Total Tayangan Laman

Translate

Sabtu, 14 Mei 2011

Rekam Jejak Michael Schumacher di GP Spanyol

Penampilan Schumacher di GP Turki kemarin memang tak berjalan sebaik yang diharapkan. Namun semua itu kini sudah berlalu. Perhatian semua pebalap F1 dan publik pecinta olahraga motorsport ini kini beralih ke race selanjutnya di Barcelona, Spanyol. 

Fernando Alonso boleh saja menjadi pebalap kebanggaan rakyat Spanyol, tapi hingga saat ini Michael Schumacher merupakan pebalap tersukses di sepanjang sejarah perhelatan grand prix F1 di negeri matador ini. Michael Schumacher merupakan pebalap yang paling banyak meraih kemenangan di GP Spanyol ini. Ayah Mick dan Gina Schumacher ini tercatat telah memenangi GP Spanyol sebanyak 6 kali  sementara kebanyakan pebalap macam Mansel, Stewart, Prost, dan bahkan Hakkinen hanya mampu meraih tiga kali kemenangan di GP Spanyol ini. Sementara Senna, pebalap Brazil yang telah melegenda hanya berhasil meraih dua kali kemenangan saja di negeri matador ini. 

Tahun lalu di saat Michael Schumacher habis-habisan dicerca akibat terus menerus dikalahkan oleh rekan setimnya yang lebih muda, juara dunia tujuh kali ini berhasil melakukan serangan balik pertamanya di tahun lalu atas rekan setimnya yang lebih muda itu di GP Spanyol ini setelah tim Mercedes melakukan perubahan dengan memperpanjang wheel base mobilnya. 

Kini dengan hasil buruk yang diraih Schumi di empat balapan perdana musim ini, tentu saja ia berharap bisa kembali memetik hasil mengesankan di salah satu sirkuit keberuntungannya ini. 

Sekadar refreshing menjelang GP Spanyol yang akan diselenggarakan pekan depan, tak ada salahnya bila menyimak kembali kiprah Michael Schumacher di GP Spanyol. 

Balapan perdana Michael Schumacher di GP Spanyol sebagai pebalap F1 setelah ia memulai debutnya yang gemilang bersama Benetton, Schumi langsung "diculik" oleh Benetton. Sebagai rookie kala itu, penampilan Michael di GP Spanyol 1991 ini cukup mengesankan. Saat itu Gerhard Berger dari McLaren-Honda meraih pole sementara Michael Schumacher, si anak baru ini meraih P5 di sesi kualifikasi. Saat race, menjelang akhir lap 1 Schumacher bertarung dengan para pebalap kawakan kala itu yakni Ayrton Senna, Nigel Mansell, dan Jean Alesi untuk memperebutkan posisi ketiga. Menjelang akhir lap pertama, Michael mengejutkan Mansell karena berhasil merebut posisi ketiga. Hujan yang turun membasahi sirkuit Catalunya kala itu sempat memberikan tontonan dramatis yang menarik kala Senna melintir di tikungan terakhir hingga membuat posisinya melorot dari P2 ke urutan ke-5 sementara Schumi berhasil menyalip Prost untuk merebut P3 dan memberikan tekanan pada Berger yang harus kehilangan posisinya sebagai race leader karena "dicuri" oleh Mansell. Pertarungan berakhir setelah Schumi melintir saat mencoba menyalip Berger dan membuat posisinya melorot ke urutan ke-6 sementara Berger pun mengalami akhir pekan yang tak menyenangkan karena tak lama ia terpaksa mengakhiri balapannya karena mobilnya mengalami kegagalan elektronik. 

Untuk balapan F1 perdananya di GP Spanyol, finish ke-6 tidaklah terlalu buruk bagi Schumi. Terbukti di masa-masa mendatang, GP Spanyol menorehkan banyak kenangan manis bagi pebalap Jerman ini.

Di tahun penuh pertamanya bersama Benetton, Schumi mencatat hasil yang cukup menggembirakan. Di sesi kualifikasi ia berhasil meraih P2, kalah kencang dari Nigel Mansell yang membalap bersama Williams-Renault. Musim itu Mansell dan Williams memang amat luar biasa dan nyaris tak terkalahkan.

Start berlangsung di atas trek yang basah oleh hujan dan memberikan suguhan menarik bagi penonton. Jean Alesi dari Ferrari melakukan start yang bagus dan berhasil melakukan lompatan dari posisi 8 saat start menuju urutan ke-3 menggusur Senna dan membuat pebalap Brazil itu melorot ke urutan ke-7. Sementara Schumi pun harus kehilangan posisi keduanya yang "disabotase oleh Patrese. Namun di lap ke-7 Schumi berhasil memenangi pertarungan melawan Alesi hingga membuat Berger pun ingin mengikuti jejaknya dan mencoba menyalip Alesi. 

Di lap 20 Patrese melintir dan membuat Michael berhasil merebut posisi kedua di belakang Mansell. Di belakang Schumi menyusul Senna, Berger, Capelli, dan Alesi. Saat pit, Alesi berhasil menyalip Capelli dan saat kembali ke trek ia pun sukses merebut P4 dari Berger dan Schumi menjadi target Alesi yang berikutnya. Namun ia terlalu terburu-buru. Schumi berhasil mempertahankan posisinya di urutan kedua tepat dibelakang Nigel Mansell yang berhasil meraih kemenangan keempatnya di musim itu sementara Alesi cukup puas meraih podium ketiga di belakang Schumi. 

Di musim ini Williams merupakan skuad terkuat kala itu lewat duet Alain Prost dan Damon Hill. Di sesi kualifikasi Prost sukses merebut pole disusul rekan setimnya, Hill di urutan kedua sementara Schumacher hanya mampu merebut P4 tepat di belakang Senna. Namun saat start, Hill berhasil menyalip Prost. 

Balapan Hill berhakhir di lap 41 akibat kegagalan mesin membuat posisi Prost posisi pertama tetap aman hingga akhir race. Sementara pertarungan di tempat kedua amat ketat antara Schumacher dan Senna, namun pertarungan itu akhirnya dimenangkan Senna (McLaren-Ford) setelah Schumi melintir keluar trek di tikungan akhir. Schumi pun cukup puas merebut podium ketiga di belakang Prost dan Senna. Meski hanya berhasil merebut podium ketiga namun Michael berhasil mencatat fastest lap yang ditorehkannya di lap 61.

Awal masa keemasan Michael Schumacher. Di musim 1994 ini Schumi bersama Benetton tampil cemerlang. Di empat seri perdana musim itu sebelum GP Spanyol, Schumacher berhasil meraih kemenangan membuatnya berada di puncak klasemen. Awal dominasi Schumacher ini sempat meresahkan Senna yang hengkang dari McLaren dan bergabung dengan Williams di awal tahun 1994 itu dan menyebabkan Prost memilih mengundurkan diri dari F1 karena kecewa atas keputusan Williams merekrut seteru abadinya, Senna. 

Duka akibat kematian Senna di Imola, awal Mei tahun itu, masih terasa menggayuti menjelang GP Spanyol yang kala itu digelar pada akhir Mei. 

Sementara itu Schumi dan Benetton masih tampil luar biasa dan berhasil meraih pole disusul Damon Hill yang menjadi pengharapan kubu Williams yang masih berduka akibat kematian tragis Senna, dan Mika Hakkinen yang memulai awal kemitraannya dengan McLaren mengisi grid ketiga. 

Saat race, Schumi mengalami masalah. Transmisinya stuck di gigi lima. Menyadari ia mengalami masalah yang serius, Michael pun mencoba beradaptasi dengan mengubah gaya menyetirnya. Pengalamannya saat ia bertanding di ajang World Sports Car bersama tim Sauber amat membantunya dalam mengontrol mobil. Keadaan ini membuat Michael cukup puas dengan merebut podium kedua di belakang Hill yang berhasil meraih kemenangan dan memberikan penghiburan bagi kubu Williams. Tentu saja kemenangan Hill ini menjadi momen emosionil bagi tim Williams mengingat pebalap terbaik mereka, Ayrton Senna tewas hanya beberapa minggu sebelum GP Spanyol tersebut. 

Menjelang GP Spanyol 1995 pertarungan memperebutkan gelar dunia antara Schumacher dan Hill berlangsung ketat. Pada awal musim, Schumacher berhasil meraih kemenangan di Brazil namun upayanya mempertahankan gelar dunia tak mudah karena Damon Hill memberikan perlawanan kuat. Di dua race menjelang GP Spanyol, yaitu di GP Argentina dan San Marino, Hill berhasil menyabet dua kemenangan berturut-turut hingga Schumacher harus membalasnya di GP Spanyol. 

Usaha Schumacher untuk merebut kembali posisi di puncak teratas klasemen pebalap dari tangan Hill terbuka lebar setelah pebalap Benetton ini berhasil meraih pole disusul duet Ferrari, Jean Alesi dan Gerhard Berger sementara Damon Hill hanya mampu merebut P5 di belakang rekan setimnya, David Coulthard yang menyabet P4. 

Balapan Schumacher tak mengalami hambatan berarti. Ia tampil solid dan terus memimpin hingga akhir race terlebih setelah pesaingnya di klasemen pebalap, Hill mengalami masalah dengan gearbox-nya di final lap hingga akhirnya ia terpaksa merelakan podium kedua kepada Johnny Herbert, rekan setim Schumi dan cukup puas bisa finish di urutan keempat tepat di belakang Berger yang mengisi podium ketiga. 

Kemenangan Schumi tersebut membawanya kembali berada di posisi puncak klasemen pebalap dengan 24 poin, selisih tipis atas Hill yang mengumpulkan 23 poin. 

Tahun pertama Schumi bersama Ferrari. Di musim ini Michael kembali mengalami pertarungan sengit dengan Hill. Musim itu Williams-Renault tampil luar biasa dan bukan tandingan Ferrari. Sebelum GP Spanyol, duet Williams, Hill dan Villeneuve saling bergantian meraih kemenangan sementara Schumi yang telah merebut dua gelar dunia belum memenangi satu kemenangan pun. 

Di sesi kualifikasi duet Williams kembali merajalela. Hill sukses meraih pole disusul rekan setimnya, Jacques Villeneuve, sementara Schumi berada di grid ketiga. Namun keberuntungan mulai berpihak kepada Michael. Saat race, hujan mengguyur sirkuit, Michael yang terkenal dengan julukan Regenmeister atau dalam bahasa Inggrisnya Rainmaster ini tampil cemerlang. Meski startnya jelek namun Schumi akhirnya berhasil menyalip Villeneuve dan meraih kemenangan pertamanya untuk Ferrari. Sementara Hill yang meraih pole, saat start sempat melintir dua kali hingga membuat posisinya melorot ke urutan ke-8 dan memaksa pebalap Inggris itu akhirnya retired di lap sepuluh.

Setelah Hill "terusir" dari Williams meski ia telah berhasil mempersembahkan gelar dunia pertamanya dan satu-satunya membuat posisi Villeneuve di tahun keduanya bersama tim asal Inggris itu makin kokoh. Pebalap Kanada itu memimpin puncak klasemen berkat dua kemenangannya di Brazil dan Argentina sementara rekan setimnya yang baru, Heinz-Harald Frentzen meraih kemenangan di GP San Marino. Sementara Schumacher baru meraih satu kali kemenangan di Monaco, dua pekan sebelum GP Spanyol. 

Sayangnya momen kemenangan yang telah diraih Schumi di Monaco tak berlanjut di Spanyol. Di sesi kualifikasi ia terpaksa mengakui keunggulan Williams yang berhasil menyabet pole lewat Villeneuve disusul rekan setimnya, Frentzen di urutan kedua sementara Schumi harus puas mengisi grid ke-7 di belakang Berger yang musim itu tampil membela bekas timnya, Benetton-Renault.

Saat balapan, start Schumi amat gemilang dan berhasil melompat dari grid ke-7 menuju P2 namun sayangnya Ferrari-nya kala itu tak mampu menandingi Williams-Renault milik Villeneuve. Di lap 13 ia ketinggalan sekitar 20 detik dari Villeneuve yang tampil tangguh hingga akhir race dan merebut kemenangan sementara Schumi terpaksa puas finish di urutan ke-4 di belakang Olivier Panis dan Jean Alesi.

Schumi akhirnya berhasil melakukan "pembalasan" atas Villeneuve dengan meraih kemenangan di negeri Villeneuve, Kanada.

Di musim ini upaya Michael meraih gelar dunia ketiganya mendapat hambatan dari Mika Hakkinen yang tampil solid bersama McLaren-Mercedes. Di sesi kualifikasi Michael terpaksa mengakui keunggulan tim asuhan Ron Dennis itu yang menempatkan dua pebalapnya di posisi teratas. Mika meraih pole disusul rekan setimnya, Coulthard sementara Schumi mengisi grid ketiga di belakang duo McLaren itu. 

Selepas start Mika Hakkinen melesat di urutan terdepan dan tak tertandingi. Michael pun harus puas meraih podium ketiga di belakang Mika dan DC mengingat duet McLaren itu terlalu tangguh. 

Pertarungan memperebutkan gelar dunia antara Schumi dan Mika kembali berlanjut di musim 1999 ini. Schumi yang sangat berambisi meraih gelar dunia pertamanya untuk Ferrari (dua gelar sebelumnya direbut bersama Benetton pada 1994 dan 1995) sementara Mika pun amat bersemangat mempertahankan gelar dunianya yang berhasil direbutnya di akhir tahun 1998. 

Sebelum GP Spanyol, Schumi telah mengantongi dua kemenangan yakni di San Marino dan Monaco sementara Mika baru meraih satu kemenangan di Brazil. 

Mika membuka peluang meraih kemenangan di Spanyol setelah ia berhasil meraih pole disusul Eddie Irvine, rekan setim Schumi sementara Schumi hanya mampu meraih P4 di belakang DC. Saat race, duet McLaren kembali tampil dominan. Mika lagi-lagi sukses meraih kemenangan Spanyol. Kemenangan keduanya di Spanyol dari total tiga kemenangan yang ditorehkannya di sirkuit Catalunya ini. Sementara Schumi meski sukses mencatat fastest lap tapi ia lagi-lagi harus puas hanya meraih podium ketiga di belakang duet McLaren itu. 

Memasuki musim 2000, Schumi dan Ferrari tampil mengesankan dengan meraih kemenangan di tiga race perdana yakni di Australia, Brazil, dan San Marino. Di race keempat yang berlangsung di Inggris, McLaren melakukan serangan balik lewat DC yang sukses meraih kemenangan. 

Peluang Schumi untuk kembali menjuarai GP Spanyol terbuka setelah ia sukses meraih pole disusul Mika Hakkinen di P2 sementara Rubens Barrichello, rekan setim Schumi yang baru di Ferrari menggantikan Irvine yang hengkang ke Jaguar mengisi grid ke-3 disusul DC di urutan ke-4. 

Pole yang diraih Schumi itu merupakan pole pertamanya di musim itu. Perang strategi ban terasa kental mewarnai GP Spanyol ini. Mika yang gagal merebut pole memilih bahan bakar yang lebih berat dari beban normal. Michael sebenarnya bisa saja menjuarai GP Spanyol musim itu kalau saja ia tak mengalami masalah di pit. 

Selepas start meski mobilnya melambat namun ia berhasil menghadang laju Hakkinen dan mempertahankan posisinya sebagai race leader tapi petaka mulai menimpanya saat ia masuk pit. Kala itu ia meninggalkan gap 3 detik di depan Hakkinen. Namun pitnya berantakan. Saat itu sebenarnya selang pengisi bahan bakar di mobil Schumi sudah dicabut sehingga pebalap Jerman ini pun segera melaju untuk kembali ke trek namun ternyata salah satu kru pit Ferrari, Nigel Stepney masih belum dalam posisi siap hingga akhirnya ia terjatuh dan hampir tergilas ban belakang Schumi. Ia pun segera dilarikan ke bagian medis dan untungnya ia tak mengalami luka yang serius. 

Pit pertama Schumi yang berantakan itu membuat Mika berhasil memperpendek jarak dengannya. Di lap 41 Schumi dan Mika masuk pit berbarengan. Lagi-lagi Schumi harus mengalami pit yang berantakan. Ia mengalami masalah yang mengakibatkannya tertahan di pit hingga 17 detik sementara Mika hanya membutuhkan waktu 10 detik di pit. 

Kemenangan sudah hampir pasti direbut Mika. Sementara balapan Schumi hari itu benar-benar kacau balau. Bahkan ia sampai berseteru dengan adik kandungnya sendiri, Ralf Schumacher. Di lap 51 Ralf mencoba menyalip Schumi tapi kakaknya itu langsung memblokir jalannya. Perseteruan keduanya ini dimanfaatkan oleh Rubens yang langsung menyalip mereka. Akibat kelakuan Michael ini sempat terjadi perang dingin antara dua Schumacher bersaudara ini. 

Kebocoran ban yang dialami Michael memaksanya kembali ke pit dan kembali ke trek di urutan ke-5 tepat di belakang adiknya, Ralf sementara Mika meraih kemenangan pertamanya di musim itu sekaligus menandai kemenangan ketiganya di GP Spanyol. 

Di sesi kualifikasi Michael sukses meraih pole dan seharusnya ia bisa terus memimpin kalau saja mobilnya tak mengalami mysterious tyre vibration usai pit keduanya hingga membuat Mika Hakkinen melaju merebut posisinya sebagai race leader. Tapi ternyata dewi fortuna masih bermurah hati pada Michael. Di lap terakhir tiba-tiba saja mobil Mika meleduk dan Schumi yang berada sedetik di belakang Mika pun langsung melaju menuju podium pertama meninggalkan Mika yang jengkel setengah mati. Posisi Mika pun langsung melorot ke urutan ke-9 dan gagal mendapatkan tambahan poin (tahun itu poin hanya diberikan kepada urutan finish dari satu hingga posisi enam saja). 

Salah satu musim tersukses Michael bersama Ferrari. Menjelang GP Spanyol, Schumi sudah tampil dominan sejak race pembuka musim di Australia. Hanya di Malaysia saja ia kehilangan kesempatan meraih kemenangan yang akhirnya direbut oleh adik kandungnya sendiri, Ralf Schumacher. 

Tahun 2002 sendiri sepertinya sudah ditakdirkan sebagai salah satu tahun tersukses Schumi dan Ferrari. Langkahnya tak terbendung. Di sesi kualifikasi Schumi berhasil meraih pole disusul Rubens di P2 dan Ralf di urutan ketiga. Namun saat race, Rubens terpaksa retire akibat masalah gear box sehingga memuluskan Schumi meraih kemenangan tanpa hambatan yang berarti. Podium kedua dan ketiga diisi oleh Juan Pablo Montoya dan David Coulthard. Secara total Michael menyabet 11 kemenangan di musim 2002 itu. 

Kebijakan Ferrari yang memilih menggunakan mobil tahun sebelumnya F2002 sempat membuat Ferrari keteteran di tiga race perdana awal musim. Ferrari sempat mencuri kemenangan di San Marino, dua pekan sebelum GP Spanyol. 

Di GP Spanyol, untuk pertama kalinya mobil baru FA2003-GA digunakan. Inisial GA merupakan penghargaan Ferrari untuk Gianni Agnelli, bos grup Fiat, induk perusahaan Ferrari, yang meninggal hanya beberapa saat sebelum peluncuran mobil baru tim asal Italia tersebut. 

Dengan mobil baru Ferrari itu, Schumi berhasil meraih pole disusul rekan setimnya, Barrichello di P2 dan Alonso di urutan ketiga. Posisi Schumi di tempat terdepan tak tergoyahkan hingga akhir race dan ia pun sukses meraih kemenangan disusul Alonso dan Barrichello di urutan kedua dan ketiga. 

Puncak masa keemasan Schumi dan Ferrari. Sejak awal musim Michael dan Ferrari meraih nilai sempurna. GP Spanyol di musim itu  merupakan race kelima dan berbekal dominasi F2004 dan Michael Schumacher di race-race sebelumnya, tim kuda jingkrak ini kembali tampil terlalu tangguh menjelang GP Spanyol. Di sesi kualifikasi, Michael meraih pole disusul Juan Pablo Montoya dan Takuma Sato di P2 dan P3 sementara rekan setimnya, Rubens Barrichello mengisi grid kelima di belakang Trulli. 

Saat race Michael sempat mendapat tekanan dari Trulli yang kala itu membela Renault tapi Michael Schumacher dan Ferrari saat itu terlalu tangguh. Ia berhasil mengatasi tekanan dan meninggalkan gap yang amat besar. Schumi finish di urutan pertama dengan selisih 13 detik lebih dari rekan setimnya, Barrichello yang finsih kedua disusul Jarno Trulli di tempat ketiga. Kemenangan Schumi ini merupakan kemenangan ke-6 nya di GP Spanyol dan menjadikannya sebagai pebalap tersukses di ajang GP Spanyol ini.

Salah satu musim tersulit Michael Schumacher dan Ferrari. Di musim ini FIA mengeluarkan regulasi baru dengan alasan membuat F1 jauh lebih menarik akibat dominasi Michael Schumacher dan Ferrari yang dinilai sebagian pihak membosankan. Nyatanya upaya FIA itu membuahkan hasil. Tahun 2005 bisa dibilang salah satu musim tersulit Schumi dan Ferrari. 

Aturan baru yang mengharuskan tiap tim tak boleh mengganti ban selama race nyatanya membuat Ferrari yang menjadi satu-satunya tim besar konsumen Bridgestone keteteran menghadapi para pengguna ban Michelin. 

Musim 2005 itu merupakan masa awal munculnya bintang muda Alonso dan Raikkonen sementara Schumi dan Ferrari terus berjibaku menghadapi payahnya Bridgestone dalam melakukan serangan atas Michelin. Serangkaian kekalahan demi kekalahan harus dialami Schumi dan Barichello sementara sebagian publik yang tak menyukai dominasi Schumi dan Ferrari akhirnya bersorak melihat sang juara dunia tujuh kali itu terseok-seok. 

Di sesi kualifikasi GP Spanyol, Schumi hanya mampu meraih grid ke-8 sementara Barrichello harus memulai balapan dari grid paling belakang, yaitu urutan ke-18. Saat race, Raikkonen yang meraih pole langsung memimpin, meski sempat mendapat hambatan dari Alonso namun ia tetap berhasil mempertahankan posisinya di urutan pertama hingga akhir race disusul Alonso yang finish kedua dan Trulli di tempat ketiga. Sementara Michael retired di lap 46 akibat puncture padahal ia sempat berada di urutan ketiga sebelum akhirnya kebocoran ban menghadangnya di dua lap menjelang balapan berakhir. Sedangkan Rubens Barrichello finish di urutan ke-9.

Setelah mengalami musim yang buruk, Ferrari dan Schumacher akhirnya bangkit kembali di tahun 2006 berkat aturan baru FIA yang kembali mengijinkan penggantian ban saat race. Namun musim ini Michael harus menghadapi serangan dari pebalap muda, Alonso yang telah sukses merebut gelar dunia pertamanya di musim 2005 bersama Renault.

Sebagai juara dunia asal Spanyol, pastinya membuat Alonso berniat meraih kemenangan di hadapan publiknya sendiri. Alonso sukses meraih pole disusul rekan setimnya, Giancarlo Fisichella di urutan kedua sementara Michael Schumacher mengisi grid ketiga.

Saat race Schumi akhirnya berhasil mendekati Alonso meski awalnya ia sempat tertahan di belakang Fisichella. Walau tak berhasil merebut posisi pertama dari tangan Alonso, namun Schumi cukup puas finish kedua disusul Fisichella di urutan ketiga.

Tahun pertama kembalinya Michael Schumacher ke arena Formula One setelah sempat berhenti dari F1 selama tiga tahun. Kali ini ia kembali bersama tim Mercedes dan berpasangan dengan pebalap muda Jerman, Nico Rosberg. 

Debut kedua Schumi di F1 ternyata tak berjalan sesuai harapan. Ia kewalahan menghadapi rekan setimnya dan seringkali keteteran hingga membuatnya menjadi bahan cercaan. Tapi menjelang GP Spanyol, timnya melakukan perubahan pada settingan mobil mereka dengan memperpanjang wheel base. Hasilnya Schumi pun  bisa sedikit bernafas lega dan melakukan serangan balik. 

Di sesi kualifikasi ia berhasil meraih grid ke-6 di belakang Jenson Button yang membalap untuk McLaren-Mercedes sementara rekan setimnya, Nico Rosberg berada di P8. Saat race, Schumi nyaris meraih podium tapi sayangnya mobilnya tak cukup kencang menghadapi laju Red Bull. Ia pun terpaksa puas finish di urutan ke-4 di belakang Webber, Alonso, dan Vettel sementara rekan setimnya, Nico Rosberg hanya mampu finish di urutan ke-13 dan gagal meraup poin.

sumber gambar : autoweek

Tidak ada komentar: