Total Tayangan Laman

Translate

Sabtu, 07 Agustus 2010

Attonement Year...?

 
GP Hungaria kemarin sepertinya merupakan titik kulminasi bagiku untuk membenci F1. Semula aku menganggap F1 merupakan olahraga terbaik sedunia. Tak peduli bagaimana membosankannya F1 saat Michael pensiun, aku tetap menonton olahraga ini karena F1 bagiku merupakan sebuah olahraga super komplit yang memadukan antara teknologi, kemampuan (skill) individu seseorang, kerjasama tim dalam membangun sebuah mobil juara, dan yang paling utama memperlihatkan keberanian seseorang dalam melakukan aksi namun keberanian yang bukan tindakan sok berani tapi tolol. 

Sudah bukan rahasia dan aku takkan bermunafik ria bila aku mengakui diriku sebagai penggemar Michael Schumacher. Jadi sudah pasti aku gembira ketika Michael akhirnya kembali turun membalap membela tim yang dipimpin oleh Ross Brawn, sahabat sekaligus rekan seperjuangan Michael dalam memberikan Michael tujuh gelar dunia. Sebagai penggemar Michael tentu aku sedih dan kecewa melihat performa Michael dan Mercedes ternyata jauh dari apa yang kubayangkan. Michael dan Mercedes-nya bukan hanya kalah tanding melawan rival-rivalnya di tim lain, tapi ia terus menerus harus menanggung malu dilumat rekan setimnya, padahal selama ini Michael lah yang selalu berhasil menghancurkan rekan setimnya.

Seolah perasaan haru biruku melihat Michael harus terseok-seok di hampir sepanjang lomba musim ini masih belum cukup, stewart GP Hungaria masih pula menambah kesulitan Michael dengan mengganjar penalti 10 grid untuk Michael di GP Belgia nanti atas aksi Michael terhadap Rubens yang dinilai berbahaya. Hukuman yang super konyol!!!

Bukan rahasia umum jika di sepanjang masa keemasan Michael, banyak yang tak suka dengan keperkasaan Michael di masa lalu meski tak sedikit pula yang mengagumi bakat dan kepiawaiannya di atas sirkuit. Berbagai pihak selalu saja mengomentari tindakan-tindakan kotor yang dilakukan Michael di masa lalu, padahal apa yang mereka anggap tindakan kotor itu sepertinya juga kerap dilakukan oleh pebalap-pebalap besar lainnya, seperti Senna, namun mengapa yang justru paling dibenci justru Michael Schumacher?

Michael memang seorang ambisius yang takkan pernah mau bersikap ramah pada siapapun di atas trek. Lha, dia kan pebalap, untuk apa pula ia bersikap ramah pada lawannya di trek, dan kuyakin semua pebalap pastinya akan berusaha sekeras mungkin untuk menjaga posisinya dari lawannya. Siapapun dia. Entah Senna, Prost, Mansell, Rosberg, Piquet, Montoya, Raikkonen, Villeneuve, Hill junior dan senior, atau juga Hamilton.

Di sepanjang sejarah F1 pun bukan hanya Michael seorang yang merupakan pebalap ambisius dan kerap bertindak keras di atas sirkuit. Bahkan tak jarang pula Michael mengalami nasib apes saat ditabrak pebalap lainnya. Namun mengapa saat Michael ditabrak, media dan semua pembencinya malah bersorak tapi ketika Michael melakukan aksi yang keras terhadap pebalap lain, semua justru saling berlomba untuk mengomentari betapa kotor dan tak sportifnya juara dunia tujuh kali ini. Bahkan beberapa juara dunia pun ikut berkomentar miring seolah aksi mereka di atas trek sebersih kertas putih. 

Tahun ini Michael harus memulai debutnya kembali di F1 dengan cara yang pastinya takkan pernah diharapkannya. Mobilnya di luar dugaan ternyata tak mampu mengimbangi kemampuan balapnya. Dan keadaan Michael itu sudah otomatis menjadi kabar sukacita bagi semua kelompok ABS (Asal Bukan Schumi) yang muncul kala Michael di puncak kejayaannya bersama Ferrari. Ketika Michael dilibas bukan hanya oleh rekan setimnya yang jauh lebih muda tapi juga oleh pebalap muda tim-tim papan tengah lainnya, semua pihak pun berkomentar seolah juara dunia tujuh kali ini telah kehilangan kemampuan balapnya, padahal semua pihak yang mengenal F1 tentunya tahu bahwa seorang pebalap hebat sekalipun memerlukan mobil yang hebat yang bisa sesuai dengan gaya balapnya dan MGP W01 milik Michael sama sekali tak sesuai dengan gaya balap Michael sehingga juara dunia tujuh kali ini agak kesulitan dalam beradaptasi dengan tunggangannya ini. 

Belum cukup dengan kesulitan Michael mengatasi mobilnya yang tak sesuai dengan gayanya itu, ia terus menerus didera oleh regulasi-regulasi konyol tahun ini. Di GP Eropa akibat regulasi, Michael harus tertahan di pit sehingga ia harus kehilangan banyak waktu dan akhirnya harus puas finish di P15. Dan di GP Hungaria kemarin, Michael kembali harus menjadi korban dari regulasi tak jelas tahun ini. Aksi Michael dinilai membahayakan sehingga ia mendapat hukuman penalti 10 grid, padahal bila dirujuk lebih runut, banyak pebalap lain yang melakukan aksi yang jauh lebih berbahaya dari Michael.
 
Ingat bagaimana sengitnya Vettel dan Webber mencoba saling menjegal di GP Turki kemarin, tapi kenapa tak satupun dari mereka terkena hukuman? Apakah F1 tahun ini masih kurang membosankan dengan aturan larangan pengisian bahan bakar sehingga membuat F1 tahun ini agak miskin strategi pit seperti tahun-tahun sebelumnya, sampai-sampai muncul aturan bagi pebalap untuk melakukan overtaking secara halus dan tak boleh bersinggungan seperti yang terjadi pada Michael dan Rubens di GP Hungaria lalu? Super konyol!!!! Apa artinya F1 jaman sekarang harus seperti parade mobil balap yang membosankan seperti yang terjadi di GP Bahrain pada awal musim ini, di mana ke-24 pebalap tak ubahnya seperti kumpulan orang tolol yang hanya mengitari sirkuit sebanyak puluhan kali putaran lalu di akhir race?????

Tahun ini Michael memang tengah terpuruk tapi bukan berarti Michael telah kehilangan kemampuannya! Mengapa kita tak menunggu tahun depan saja di mana Michael pastinya telah berkontribusi pada tim untuk menciptakan mobil yang jauh lebih sesuai dengan gaya balapnya, pada saat itu rasanya barulah fair bila semua mengomentari Michael. 

Lucunya keterpurukan Michael tahun ini sepertinya menjadi justifikasi bagi siapapun untuk mengata-ngatai juara dunia tujuh kali ini. Tak terkecuali mantan rekan setimnya, Irvine yang merasa jauh lebih pintar dari Michael padahal semua juga tahu bagaimana dulu Michael melumat Irvine tanpa ampun. Atau sudah lupakah Irvine, bagaimana briliannya usaha Michael menghadang Mika Hakkinen, kompetitor Irvine dalam perebutan gelar dunia 1999 di Malaysia? Namun meski telah dibantu seorang Michael Schumacher toh Irvine akhirnya tetap saja tak mampu merebut gelar dunia dari tangan Mika Hakkinen. Jadi atas dasar apa ia bisa mengomentari Michael yang bahkan tak pernah bisa dikalahkannya itu????
 
Tahun ini memang merupakan tahun tersulit seorang Michael Schumacher, tapi kumohon jangan dulu coret Michael dari list tahun depan. Biarkan Michael kembali menampilkan performanya yang brilian itu tahun depan dengan regulasi yang jauh lebih waras dari tahun ini juga dengan tunggangan yang jauh lebih kompetitif di mana ia turun berperan dalam pengembangannya. Dan saat itu tiba, biarlah dunia kembali melihat seorang Michael Schumacher yang dulu. Michael Schumacher yang telah menghenyakan dunia dengan segala pencapaian dan berbagai rekor yang dipecahkannya. Dan saat itu pula dunia akan menyadari bahwa Michael Schumacher masih merupakan Michael Schumacher yang dulu. 
 
Tapi sebelum masa itu tiba, biarlah tahun ini Michael menjalani tahun ini tanpa ada intrik pembalasan dendam atau korban kebencian beberapa pihak yang memang tak menyukai sepak terjangnya di masa lalu. Toh manusia tak ada yang sempurna. Seorang Senna pun pernah melakukan tindakan tercela (aksi kotor, meminjam istilah kelompok yang selalu mendiskreditkan Michael) pada Prost dan Mansell dan bahkan hampir membuat Prost celaka. Tapi bukankah Senna justru dipuja oleh para penggemarnya sebagai pebalap terbaik sepanjang massa? Semua yang menyukai F1 pastinya tahu betapa sengitnya persaingan di atas trek dan bukanlah sesuatu yang baru bila seorang pebalap berusaha sekuat tenaga untuk menjaga posisinya, siapapun orangnya pasti takkan rela bila ia harus memberikan begitu saja posisinya pada lawannya.

Dan sampai tahun depan tiba, aku takkan berhenti berharap bila Michael kembali bersinar seperti dulu. Next year, I believe Michael will strikes back again!!!

 
sumber gambar dari: mercedesbenzblog

1 komentar:

alice in wonderland mengatakan...

saya juga dulu penggemar schumi, sdekarang sih udah gak ngikutin lagi...ternyata emang jadi pohon yang paling tinggi tu malah banyak diterpa angin gosip ya^^. tapai schumi sang mental juara sejati pasti gak mudah ditaklukkan walau harus menunggu tahun depan^^