Total Tayangan Laman

Translate

Kamis, 28 Mei 2009

The Next Mansell


Pic taken from www.papermag.com





Yeah! Jenson menang lagi! Kemenangan Jenson Button pada GP Monaco kemarin adalah kemenangan kelimanya musim ini (keenam sepanjang karirnya). Lima kemenangan dari enam Grand Prix! Ian Parkes dari Press Association (lihat press conference JB) mengatakan hanya ada enam pembalap yang berhasil memenangi lima GP pada enam GP pertama dan keenam pembalap tersebut adalah kampiun Formula One: Alberto Ascari, Juan Manuel Fangio (pemegang lima kali juara dunia F1), Jim Clark, Jackie Steward, Nigel Mansell, dan Michael Schumacher (sang legenda F1 peraih tujuh kali gelar juara dunia!)

Pada awal karir JB, ia sering disebut-sebut sebagai the next Mansell dan memang selain sama-sama dari Inggris, sama-sama berbakat tapi sama-sama kesulitan meraih gelar podium pertama, namun ketika semua sudah pada tempatnya, bakat mereka akhirnya terlihat, dan baik Mansell yang harus melewati seratus kali GP sebelum akhirnya berhasil memenangi Grand Prix pertamanya dan pada tahun 1992, Mansell bersama Williams tampil n dan berhasil meraih gelar pertamanya sebagai juara dunia Formula One. Begitu pun dengan Jenson yang harus berjuang membungkam semua omongan skeptis tentang dirinya karena tak jua berhasil memenangi GP padahal ia bersama BAR Honda tampak kompetitif sebagai pesaing Michael Schumacher dan Ferrari dan justru pada tahun 2005 ia baru berhasil memenangi GP pertamanya di Hungaria dan tahun ini bersama Brawn, kembali Jenson mengulangi yang terjadi pada Mansell, mendominasi- setidaknya pada enam GP pertama ini- dan semoga JB bersama Brawn akan tetap terus mendominasi panggung F1 dan berhasil mengulangi sukses Mansell meraih gelar dunia pertamanya tapi kuharap tak seperti Mansell yang hanya sekali meraih gelar dunia, semoga JB bisa meraih – mungkin tiga atau empat gelar dunia, menyamai rekor Prost, jika rekor Schumi dan Fangio sulit ditandingi. Meski dulu, aku sudah cukup puas bila melihat JB berhasil sekali saja juara dunia tapi manusia kan tak pernah puas terlebih melihat betapa luarbiasanya penampilan Jenson pada awal musim ini. Dan kurasa Jenson pun takkan berpuas diri dengan hanya merebut satu kali gelar saja. Namun berapa kalipun Jenson berhasil merebut gelar dunianya, setidaknya Jenson berhasil membuktikan bakat dan skill-nya yang pernah diragukan selama ini.

Sedikit menoleh ke belakang. Kehadiran Jenson bersama Williams memang sempat mendapat pujian terlebih Jenson merupakan bintang muda berbakat dari Inggris yang diharapkan dapat terus melanjutkan jejak-jejak pendahulunya, pembalap-pembalap berbakat dari Inggris yang berhasil meraih gelar juara dunia. Golden Boy sempat ditempelkan padanya, tapi toh kemudaannya membuat Frank Williams meminjamkan Jenson ke Renault yang dulu masih bernama Benetton – demi mengasah skill dan bakat Jenson, sebagai pengganti Jenson, Frank merekrut pemuda Kolombia, Juan Pablo Montoya yang kini telah sakit hati pada F1 dan sekarang merasa nyaman membalap di IndyCar (kalau tak salah) bersama tim Galaxy (kalau tak salah juga).

Seiring waktu, publik mulai lelah menanti keberhasilan Jenson (mungkin) yang tak jua dapat menampilkan apa yang diharapkan. Montoya yang menggantikannya bahkan berhasil memberikan kemenangan bagi tim Sir Frank ini, sementara Jenson masih belum bisa berbicara banyak di kancah F1.

