bagi anak-anak yang pernah mengalami kelaparan akibat perang seperti dirinya. Belakangan Audrey menemukan pengalaman yang dialaminya saat perang ternyata sama seperti dirinya. Belakangan Audrey menemukan pengalaman yang dialaminya saat perang ternyata sama seperti yang dirasakan oleh Anne Frank yang tertuang dalam buku hariannya pada tahun 1946 yang kemudian diterbitkan. Saat buku harian Anne Frank ini akan difilmkan pada tahun 1959 dengan judul "The Diary of Anne Frank" kakek Anne, Otto Frank sempat meminta Audrey untuk memerankan cucunya di film itu namun ia menolaknya karena ia lahir di tahun yang sama dengan Anne sehingga otomatis saat film itu dibuat usianya sudah 30 tahun dan ini tentu saja tak cocok dengannya yang dinilai sudah terlalu tua untuk berperan sebagai seorang remaja. Peran Anne Frank kemudian jatuh kepada Millie Perkins.

Setelah perang usai, Audrey meninggalkan Konservatorium Amheim pada tahun 1945 dan pindah ke Belanda. Di sini ia belajar balet pada Sonia Gaskell yang kemudian memperkenalkan Audrey pada Marie Rambert. Hepburn lalu pergi ke London untuk belajar di sekolah balet Rambert yang juga merupakan guru dari pebalet pria, Vaslav Nijinsky. Saat itu Audrey bekerja sampingan sebagai model.

Semula Audrey bermaksud serius menekuni balet dan ingin menjadikan balet sebagai pilihan kariernya hingga ia pun bertanya pada Rambert mengenai masa depannya senagai balerina. Rambert menjawab bahwa Hepburn bisa terus menari dan masa depannya cerah. Namun malnutrisi yang diderita Audrey akibat perang bisa menjadi penghalang bagi Audrey untuk menjadi prima ballerina (penari balet utama). Audrey yang frustasi dengan pernyataan Rambert ini kemudian mengalihkan pandangannya ke dunia akting. Saat itu kehidupan ekonomi keluarga Audrey amat sulit. Ibu Audrey bahkan sampai harus melakukan pekerjaan kasar. Dan Audrey yang butuh uang melihat akting sebagai karier yang cerah terlebih bayaran untuk berakting tiga poundsterling lebih besar dibanding menari balet.

to be continued....

Berikutnya Audrey mulai merambah ke Hollywood dan meraih kesuksesan.

* Gambar dipinjam dari sini.

Tidak ada komentar: