Total Tayangan Laman

Translate

Rabu, 17 Juni 2009

Keabadian ...



Aku menyeru – tapi tidak satu suara
membalas, hanya mati di beku udara
Dalam diriku terbujur keinginan,
juga tidak bernyawa
Mimpi yang penghabisan minta tenaga,
Patah kapak, sia-sia berdaya,
Dalam cekikan hatiku

Terdampar … Menginyam abu dan debu
Dari tinggalannya suatu lagu
Ingatan pada Ajal yang menghantu
Dan demam yang nanti membikin kaku …
……………………………………………
Pena dan penyair keduanya mati,
Berpalingan!

“Nocturno (fragment)” karya: Chairil Anwar

Aku selalu ngeri dengan segala hal yang berbau kematian. Bagiku kematian menggambarkan betapa tak berdayanya manusia. Kematian selalu menyisakan kehampaan. Kadang bila kebetulan di jalan ada mobil jenazah yang melintas, disadari atau tidak, aku selalu memalingkan wajahku. Mungkin aku takut dengan aroma kematian itu atau aku benci dengan kesunyian yang diciptakan oleh kematian itu.

Ketika aku mengatakan pada temanku bahwa aku ingin menulis tentang hal ini, ia yang merupakan penggemar berat Chairil Anwar (di samping Kimi Raikkonen yang mungkin tak senyeleneh Chairil tapi sama-sama merupakan orang muda yang berpengaruh di bidang mereka masing-masing) langsung mengusulkan puisi Chairil untuk kukutip.

Meski aku sebenarnya bukan penggemar berat Chairil tapi ya aku mengagumi karya-karyanya yang sarat dengan permenungan hidup (menurut pendapatku) dan menjelang saat-saat akhirnya, puisinya terdengar kelam seolah ia tahu kematian itu sudah di ambang pintu, menyapanya.

“Kematian tersenyum pada setiap orang dan kita seharusnya membalas senyumnya,” begitu kira-kira kalimat yang diucapkan Maximus yang diperankan oleh Russell Crowe dalam Gladiator.

Aku kerap membayangkan bagaimana rupa kematian itu. Apakah sungguh setampan Brad Pitt seperti perannya sebagai malaikat maut dalam Meet Joe Black ataukah sedingin tokoh The Reaper seperti yang beberapa kali muncul dalam drama seri televisi “Supernatural” yang dibintangi Jensen Ackles dan Jared Padalecki, dua orang kakak beradik yang memiliki profesi sebagai pemburu hantu (tapi bukan seperti ghostbusters) meneruskan profesi ayah mereka, John Winchester yang diperankan oleh Jeffrey Dean Morgan (yang juga pernah bermain di Grey’s Anatomy).

Tapi kupikir bagaimana pun rupa kematian itu tetap saja kematian mengerikan bagiku. Dan kupikir sulit untuk tersenyum pada kematian kala ia menjemput. Aku jadi teringat salah satu episode The X-Files di mana Dana Scully (Gillian Anderson) menutup matanya ketika kematian menatapnya sehingga ia terlepas dari kematian itu. Aku sendiri tak yakin apakah dengan menutup mata bila waktunya sudah tiba maka kematian itu akan berlalu dariku. Rasanya tak mungkin tapi sepertinya itulah alasan mengapa aku selalu memalingkan wajahku bila berpapasan dengan mobil jenazah karena aku selalu berpikir malaikat kematian itu mungkin saja masih berada di sekitar jenazah itu dan mungkin saja Sang Maut itu tengah menatapku. Pemikiran yang aneh tapi entahlah, begitu yang selalu kurasakan.

Tapi mungkin hidup itu jauh lebih menakutkan dari kematian seperti yang dikatakan Commodus dalam film Gladiator, “It’s a dream. It’s a frightful dream. That’s a life.”

Kematian memang masih merupakan misteri tapi hidup pun tak memberikan kepastian yang absolut. Sekali waktu kita merasa memiliki segalanya tapi hanya dalam sekejap saja tiba-tiba kita bisa kehilangan segalanya. Kepercayaan, sahabat, atau bahkan keluarga. Sesaat kita merasa sebagai orang paling bahagia sedunia tapi tiba-tiba saja kita merasa kehampaan. Merasa sendirian dalam hidup (meski tak sedramatis Tom Hanks yang terdampar sendirian di sebuah pulau dalam Cast Away).

Betapapun tak menentunya hidup itu tapi aku tetap menganggap hidup masih jauh lebih baik daripada kematian. Betapapun bengisnya hidup itu namun hidup senantiasa menawarkan harapan. Dan bukankah harapan untuk sesuatu yang baik pula yang membuat kita bangun tiap pagi? Harapan pula yang membuat hidup jadi tak terlalu berat untuk dijalani, bukan? Seperti sebait puisi Chairil dalam Perjurit Jaga Malam yang berbunyi seperti ini:

“Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, berlucut debu …
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu.”

Betapapun hidup penuh ketidakpastian. Betapapun hidup dihantui nasib waktu tapi mimpi senantiasa terukir untuk diwujudkan dalam sebuah realita. Berkat mimpi Thomas Alfa Edison pula kita merasa malam tak lagi sepekat malam itu sendiri.

Benar kiranya ungkapan yang mengatakan bahwa bukan seberapa lama kita hidup tapi seberapa banyak kita memaknai hidup itu sendiri. Aku selalu gemetar bila membaca kisah-kisah perjuangan orang-orang yang demi meraih mimpinya sampai rela kehilangan nyawanya seperti beberapa pembalap Formula One di masa ketika masalah safety tak terlalu dikedepankan. Mereka hidup di masa Formula One masih merupakan olahraga yang senantiasa mengundang malaikat maut hadir di tengah-tengah mereka.

Wolfgang Von Trips mungkin tak pernah menyangka bahwa tabrakannya dengan Jim Clark di tikungan Parabolica saat gelaran GP Italia di Monza pada tahun 1961 bukan hanya merenggut hidupnya tapi juga sebelas penonton. Entah apa yang ada di pikiran Von Trips ketika bangun pagi hari itu. Mungkin pagi itu ia bangun dengan semangat tinggi untuk menyonsong GP Italia dan merasa gelar dunia sudah begitu dekat dengan dirinya mengingat ia saat itu tengah unggul enam poin dalam klasemen. Tapi seperti kata para filsuf, kematian adalah misteri Ilahi, Von Trips tak menyangka bahwa hari itu ternyata hari terakhirnya menghirup udara kehidupan. Dan bukan hanya ia tak berhasil merebut gelar dunia tapi ia juga malah membawa sebelas orang penonton mengiringinya ke lembah kematian abadi.

Jim Clark (juara dunia dua kali bersama Lotus) yang bertabrakan dengan Von Trips selamat dari kecelakaan di Monza saat itu tapi tujuh tahun kemudian nyawanya tak berhasil diselamatkan saat ia mengalami kecelakaan ketika ia tengah mengikuti ajang F2 di Hockenheim pada tahun 1968.

Namun kematian bahkan tak bisa merenggut gelar dunia dari tangan Jochen Rindt. Pembalap Lotus ini sudah mengantungi lima kemenangan saat mengalami kecelakaan di Monza pada tahun 1970 sementara musim itu masih menyisakan tiga balapan. Namun hingga musim berakhir para pembalap lainnya yang masih hidup setelah kematian Rindt tak mampu mengejar perolehan poin Rindt sehingga ia menjadi satu-satunya pembalap yang meraih gelar dunia saat ajal sudah menjemputnya. Ironis.

Yang tak kalah tragis adalah kematian Ronnie Peterson. Lelah menjadi pembalap kedua Lotus di bawah bayang-bayang Mario Andretti akhirnya Ronnie berhasil mendapatkan kontrak McLaren sebagai pembalap pertama untuk musim balap 1979. Dengan semangat baru Ronnie datang ke Monza untuk mengikuti GP Italia dan menyelesaikan musim balap itu bersama Lotus sebelum hijrah ke McLaren tahun berikutnya. Ia bahkan sudah melihat mobil barunya sebelum datang ke GP Italia dan ia cukup puas dengan apa yang menantinya di tahun yang akan datang. Namun selepas start, Lotus 78 Ronnie melintir, menabrak barrier dengan keras. Mobilnya terbakar sementara Ronnie terjebak di dalamnya. James Hunt, Clay Reggazoni, dan Patrick Depailler berusaha mengeluarkan Ronnie dari mobilnya yang terbakar itu. Akhirnya Ronnie berhasil keluar tapi kakinya terluka parah. Ronnie segera dilarikan ke rumah sakit. Tapi malamnya ketika kakinya dibedah, terjadi penggumpalan darah dan esok paginya kematian Ronnie pun diumumkan.

Buntut dari kejadian ini, Ricardo Patresse yang dijadikan kambing hitam (Formula One selalu mencari kambing hitam untuk disalahkan setiap kali kecelakaan fatal terjadi) dianggap sebagai pihak yang mengakibatkan kecelakaan mengerikan itu dan ia pun dihukum tak boleh tampil di 1 GP yaitu GP USA di Watkins Glen.

Patrick Depailler yang membantu mengeluarkan Ronnie Peterson dari mobilnya yang terbakar itu juga tewas saat GP Jerman di Hockenheim dan James Hunt, salah satu pembalap flamboyan yang pernah dimiliki Formula One berhasil meraih gelar dunia semata wayangnya di GP Jepang 1976. Hunt meninggal karena serangan jantung setelah pensiun dari dunia Formula One.

Sebelumnya, pada tahun 1971, ketika gelaran GP Inggris dilangsungkan di Brands Hatch, Jo Siffert tewas setelah pada lap pertama BRM-nya bertabrakan dengan Ronnie Peterson. Seperti yang dialami Ronnie Peterson, BRM Siffert pun terbakar dan ia terkurung dalam mobilnya. Siffert berhasil dikeluarkan tapi nyawanya tak dapat ditolong. Siffert dikabarkan tewas karena kehabisan oksigen. Pemakaman Siffert di Swiss dihadiri oleh 50.000 orang.

GP Monaco 1967 juga menyisakan kenangan tragis atas kematian Lorenzo Bandini yang terkurung dalam mobilnya yang terbakar. Bandini kehilangan kendali di Chicane Nouvell kemudian ia menabrak pembatas yang terbuat dari jerami. Mobilnya terguling dan tangki bahan bakarnya terkoyak. Bandini terjebak dalam mobilnya sementara api mulai menjilati tunggangannya. Ketika akhirnya Bandini berhasil dikeluarkan ia sudah tak sadarkan diri. Tiga hari kemudian Bandini tewas akibat luka bakar yang parah. Sejak itu, dikeluarkan peraturan yang melarang penggunaan jerami sebagai pembatas.

Kematian Gilles Villeneuve (ayah Jacques Villeneuve) juga bisa dibilang tragis. Gilles tengah dalam keadaan penuh dendam kesumat pada rekan setimnya, Didier Pironi yang mengabaikan perintah team order dan “merebut” kemenangannya di GP Italia, Monza. Gilles pantas merasa geram karena ia merasa telah cukup berkorban demi tim ketika ia merelakan gelar dunia dan membantu Jody Sheckter merebut gelar dunia pada tahun 1979. Pembalap Kanada yang imut ini berharap rekan setimnya akan membalasnya pada tahun berikutnya. Tapi tahun 1980 adalah mimpi buruk bagi Ferrari. Si kuda jingkrak lebih banyak tertunduk lesu dihantam rival-rivalnya. Sheckter pensiun dan posisinya digantikan pembalap muda dari Perancis, Didier Pironi yang dikenal sangat kencang dan ambisius. Pironi yang ambisius tak seperti Villeneuve yang sentimentil dan ia memilih untuk mengabaikan perintah team order dan meninggalkan Gilles yang menatapnya geram. Bahkan ia tak terlalu mempedulikan sikap Villeneuve yang tak bersedia ikut merayakan kemenangannya di podium. Ia mengangkat trophy sambil tersenyum lebar sebagaimana seorang juara yang berhasil meraih kemenangan.

Perseteruan antar rekan setim ini berakhir ketika Villeneuve tewas dalam kecelakaan saat sesi latihan di GP Belgia yang saat itu dilangsungkan di Zolder pada tanggal 8 Mei 1982.

Entah karena karma atau memang seperti itulah siklus kehidupan dan kematian. Didier Pironi pun mengalami nasib yang tak kalah tragis dari rekan setimnya itu. Beberapa minggu setelah kecelakaan yang merenggut nyawa Gilles, Pironi mengalami kecelakaan saat latihan di GP Jerman. Kaki Pironi hancur akibat kecelakaan itu dan karirnya di Formula One pun berakhir. Pironi masih ingin sekali membalap tapi keadaan kakinya tak memungkinkan tim balap manapun di Formula One merekrutnya betapapun ia sangat berbakat. Pada tanggal 23 Agustus 1987, Pironi turun dalam balapan power boat. Balapan terakhirnya. Pironi dan seluruh penumpangnya tewas setelah kapalnya terbalik.

Mungkin yang juga tak bisa dilupakan para pecinta Formula One adalah kematian Ayrton Senna, salah satu pembalap terhebat yang pernah dimiliki olahraga ini. Senna yang saat itu tengah terancam dengan kehadiran pembalap muda dari Jerman, Michael Schumacher yang memimpin klasemen musim itu. Di GP Italia 1994 yang kala itu dilangsungkan di Imola, Williams Senna sebenarnya ada di depan Benetton Schumi ketika tiba-tiba saja Senna kehilangan kendali saat memasuki tikungan Tamburello. Senna berhasil dilarikan ke rumah sakit tapi nyawanya tak tertolong. Pembalap besar ini pun meninggal dunia. Sebuah kehilangan besar untuk Formula One. Bukan hanya para sahabatnya yang merasa kehilangan. Prost yang kerap dianggap sebagai saingan terberat Senna pun mengatakan bahwa ia tak bisa melepaskan perasaan hampa yang dirasakannya setelah kematian Senna yang pernah menjadi rekan setimnya. Dan Schumi, si pembalap muda berbakat yang sempat membuat Senna ketar ketir dengan kehadirannya pun merasakan kehilangan atas kematian Senna. Schumi yang dianggap publik dan media sebagai seorang yang arogan dan tak berperasaan ini mengunjungi makam Senna bersama istrinya tanpa gembar gembor pada media.

Yang tak kalah hebat bagiku adalah perjuangan Gunnar Nilson, pembalap Lotus yang meraih kemenangan tunggalnya di GP Belgia 1977. Ia bukan hanya berjuang meraih podium tapi juga berjuang melawan penyakit kanker testikel yang dideritanya. Musim balap 1978 Nilson hijrah ke tim Arrows. Namun seiring dengan berakhirnya musim balap itu perjuangan Nilson melawan kanker pun usai. Hanya sebulan sebelum ulang tahunnya yang ketiga puluh, Gunnar Nilson menutup mata bukan dalam arena pertarungan merebut gelar juara Formula One tapi dalam pertempuran melawan penyakitnya. Sebuah perjuangan yang heroik, menurutku. Perjuangan tanpa akhir yang luar biasa dan tak kalah luar biasanya dengan rekan-rekan pembalapnya yang berjuang meraih gelar dunia.

Perjuangan mereka bagiku sungguh luar biasa. Darah yang mengalir di tubuh memang suatu waktu akan berhenti mengalir. Jantung dalam tubuh fana ini memang suatu saat akan berhenti berdetak. Tapi kurasa apa yang telah mereka lakukan dalam hidup takkan pernah mati. Kisah mereka akan terus dituturkan dalam generasi ke generasi. Dan mimpi serta perjuangan mereka akan diteruskan oleh jiwa-jiwa baru yang hadir menghias dunia fana ini. Meski hidup ini tak abadi tapi kenangan dan spirit yang mereka tunjukkan rasanya selamanya akan abadi dalam hati-hati para pecintanya dan semua orang yang bisa menghargai hidup itu sendiri.

“What we do when we alive echoes in eternity”, begitu dialog yang diucapkan Russel Crowe dalam Gladiator. Dan mereka, para pahlawan Formula One itu telah menunjukkan apa arti keabadian itu.

Akhir kata aku ingin menutup tulisanku dengan puisi Chairil Anwar bukan karena penyair ini merupakan idola temanku tapi karena Chairil pun tak kalah luar biasa dengan para jagoan Formula One di atas. Chairil terlalu muda untuk mati tapi karyanya selamanya abadi bahkan jauh lebih abadi dari penyair-penyair Indonesia lainnya yang memiliki kesempatan hidup jauh lebih lama darinya.

“Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d.) sampai juga deru
dingin

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau
datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa
berlalu beku.”

-Yang terampas dan Yang Putus- karya: Chairil Anwar

2 komentar:

Grace Receiver mengatakan...

Nice posting. Keep writing!

air mengatakan...

Thank you....