Buntutnya, Flavio akhirnya mendepak Jenson demi memberikan tempat bagi anak asuhnya, Alonso (yang sempat dititipkan Flavio di Minardi untuk meningkatkan skill balapnya). Bukan Alonso yang dipermasalahkan publik ketika Flavio tega menendang Jenson tapi Trulli. Dibanding Trulli, prestasi Jenson jauh lebih bagus dan statistik mengatakan bahwa Jenson seringkali jauh lebih cepat dibanding Trulli tapi Flavio yang lebih suka posisi anak-anak asuhnya (selain sebagai bos tim Benetton, Flavio juga menjadi manager Trulli dan Alonso) aman jadi meskipun Jenson jauh lebih cepat, ia lebih memilih melepas bintang muda berbakat ini dan mempertahankan Jarno Trulli untuk disandingkan dengan anak asuhnya yang lain, Fernando Alonso.

David Richards-lah yang bisa melihat potensi dari seorang Jenson Button. Pada bulan-bulan akhir 2002, Richards merekrut Jenson ke tim BAR Honda yang kala itu merupakan tim besar yang sangat potensial tapi sepertinya kehilangan arah dan tujuan(Craig Pollock, manager Jacques Villeneuve -anak pembalap legendaris F1, Gilles Villeneuve yang tewas secara tragis saat grand prix- yang berhasil menarik dua perusahaan tobacco terbesar Inggris dan Amerika, BAT ke panggung F1 dan mendirikan tim British American Racing ini, tapi seiring keberadaannya di f1, BAR malah jadi tak menentu dan entah apa yang salah dengan tim yang sempat dianggap sebagai kompetitor berat peraih gelar dunia terlebih Jacques Villenueve hengkang ke tim baru ini setelah ia berhasil merebut gelar dunianya pada tahun 1997 bersama Williams (setelah Schumi didiskualifikasi sehingga meski poin yang diperolehnya sama dengan JV, namun Schumi harus rela melihat gelar dunia direbut anak muda Kanada ini). Awalnya JV berharap BAR bisa menjadi timnya seperti Ferrari yang sudah seperti tim Michael Schumacher, tapi yang terjadi selanjutnya, keadaan di BAR malah sangat kacau sehingga tak menghasilkan prestasi berarti. Dan Jenson akan mengisi kursi balap di BAR Honda pada musim 2003 bersama juara dunia satu kali asal Kanada ini.

Kala merekrut JB di akhir tahun 2002, Richards mengatakan bahwa Jenson memiliki potensi untuk menjadi juara dunia empat tahun mendatang. Ya, memang agak meleset sedikit, tapi setidaknya ramalan Richards akan terjawab pada musim ini melihat penampilan spektakuler Jenson sepanjang musim F1 yang masih berjalan ini.

Sayangnya, meski JB tampil luar biasa bersama BAR Honda di bawah asuhan David Richards, sang penyelamat yang menariknya dari lembah ketidakpastian di Benetton-Renault, namun di penghujung musim 2004, Jenson terlibat masalah Buttongate I yang membuat David Richards akhirnya hengkang dari BAR Honda dan sepeninggal Richards, semua kesuksesan di musim 2004 seolah ikut terbang bersama David Richards.

Tapi semua itu sekarang merupakan masa lalu. Dan bukankah pengalaman adalah guru yang baik? Sepertinya Jenson telah berhasil memetik pelajaran dari pengalamannya di masa silam. Gaya membalapnya yang lembut seringkali menimbulkan pemikiran skeptis pada beberapa orang bahwa Jenson terlalu lembek dan takut menyalip pembalap di depannya tapi sebenarnya semua itu telah dipatahkan oleh Jenson jauh sebelum tahun ini.

GP Jerman 2004 yang bagiku merupakan balapan terbaik Jenson (setelah menulis pojok sore edisi sebelumnya, aku terus dihantui rasa penasaran di mana tepatnya JB berhasil menyalip Alonso dengan satu tangan sementara tangan lainnya memegangi tali helm. Dan setelah aku mengubek-ngubek data-data lama akhirnya berhasil pula kutemukan tentang GP Jerman 2004 ini).

Aku selalu ingat ketika di pit terakhir JB di GP Jerman 2004, ia keluar dan hampir bersamaan dengan Alonso yang tengah menggeber Renault-nya sejajar dengannya tapi karena tali pengikat helm Jenson longgar dan akibatnya membuat leher Jenson tercekik saat di garis lurus. Jenson pun harus pasrah karena kalah tarung dengan Alonso, ia lebih memilih mengatasi tali helmnya dulu (daripada berhasil menyalip Alonso tapi kemudian mati tercekik? He…he…he....) Tapi Jenson tak kenal menyerah. Ia kembali mencoba pada lap-lap berikutnya, Jenson berusaha menyalip Alonso saat keluar dari hairpin. Gagal lagi. Namun akhirnya usaha Jenson membuahkan hasil. Dengan satu tangan sibuk menarik tali helmnya ketika terasa mencekik lehernya, ia menyalip Alonso, dan kali ini berhasil. Podium kedua pun berhasil direbutnya dari tangan Fernando Alonso (yang membuatnya terdepak dari Renault) hanya dengan satu tangan! (Entah bagaimana raut wajah Flavio kala itu).

Seharusnya apa yang terjadi di GP Jerman 2004 itu mampu membungkam orang-orang yang selalu mempertanyakan kemampuan Jenson menyalip. Memang saat itu Jenson belum berhasil memenangi GP pertamanya meski menjadi penantang serius Ferrari yang tampil dominan musim itu. Tapi semua kan hanya masalah waktu.

Dan mungkin tahun ini merupakan waktunya bagi Jenson Button. Sebuah penantian panjang dari seorang pemuda dari Inggris yang pernah menjadi harapan publik Inggris tapi harapannya itu nyaris pupus beberapa tahun lalu bahkan rekan sebangsanya dari McLaren yang berhasil merebut gelar dunia yang diimpikannya itu dan pernah diramalkan oleh mantan bosnya akan berhasil direbutnya beberapa tahun yang lalu.

Mungkin karena ketenangan Jenson dalam membalap dan sikap Jenson yang humoris membuat orang berpikir ia tak serius sehingga tak banyak yang bisa melihat potensi dalam dirinya. Tapi sama seperti Sir Frank Williams dan David Richards, sepertinya Ross Brawn yang selama ini dikenal sebagai otak keberhasilan Michael Schumacher baik ketika di Renault dan Ferrari (sampai-sampai ketika Schumi pension dan Brawn cuti setahun dari F1, Brawn berkata bahwa ia tak bisa membayangkan apakah ia bisa bekerjasama dengan pembalap lain selain Michael Schumacher) dan Jenson Button merupakan pembalap yang ditangani Brawn selepas ia berpisah dengan Schumi (Rubens Barrichello, rekan JB di Brawn sudah lebih dulu mengenal Ross Brawn, mantan technical director-nya di Ferrari). Dan mungkin di antara tiga petinggi tim yang pernah bekerjasama dengan Jenson, sepertinya Ross Brawn-lah yang bisa mengeluarkan segenap potensi yang pernah dilihat Sir Frank dan David Richards pada diri seorang Jenson Button.

Sedikit catatan dari GP Monaco kemarin. Lucu juga sebenarnya melihat Jenson Button merayakan kemenangannya dengan berlari menuju podium (sepertinya ia tengah mengingatkan mengenai lomba triathlon yang diikutinya beberapa minggu lalu). Sedikit catatan lain, sepertinya John Button, ayah Jenson Button yang tak pernah absen menyaksikan GP putra tercintanya ini, selalu mengenakan kemeja pink setiap kali hadir, ya? Entah apakah John Button juga sama humorisnya seperti Jenson, anaknya, tapi rasanya lucu melihat ayah Jenson selalu memakai kemeja pink (memangnya tak ada kemeja lain, ya? Kalau kata sahabatku, mungkin John Button suka menonton film Korea seperti adikku. Bukankah kebanyakan pemeran pria di film Korea suka mengenakan kemeja pink? He… he… he….)

Apapun warna kemeja ayahnya, semoga karir Jenson tak se-mello pilihan warna kemeja ayahnya...

Tidak ada komentar: