Total Tayangan Laman

Translate

Kamis, 18 April 2013

Perjalanan Terakhir Si Wanita Besi

Awan kelabu dan mendung yang menggayuti langit London, Inggris pada Rabu kemarin mengiringi prosesi upacara pemakaman Margaret Thatcher, mantan Perdana Menteri Inggris paling berpengaruh di negeri kerajaan itu pada abad 20. Proses pemakamannya ini telah menjadi bahan perdebatan di Inggris sejak berita kematiannya pada Senin, 8 April 2013 akibat stroke merebak.

Ribuan orang berdiri di sepanjang jalan mengikuti jalannya prosesi pemakaman satu-satunya Perdana Menteri wanita Inggris ini. Baik para pemrotes yang anti-Thatcher maupun pendukung wanita berjuluk Iron Lady ini berbaur dalam kerumunan. Ironi muncul ketika beberapa orang berteriak mencemooh kala peti jenazah yang dibawa oleh kereta meriam yang dihela oleh pasukan berkuda King's Troop Royal Horse Artileri ini lewat. Ada juga yang membawa plakat bertuliskan "Boo!" untuk mencemooh mantan Perdana Menteri dengan masa jabatan terlama ini. Tapi ada pula yang bertepuk tangan dan melemparkan bunga ke arah iringan prosesi peti jenazah Lady Thatcher.

Sedikitnya 230 orang tamu penting dari 170 negara  menghadiri upacara pemakaman yang dilangsungkan di Katedral St. Paul termasuk di antaranya 30 anggota kabinet Thatcher dan 32 anggota kabinet saat ini. Di antara tamu hadir pula 50 orang yang terlibat dengan Kepulauan Falkland termasuk di dalamnya para veteran perang antara Inggris melawan Argentina untuk merebut Falkland tahun 1982. Tapi Duta Besar Argentina untuk Inggris, Alicia Castro menolak hadir.

Di antara para tamu hadir pula mantan wakil presiden Amerika Serikat, Dick Cheney dan mantan menteri luar negeri Amerika Serikat, Henry Kissinger. Tapi sayangnya President Obama tak mengirimkan satupun pejabat senior dari pemerintahannya saat ini.

F.W. de Klerk, mantan presiden Afrika Selatan (Presiden Afrika Selatan yang berkulit putih) juga tampak hadir dalam deretan tamu. Dari partai oposisi, hadir pula Tony Blair, mantan Perdana Menteri Inggris dari Partai Buruh beserta Ed Miliband, pemimpin Partai Buruh saat ini.

Upacara pemakaman yang disebut "upacara seremonial" atau satu tingkat di bawah upacara kenegaraan yang diperuntukkan hanya bagi anggota kerajaan, setidaknya melibatkan sekitar 4000 orang petugas polisi yang menjaga ketat selama upacara berlangsung dan 700 personil militer turut serta dalam upacara dengan melepaskan tembakan penghormatan yang ditembakkan dari Menara London setiap menitnya hingga peti jenazah tiba di Katedral St. Paul. Demi menghormati wanita yang sangat memegang teguh pendiriannya demi kecintaannya pada negaranya ini, lonceng Big Ben di kota London yang terkenal itu tidak dibunyikan.

Upacara pemakaman yang hanya berlangsung selama 55 menit ini menggunakan kata sandi True Blue, warna yang identik dengan Partai Konservatif, partainya Margareth Thatcher ini sebelumnya menciptakan banyak perdebatan. Bahkan tak sedikit anti Thatcher yang dipimpin kelompok kiri dan orang-orang yang tak menyukai kebijakannya di antaranya pasar bebas dan poll tax atau pajak perseorangan.

Saat berkuasa selama sekitar sebelas tahun sepanjang periode 1979-1990, Margareth Thatcher dikenal sebagai sosok yang tegas dan berpendirian kuat. Ia tak gentar dengan ancaman serikat pekerja tambang yang mengancam akan melakukan mogok massal. Ia merupakan sosok yang dikenal tak kenal kompromi. Ia tak mau berkompromi dengan kelompok pemberontak IRA hingga menyebabkan dirinya dan suaminya, Denis Thatcher sebagai sasaran saat hotel tempat mereka menginap dibom kelompok radikal IRA. Kekukuhannya kembali diperlihatkannya saat menghadapi serangan Argentina atas kepulauan Falkland.

Di antara berbagai kebijakannya yang kontroversial, Lady Thatcher berhasil mengangkat ekonomi Inggris dari keterpurukan Depresi Besar yang melanda dunia. Bahkan sistem privatisasinya ditiru oleh berbagai dunia. Ia dinilai sebagai figur yang telah mengubah wajah Inggris dan mengembalikan kejayaan Inggris.

Namun Lady Thatcher yang telah memenangkan tiga kali pemilu ini akhirnya ditikam oleh orang-orang dalam partainya sendiri. Ia "dipaksa" mundur dari jabatan Perdana Menteri. Sejak "penurunannya" partai Konservatif  malah terpuruk yang menguntungkan partai oposisi, Partai Buruh. Namun saat ini Partai Konservatif kembali memegang tampuk kekuasaan lewat Perdana Menteri Inggris saat ini, David Cameron yang tak seperti pendahulunya di partainya yang anti Thatcherism, sebaliknya Cameron memilih untuk belajar dari kepemimpinan Margaret Thatcher.

Mengenai opini yang terpecah sehubungan upacara pemakaman Lady Thatcher yang dianggap sebagai tokoh yang paling memecah belah negara tersebut, David Cameron berpendapat bahwa bagaimanapun Margaret Thatcher merupakan salah satu tokoh penting di dunia sehingga sudah seharusnyalah ia mendapatkan upacara pemakaman yang layak. Ia juga mengkritik sikap mereka yang malah berpesta atas kematian wanita yang merupakan arsitek dari berakhirnya Perang Dingin ini sebagai hal yang tak sepantasnya.

Upacara pemakaman yang dihadiri Ratu Elizabeth II dan Pangeran Philips ini pada Rabu, kemarin berlangsung hikmat dipimpin langsung oleh Uskup London, Rev. Richard Chartres.

Lady Thatcher sebelumnya menyatakan tak mau ada eulogi dalam upacara pemakamannya. Karenanya upacara pemakamannya banyak diisi doa dan lagu pujian. Lagu himne berjudul "I Vow to Thee, My Country" turut mewarnai upacara pemakaman di Katedral St. Paul. Lagu yang memompa semangat patriotisme dan nasionalisme ini agaknya sangat pas mengingat betapa seorang Margaret Thatcher sangat mencintai kejayaan Inggris dan menyatakan sedih bila Inggris terpuruk. Dan semangat nasionalismenya ini sangat nyata saat ia mengirimkan kapal-kapal perang Inggris mengarungi Samudra Atlantik demi menghadapi serangan Argentina di Kepulauan Falkland. Saat ia berhasil memukul kalah pasukan Argentina, ia berteriak dengan penuh kemenangan, "Great Britain is great again".

Saat peti jenazah memasuki bagian dalam gereja Katedral, kelompok paduan suara menyanyikan lagu yang salah satu bait refrain-nya berbunyi demikian: "Kita tak membawa apapun ke dunia ini, dan tentunya kita tak membawa apapun saat kita pergi meninggalkan dunia ini. Tuhan yang memberi, Tuhan pula yang mengambil". Kalimat ini diambil dari Kitab Ayub dalam Alkitab.

Upacara dimulai dengan kutipan dari "Four Quartets" karya T.S. Eliot dan diakhiri dengan kalimat dari kumpulan Kalimat Bijak "Intimations of Immortality" yang mana salah satu barisnya berbunyi : "Hal yang kulihat kini tak terlihat lagi."

Usai upacara selesai, mobil jenazah mengantarkan peti berisi jenazah Margaret Thatcher ke rumah sakit di Chelsea sebelum dilakukan kremasi secara tertutup dan hanya dihadiri oleh pihak keluarga saja.

From ash to dust. Betapapun besarnya polemik dan kontroversi di sekitar Margaret Thatcher, namun seperti yang dikemukakan oleh Uskup London, bagaimanapun juga Margaret Hilda Thatcher adalah seorang manusia. "She is one of us, subject to the common destiny of all human beings."

Tidak ada komentar: