Total Tayangan Halaman

Translate

Rabu, 17 Agustus 2011

Spa Francorchamps 2011, Akankah Michael Kembali Bersinar?

Sebagai fans berat Michael Schumacher tentu saja penampilan Michael Schumacher sejak dua tahun terakhir ini amat merisaukan. Di musim balap tahun ini, secercah harapan sempat muncul di GP Kanada saat melihat Michael Schumacher memperlihatkan kembali pesonanya seperti di masa lalu, harapan akan melihat kembalinya Super Schumi pun kembali menyeruak, tapi apa mau dikata, di race-race berikutnya, Schumi malah kembali mengalami kesulitan. Dewi Fortuna rupanya masih terlalu enggan menghampiri juara dunia tujuh kali ini. Serangkaian insiden kembali membuatnya keteteran hingga pebalap berumur 42 tahun yang telah meraih 91 kemenangan GP ini pun masih harus terus menelan pil pahit akibat bersinggungan dengan junior-juniornya. 

Meski Michael Schumacher masih belum memperlihatkan penampilan gemilangnya tapi sebagai salah satu fans-nya, aku hanya berharap Michael Schumacher bisa kembali tampil cemerlang, karena aku percaya Michael Schumacher masih memiliki pesona itu dan bakat membalapnya kurasa masih belum pudar meski usianya telah menua. 

Race selanjutnya akan digelar di sirkuit Spa Francorchamps, Belgia. Bila ditelusuri, sirkuit Spa Francorchamps ini bisa dibilang salah satu sirkuit keberuntungan Michael Schumacher. Begitu banyak memori manis diciptakan Michael Schumacher di sirkuit yang berpemandangan cantik ini. Debut F1-nya dimulai di sirkuit ini pada tahun 1991 bersama tim Jordan menggantikan Bertrand Gachot, yang harus mendekam di penjara Inggris atas penyerangan yang dilakukannya terhadap seorang supir taxi di London. 

Usai GP Belgia, nama tim Jordan menjadi headline berbagai surat kabar kala itu, mengulas aksi cemerlang pebalap baru asal Jerman, Michael Schumacher yang walau gagal finish karena mobilnya bermasalah namun sempat menarik perhatian saat ia meraih P7 saat sesi kualifikasi. 

Spa Francorchamps makin mengesankan bagi Michael Schumacher saat ia berhasil meraih kemenangan gp F1 pertamanya di sirkuit ini setahun setelah debutnya. 

Di GP Belgia 1992 Michael dengan Benetton-Ford-nya berhasil meraih kemenangan atas duo Williams, Nigel Mansell dan Riccardo Patrese. 

Namun yang paling mengesankan adalah aksi Michael Schumacher di GP Belgia 1995. Meski aksinya memblok Damon Hill terbilang kontroversial dan menjadi salah satu noda dalam karir balapnya yang cemerlang, tapi tak bisa dipungkiri, penampilannya di GP Belgia 1995 itu merupakan salah satu aksinya yang paling spektakuler. Ia memulai balapan dari grid 16 tapi berhasil meraih kemenangan mengalahkan Hill dan Brundle di atas sirkuit Spa Francorchamps yang basah oleh hujan. 

Memang hampir di semua sirkuit lama, Michael Schumacher mencatat rekor sebagai pebalap yang paling banyak menang, tak terkecuali di sirkuit Spa Francorchamps ini, di mana ia berhasil menorehkan 6 kali kemenangan mengalahkan rekor lima kali kemenangan Ayrton Senna di Spa Francorchamps. 

Mengingat banyaknya kenangan manis yang ditorehkan Michael Schumacher di Spa Francorchamps ini, maka tak berlebihan pula bila para penggemarnya berharap Spa Francorchamps di tahun 2011 ini bisa menjadi titik balik kembalinya sang legenda, Michael Schumacher yang sudah kerap kali menaklukkan sirkuit sepanjang 308.302 km ini. 

Sumber gambar dari : Autoweek

Schumacher Still Full Of Passion

Michael Schumacher akhirnya mengeluarkan pernyataannya, menanggapi rumor yang beredar bahwa ia akan meninggalkan F1 sebelum kontraknya dengan Mercedes GP berakhir tahun depan. Sebelumnya di awal bulan ini sempat muncul berita bahwa Michael Schumacher tengah mempertimbangkan kembali keberadaannya di tim Mercedes mengingat sejak 2 tahun kebersamannya dengan tim pabrikan Jerman ini ia gagal tampil cemerlang dan lebih sering finish di belakang rekan setimnya. 

Penampilannya yang jauh dari mengesankan bersama tim Mercedes ini beberapa kali menimbulkan spekulasi bahwa Michael tidak akan menyelesaikan kontraknya bersama Mercedes yang akan berakhir pada akhir tahun depan terlebih hingga kini Mercedes masih belum berhasil menciptakan mobil yang kompetitif.

Corriere dello Sport pada awal bulan ini memberitakan bahwa juara dunia tujuh kali ini merasa dirinya sebagai beban bagi tim Mercedes dan ia tengah mempertimbangkan apakah akan tetap bertahan atau meninggalkan F1.

Tapi berita ini langsung mendapat bantahan dari mantan jubir Michael yang kini menjadi tim manajemen pebalap yang telah meraih 91 kemenangan gp ini, menyatakan bahwa sejak kembali membalap di F1, Michael Schumacher tidak pernah melakukan wawancara dengan satu orang pun di Corriere dello Sport.

Kehm juga menegaskan bahwa berita yang dilansir media itu bohong belaka dan menegaskan Michael Schumacher masih tetap penuh semangat dalam melakukan tugasnya membalap untuk tim Mercedes.

"He is full of passion for the cause and continues to see the task of build something big at Mercedes as an exciting challenge," ujar Kehm pada media Jerman, Bild.

"The fact that sometimes it doesn't work only spurs him on. Someone who will soon celebrate their 20th anniversary in Formula One know that perseverance can make a difference," imbuh Kehm.

Pernyataan Kehm ini pun makin diperkuat oleh Michael Schumacher. Lewat situs resmi tim Mercedes, Michael Schumacher menegaskan bahwa ia akan tetap mengisi grid F1 tahun depan bersama Mercedes dan menganggap rumor seputar dirinya baru-baru ini merupakan rumor yang konyol dan tidak benar. 

"Despite some funny rumours and stupid untruthful stories, I keep repeating myself that you will have to see me in 2012, wheter you like it or don't like it," tegas Schumacher dalam wawancaranya dengan website Mercedes.

Meski Michael masih belum berhasil meraih podium bersama Mercedes namun ia menyatakan bahwa ia masih mendapat banyak dukungan terutama dari pabrikan dan timnya hingga memacunya untuk tetap bertahan.

Michael juga menegaskan bahwa ia masih cukup fit dan secara mental ia siap untuk tetap membalap. 

"I'm still fit enough. I'm mentally ready for it. And I like a challenge."

Michael Schumacher juga menyatakan prospek timnya, Mercedes GP dalam memperebutkan gelar dunia melawan tim-tim favorit macam Red Bull, dan Ferrari masih jauh dari jangkauan. Meski peluang timnya musim depan masih diragukan namun peluang timnya di musim depan pantas dinanti untuk melihat seberapa jauh pengembangan yang dilakukan tim.

Sumber gambar dari situs ini.

Sabtu, 16 Juli 2011

GP Jerman, Mercedes, dan Michael Schumacher

Michael bersama Ralf, adiknya dan Norbert Haug, vice president Mercedes sport

Setelah tampil mengesankan di Montreal, Kanada, ternyata dua balapan berikutnya tak terlalu menggembirakan untuk Michael Schumacher. Di Valencia, juara dunia tujuh kali ini kembali harus bertabrakan dengan Vitaly Petrov dan di Silverstone, Inggris, pekan lalu, Michael Schumacher yang tampil meyakinkan saat start dengan merebut P10 dari posisi start-nya di P13, lagi-lagi Michael harus mengalami nasib naas. Kali ini ia bersinggungan dengan Kamui Kobayashi. Akibatnya, Michael terkena penalty 10 detik. Penalti yang dinilai Michael terlalu berat karena dengan pelanggaran ringan yang dilakukannya, Michael mengaku remnya tak bekerja dengan baik sehingga ia tak bisa menghindari mobil Kobayashi hingga mengakibatkan keduanya bertabrakan dan membuat Michael terpaksa masuk pit untuk mengganti front nose mobilnya yang rusak, menurut Michael setidaknya drive through penalty sudah cukup baginya dan tak perlu ia sampai dikenai penalti 10 detik sehingga membuat posisinya melorot jauh, padahal Michael menilai setidaknya ia bisa merebut finish di urutan keempat atau kelima. Terlebih setelah pit pertamanya usai insiden tabrakannya dengan Kobayashi sekaligus ia memakai kesempatan itu untuk mengganti ban, sekeluarnya dari pit, Michael beberapa kali berhasil mencatat fastest lap, hasil ini memicu para pebalap lainnya untuk segera masuk pit juga mengganti ban intermediate mereka.

Michael akhirnya harus puas finish ke-9 dan meraih dua poin. Namun rupanya diffuser baru Mercedes yang mulai dipasang tim ini di GP Inggris, pekan silam memberikan harapan baru bagi kubu Mercedes dalam menghadapi balapan selanjutnya yang akan berlangsung di negeri mereka, Jerman, pekan yang akan datang. 

Dalam sejarah GP Jerman, Mercedes pernah tampil merajai sirkuit Nurburgring di masa sebelum perang dunia kedua, masa sebelum F1 yang baru dimulai pada tahun 1950. Pada balapan pra perang dunia kedua, Rudolf Caracciola, yang adalah juga pebalap Jerman merupakan pebalap yang paling banyak menangguk kesuksesan di GP Jerman. Pebalap Jerman yang di masa sebelum perang dunia kedua, sempat membalap dengan bendera bergambar swastika, lambang Nazi, pimpinan Hitler ini meraih enam kemenangan di GP Jerman dan enam di antaranya direbutnya bersama tim Mercedes-Benz. 

Sementara Mercedes-Benz sendiri sebelum perang dunia kedua merupakan kontruktor unggulan yang merajai GP Jerman dan berhasil merebut tujuh kemenangan. Namun tim konstruktor yang paling banyak meraup kemenangan di GP Jerman adalah Ferrari yang tercatat berhasil menorehkan dua puluh kali kemenangan. Sedangkan Mercedes hanya meraup delapan kali kemenangan. Tujuh kemenangan sebelum masa perang dunia kedua sementara satu kali lagi kemenangan atas nama Mercedes diraih pada tahun 1954 bersama Juan Manuel Fangio, sementara saat bertandem dengan McLaren, Mercedes sempat meraih dua kali kemenangan. Pada tahun 1998 bersama Mika Hakkinen, sedangkan yang kemenangan di GP Jerman terakhir diraih Mercedes bersama McLaren lewat Lewis Hamilton pada tahun 2008 silam.

Setelah perang dunia kedua, baik pebalap maupun pabrikan Jerman dilarang terlibat dalam balapan. Sirkuit Nurburgring yang biasa menggelar balapan pun tak lagi digunakan. GP Jerman kembali digelar pada thaun 1950 yang dimenangkan oleh Alberto Ascari bersama Ferrari. Ascari menjuarai GP Jerman tiga kali berturut-turut sejak tahun 1950 hingga 1952. 

Mercedes baru kembali meraih kemenangan di kandang mereka pada tahun 1954 lewat Juan Manuel Fangio sementara fastest lap dicatat oleh Karl Kling yang juga merupakan pebalap Mercedes. Setelah tahun 1954, Mercedes tak pernah lagi meraih kemenangan di negerinya sendiri. Sementara Fangio masih dua kali lagi meraih kemenangan di Jerman. Pada tahun 1956 Fangio meraih kemenangan bersama Ferrari, sementara pada tahun 1957 pebalap Argentina ini mencatat kemenangan untuk Maserati.

Bertahun-tahun lamanya, akhirnya Jerman kembali bisa menyaksikan pebalap mereka meraih kemenangan di negeri mereka sendiri. Dan ia adalah Michael Schumacher yang berhasil mengembalikan kejayaan pebalap Jerman di negerinya sendiri. Schumacher meraih kemenangan pertamanya di GP Jerman, yang kali ini digelar di Hockenheim, pada tahun 1995 lewat Benetton-Renault. Meski Michael Schumacher belum bisa menyamai 6 kali rekor kemenangan di GP Jerman seperti yang ditorehkan oleh Rudolf Caracciola, namun Michael Schumacher merupakan pebalap F1 yang paling banyak meraih kemenangan di GP Jerman, setelah masa perang dunia kedua. Ia menorehkan empat kali kemenangan dan semuanya ditorehkannya di sirkuit Hockenheim. Sementara kebanyakan pebalap lainnya, seperti Ascari, Fangio, Stewart, Piquet, dan Senna hanya mampu menorehkan tiga kali kemenangan saja. 

Kemenangan kedua Michael Schumacher di negerinya diraihnya pada tahun 2002 bersama Ferrari. Kiprah Michael Schumacher di negerinya sendiri memang terbilang cukup unik. Meski ia merupakan pebalap yang memiliki paket paling lengkap, tapi ia belum pernah berhasil mencatat hattrick di negerinya sendiri seperti yang pernah dilakukan oleh Ascari. 

Saat ia telah bergabung dengan Ferrari pada tahun 1996, Michael belum jua meraih kemenangan di tanah airnya. Malahan, rekan setimnya, Irvine dan Barrichello yang lebih dulu meraih kemenangan yakni pada tahun 1999 dan 2000. Pada tahun 2001 Ralf Schumacher, adik kandung Michael Schumacher berhasil meraih kemenangan pertamanya di tanah airnya. Setahun kemudian, barulah Michael Schumacher yang berhasil kembali menaikkan bendera Jerman di negeri mereka sendiri. Pada tahun 2004, Michael mengalami kesulitan dan hanya mampu meraih finish ke-7 sementara yang meraih kemenangan adalah Juan Pablo Montoya yang membalap untuk tim Williams-BMW, pabrikan saingan Mercedes.

Pada tahun 2004 dengan paket Ferrari-nya yang sempurna, Michael Schumacher kembali berhasil meraih kemenangan di depan publiknya sendiri. Setahun berikutnya, Michael dan Ferrari kepayahan akibat perang ban yang dimenangkan oleh tim-tim lawannya pengguna Michellin. Kemenangan terakhir Michael Schumacher di GP Jerman, diraihnya pada tahun 2006. 

Kini bersama Mercedes, Michael Schumacher masih belum juga tampil cemerlang kecuali di GP Kanada, yang merupakan penampilan terbaiknya sejak kembali ke arena F1, namun hingga kini Michael dan Mercedes belum pernah lagi meraih kemenangan. Tentunya hal ini merupakan motivasi paling kuat bagi mereka untuk tampil mengesankan di GP Jerman yang akan berlangsung pekan depan terlebih tim Mercedes makin optimis dengan diffuser baru mereka yang memperlihatkan hasil yang mengesankan di Silverstone, Inggris, pekan lalu. Optimisme ini diungkapkan oleh bos tim, Ross Brawn yang menilai positif perkembangan paket baru mobil mereka dengan sistem exhaust baru yang dipasang mereka di Silverstone dan berharap bisa memberikan kesempatan bagi kedua pebalap mereka tampil gemilang di hadapan publik mereka sendiri di Jerman nanti

"Our car showed positive signs of improvement with the new upgrade package and exhaust system in Silverstone, and we have been working hard since then to further enhance our understanding of its performance capabilities," ujar Brawn dalam preview tim.

"We are hopeful of continuing this progression and putting on a good performance next weekend, giving our drivers the opportunity to show what they can do in front of their own supporters."

Hal positif senada juga diungkapkan oleh Michael Schumacher yang berharap beberapa pengembangan yang telah dilakukan di Silverstone dengan sistem exhaust baru bisa bersinergi dengan ban sehingga bisa memenuhi harapan para pendukungnya.

"We saw some improvements over the Silverstone weekend with our new exhaust system, along with improvements to how we work with the tyres, so we go to the next race weekend with a good feeling added to our fighting spirit," ujar Schumacher.

"We definitely want to show our home crowds our best level of performance possible," imbuh juara dunia tujuh kali ini. 

Michael amat berharap perkembangan teknis terbaru yang dilakukan timnya bisa membuatnya tampil lebih baik, terlebih lagi tahun ini adalah kali pertama Michael akan melintasi tikungan yang dinamai dengan namanya sendiri yaitu tikungan 8 dan 9, jadi tentunya ia ingin sekali tampil kencang yang tentunya akan merupakan kebanggaan tersendiri bagi pebalap yang telah mengoleksi 91 kemenangan ini.

"It will be the first time that I race through the corner which is named after me (Turns 8 and 9), and obviously I would like to believe that this is not only making me proud, but also even faster."

Sumber gambar : worldcarfans

Jenson Button, Up And Down In F1

Karir Jenson Button di Formula One bisa dibilang cukup unik. Sebelum memulai karir di F1, ia sempat mencicipi mobil McLaren-Mercedes namun pebalap Inggris ini malah masuk F1 lewat tim Williams pada tahun 2000. Kemunculan perdananya cukup mengesankan hingga ia dijuluki Wonder Boy. Tapi setelah setahun bersama Williams, ia terpaksa pergi meninggalkan Williams, meskipun sebenarnya tim Frank Williams itu masih suka dengan Button namun karena mereka memiliki kontrak dengan Juan Pablo Montoya maka terpaksalah Jenson Button dipijamkan ke tim Benetton. 

Bersama Benetton, Jenson mengalami masa sulit. Namun meski penampilannya payah, ia tetap dipertahankan dan hasilnya ia tampil jauh lebih baik di tahun keduanya bersama Benetton yang kini berganti nama menjadi Renault. Tapi lagi-lagi Jenson harus didepak karena Renault yang saat itu dipimpin oleh Flavio Briatore yang juga merupakan manager Fernando Alonso menganggap sudah waktunya bagi anak asuhnya tampil setelah di tahun sebelumnya menjadi test driver Renault usai menjalani masa orientasi pengenalan F1 lewat tim gurem, Minardi. Untungnya saat itu Jenson mendapat perhatian dari David Richards yang menggantikan Craig Pollock memimpin tim BAR-Honda. 

Ternyata pengamatan DR, panggilan khas untuk David Richards, terhadap Jenson Button tak keliru. Di tahun 2004 Jenson bersama BAR-Honda tampil gemilang dan merupakan satu-satunya pebalap yang mampu mengimbangi dominasi Michael Schumacher-Ferrari, tentu di samping rekan setimnya, Rubens Barrichello. 

Penampilan cemerlang Button ini tentu saja membuatnya kembali naik ke bursa pebalap top hingga tim lamanya, Williams pun mulai meliriknya kembali. Tapi ternyata kesuksesan Jenson ini juga berimbas secara negatif. Ia bahkan harus terlibat masalah kekacauan kontrak antara Williams dan BAR-Honda. 

Tahun berikutnya, BAR-Honda tak segemilang musim 2004. Namun meski Jenson memiliki opsi untuk kembali ke Williams, tapi ia memutuskan bertahan di BAR. Makin tahun, ternyata penampilan BAR-Honda yang kemudian berganti nama hanya Honda saja makin melempem. Nama Jenson Button pun kembali terbenam. Hingga akhirnya Honda memutuskan hengkang dari Formula One di akhir tahun 2008. 

Tapi ternyata di balik segala macam kesulitan ini, karir Jenson rupanya perlahan mulai kembali naik ke atas. Di tahun 2009 tim Honda yang telah berganti nama menjadi Brawn GP tampil mendominasi paruh pertama musim balap tahun itu. Bahkan walau performa Jenson dan Brawn GP mulai menurun berkat pengembangan dari tim-tim lawan, namun Jenson Button dan Brawn GP berhasil merebut gelar dunia pertama mereka di akhir musim 2009 itu. 

Setahun berikutnya, Jenson pindah ke McLaren-Mercedes, salah satu tim favoritnya saat ia masih kecil. Ia bahkan menyebut bergabungnya ia dengan tim asal Woking, Inggris itu bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan. 

Kini Jenson sudah memasuki tahun keduanya bersama McLaren-Mercedes. Ia juga sudah memberikan tiga kemenangan untuk McLaren-Mercedes. Tahun lalu ia meraih dua kemenangan di Australia dan China.  Sementara di tahun ini Jenson akhirnya berhasil kembali meraih podium tertinggi di Montreal, Kanada. Namun di GP Inggris, kemarin, di hadapan publik senegaranya Jenson yang dalam sejarah karir F1-nya selalu tampil buruk di Inggris, kembali harus mengalami nasib naas. Ban depannya terlepas akibat kecerobohan kru pit McLaren, akibatnya juara dunia 2009 ini gagal melanjutkan lomba dan tak mendapatkan tambahan poin.

Menjelang masa akhir kontraknya bersama McLaren yang akan berakhir tahun depan, nama Jenson Button kini bahkan kabarnya menjadi incaran tim-tim papan atas macam Ferrari dan Red Bull. Namun berita paling akhir, Red Bull menegaskan akan tetap diperkuat Sebastian Vettel dan Mark Webber di musim depan. Namun berita tentang Ferrari yang kabarnya ingin mengganti Felipe Massa dengan pebalap yang lebih mampu mengimbangi Fernando Alonso masih belum ada kejelasannya, dan Button menjadi salah satu pebalap yang diincar tim scuderia itu. 

Jenson sendiri menanggapi positif mengenai dirinya yang menjadi incaran tim-tim papan atas dan menganggapnya sebagai berkah atas dirinya yang telah mengalami tahun-tahun sulit selama karir balapnya di F1. Dan bila kini ia termasuk salah satu pebalap top F1, maka semua itu dinilainya merupakan buah dari hasil kerja kerasnya selama ini. 

"Yeah, I've worked hard to get where I am and for what I've achieved, and I feel there is a lot more I can achieve in Formula One. That's probably one of the reasons why I'm being linked with other people, so it's nice to have positive comments written about you, and they're all exciting prospects. You could say I do feel in a privileged position. It's nice to be in that position."

Mengenai kabar dirinya yang menjadi salah satu pebalap yang diincar Ferrari, Jenson mengungkapkan bahwa di masa ia masih kecil, ada tiga tim yang merajai F1 yaitu Williams, McLaren, dan Ferrari. Dan Jenson sudah membalap untuk dua tim besar yang menjadi idamannya saat kecil, yaitu Williams dan McLaren jadi tinggal satu tim besar lagi yang belum pernah dibelanya, yaitu Ferrari. Namun Jenson juga menambahkan bahwa ia menyadari tak semua impian bisa diraihnya. 

"As a kid growing up there were three teams that really excited me, and they were the three fighting for the world title in Williams, McLaren, and Ferrari. I've driven for Williams and McLaren, one of the start of my career and one now, but your dreams as a kid don't always come true."

Masa depan Jenson di F1 saat ini bisa dibilang cukup cerah. Ia telah meraih gelar dunia dan kini tengah membalap untuk salah satu tim besar yang merupakan salah satu tim impiannya saat kecil dan ia juga tengah diminati tim besar lainnya, tapi Jenson tetap menganggap bahwa masa depan tetap merupakan misteri. Ia tak tahu pasti masa depannya, tapi yang jelas saat ini ia hanya ingin terus menggali potensinya dan terus berusaha meraih kemenangan. Meski begitu ia tetap berharap ada pilihan baginya di masa depan tapi ia juga menegaskan bahwa yang penting adalah apa yang terjadi di saat ini. Menjalani hidup dan menikmati apa yang dilakukannya di saat ini meski ia tak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

"I don't know where my future is, other than in a car that is definitely fighting for victories, which is exactly what I want at this moment in time after what I've achieved. So, it's a case of never say never. You've got to keep your option open, never burn any bridges. But I don't think you want to look too far in the future either. You have to live the moment and enjoy what you're doing, and I don't know what's going to happen in the future at the moment."

Mengenai kemungkinan bila ia bergabung dengan Ferrari, artinya ia harus membalap berdampingan dengan Fernando Alonso yang pernah membuatnya terdepak dari Renault. Alonso yang pernah membalap untuk McLaren dan mengalami masa yang buruk saat bertandem dengan Lewis Hamilton namun Button yang hingga kini masih bermitra dengan Hamilton di McLaren dan keduanya tak mengalami pertikaian tajam seperti yang terjadi ketika Hamilton berpasangan dengan Alonso di tim Woking itu. 

Meski hubungan Jenson dan Hamilton di McLaren terkesan adem ayem, namun Jenson pun pernah memiliki pertikiaian dengan rekan setim saat ia bergabung dengan BAR mendampingi Jacques Villeneuve. Mengenai hubungannya dengan JV yang sempat menjadi sorotan media, Jenson menyatakan bahwa awalnya memang hubungannya dengan JV tak terlalu baik. JV bahkan kerap membicarakan dirinya di depan media dan bukannya menghadapinya secara langsung, tapi belakangan, Jenson mengaku hubungannya dengan JV membaik, bahkan katanya belakangan mereka berteman baik. 

Bila Button akan bergabung dengan Ferrari yang artinya menjadi rekan setim Alonso, maka Button telah menjadi rekan setim tiga juara dunia. Di BAR, Jenson berpasangan dengan JV yang merupakan juara dunia 1997 sementara di McLaren, Jenson menjadi rekan setim Lewis Hamilton yang adalah juara dunia 2008. Mengenai masalah rekan setim, Jenson menyatakan bahwa ia tak terlalu mengkhawatirkan siapa yang akan menjadi rekan setimnya. Ia hanya ingin membalap untuk tim yang memiliki pebalap yang kompetitif karena ia amat menikmati pertarungan itu. "But I've no worries being anyone's team-mate. I relish racing for a team that has a competitive driver. I enjoy the fight."

Mengenai nasib apesnya di GP Inggris, pekan lalu, Jenson menyatakan bahwa yang paling penting baginya saat ini adalah ia ingin meraih kemenangan. Menikmati setiap balapan dan terus berusaha menanti peluang baik datang dan tidak memikirkan mengenai gelar dunia. Akibat hasil balap di GP Inggris minggu lalu, di mana ia gagal finish dan terpaksa tidak mendapat tambahan poin, padahal usai kemenangannya di Kanada, poin Jenson dengan pemimpin klasemen, Sebastian Vettel hanya terpaut 75 poin dan membawa Jenson mengisi urutan kedua di klasemen, tapi akibat kecerobohan kru pit McLaren di Silverstone, Inggris, maka kini poin Jenson dengan Vettel terpaut 95 poin dan posisinya di klasemen pun melorot ke urutan ke-5 di belakang rekan setimnya, Lewis Hamilton.

Sumber gambar : planetf1