Total Tayangan Laman

Translate

Rabu, 13 Mei 2009

Strategi Sempurna Membuahkan Hasil yang Sempurna




Sebagai sebuah ajang balap jet darat paling bergengsi di dunia, sebutan itu memang tak salah dilekatkan pada formula one. Sebagai sebuah ajang balap mobil, kecepatan, mobil yang mumpuni, dan skill pembalap saja tak cukup.

Masih ada strategi yang sempurna mendampingi semua hal tersebut. Tak tak jarang strategi yang matang dan sempurna menghasilkan hasil yang optimal. Ingat strategi empat stop Michael Schumacher pada GP Perancis 2006 yang luar biasa dan sukses mengantar Michael menjadi pembalap F1 yang berhasil menjuarai GP Perancis terbanyak (8 kali, sebuah rekor baru yang dibukukannya sebelum pensiun)?

GP Spanyol kemarin juga telah memperlihatkan betapa strategi merupakan salah satu faktor penting dalam f1 untuk meraih hasil sempurna. Dengan kata lain, dalam f1 otak pun berperan selain skill pembalap dan mesin mobil yang sempurna. Dan semua faktor itu harus terangkum menjadi satu karena strategi segemilang apapun jika tak didukung faktor lainnya maka hasilnya tetap tak seperti yang diharapkan. Meski melakukan strategi empat kali stop dan sekalipun Ferrari-nya sangat tangguh namun jika skill membalap Michael hanya di tingkat rata-rata, mungkin strategi empat kali pit Michael malah akan menjadi dagelan di paddock f1.

Balapan di GP Spanyol kemarin pun kembali para pecinta dunia formula one disuguhi tontonan yang super menarik sejak babak qualifying.

Sepanjang sesi qualifying kejutan-kejutan terus terjadi. Kimi Raikkonen yang membela Ferrari sejak tahun 2007 untuk pertama kalinya tak mampu bicara banyak dan ia gagal membuat catatan waktu yang cukup untuk mengantarnya ke sesi kedua qualifying.

Kejutan pun terus terjadi pada sesi akhir qualifying. Pergantian posisi pole terus terjadi bahkan hingga di sesi akhir qualifikasi, para pembalap terus memacu tunggangannya hingga batas akhir demi mencapai catatan waktu yang sempurna untuk mengantar mereka menjadi yang terdepan saat race.

Jenson Button yang di dua sesi qualifying membuat catatan waktu yang lebih buruk dibanding Rubens Barrichello menutup sesi akhir qualifikasi dengan mencatatkan waktu tercepat mengalahkan rekan setimnya itu dan Sebastian Vettel, kuda hitam dari tim Red Bull. Meski hasil itu dikarenakan ia menggunakan bahan bakar bakar yang jauh lebih sedikit dibanding yang lain dan kemungkinan ia dan Rubens harus melakukan tiga kali stop saat balapan nanti. Tapi setidaknya Brawn sudah menjawab keraguan atas kemampuan Brawn GP melanjutkan kesuksesannya di daratan Eropa seperti pada empat balapan sebelumnya di daratan Asia (Malaysia & Shanghai, RRC), Timur Tengah (Bahrain), dan Australia (Melbourne).

Balapan dibuka dengan insiden yang melibatkan Jarno Trulli, duo Sebastian dari Torro Rosso, Bourdais danBuemi serta Adrian Sutil dari Force India yang meski memakai mesin Mercedez seperti McLaren dan Brawn tapi masih belum bisa memetik tuah dari power mesin Mercedez seperti yang dialami Brawn. Hasilnya, keempat pembalap itu harus mengakhiri balapan ketika balapan itu baru dimulai.

Sementara itu, Jenson Button yang memimpin start disalip oleh rekan setimnya, Rubens Barrichello. Tapi balapan masih panjang. Jenson, si Mr. Smooth, tetap tenang dan tak mengalihkan tatapannya pada rekan setimnya itu.

Seperti ban mobil formula one yang berputar, perlahan keadaan pun mulai berbalik. Jenson yang semula akan melakukan tiga kali pit seperti Rubens mengubahnya menjadi dua kali pit sementara Rubens tetap pada rencana semula, melakukan tiga kali pit. Sekarang tinggal melihat taktik mana yang jauh lebih berhasil. Dan ternyata hasilnya kita semua telah tahu, Jenson berhasil merebut kemenangan kelimanya sepanjang karirnya (empat kali untuk tahun ini). Terbukti di formula one, membalap bukan hanya sekadar menyetir dan mengelilingi sirkuit puluhan kali tapi juga membutuhkan strategi sempurna yang artinya melibatkan otak.

Contoh lain adalah Vettel. Sepanjang balapan, ia tak terlalu jauh dari podium sementara Mark Webber, rekannya sepertinya kesulitan untuk mendapat posisi yang lebih baik. Tapi setelah Mark melakukan pit stop terakhirnya semua berubah. Webber yang sepanjang balapan tak terlalu terlihat spektakuler malah berhasil merebut podium ketiga sementara Vettel hanya bisa menatapnya dengan frustasi setelah lama tertahan di belakang Ferrari-nya Felipe Massa, dan baru pada lap-lap akhir ia berhasil lepas dari Massa dan langsung melesat kencang, tapi waktunya tetap tak cukup. Seandainya saja jumlah lap-nya ditambah bukan tak mungkin Vettel akan berhasil mengejar Webber dan merebut podium ketiga itu tapi balapan sudah usai dan ia terpaksa harus puas dengan tambahan lima poin setelah berhasih finish di urutan empat, di belakang Webber.

Sepertinya GP Spanyol memang senantiasa memberikan kenangan manis bagi Jenson Button. Tahun lalu pun saat Honda tak terlalu bagus, Jenson mampu memberikan tiga point pertama untuk tim Honda dengan finish di p6.

Lima tahun lalu ketika Jenson yang baru saja didepak Briatore dari Benetton-Renault demi memberi tempat bagi Alonso yang dimanagerinya itu tapi bersama BAR Honda, ia mampu membuat berdebar Ferrari dengan menjadi satu-satunya kompetitor terberat Ferrari dan menempel ketat Ferrari di perolehan point konstruktor.

Aku lupa tepatnya di mana apakah di GP Spanyol atau GP Imola 2004, tapi yang tak bisa kulupakan adalah aksi Jenson yang harus menyetir dengan sebelah tangan karena tangan yang lainnya digunakannya untuk memegangi tali helmnya yang mengalami masalah dan menyebabkan lehernya tercekik oleh tali helmnya itu. Yang luar biasa kala itu meski Jenson tak mampu mengalahkan Michael Schumacher yang sangat n tahun itu dengan F2004-nya, tapi Jenson berhasil menyingkirkan Fernando Alonso dengan hanya satu tangan. Dan Briatore, mantan bosnya di Renault hanya bisa mengerutkan keningnya melihat pembalap kesayangannya dikalahkan oleh pembalap yang telah didepaknya. Dan bagiku itulah balapan terbaik Jenson! Itulah ketika dunia melihat seorang juara dunia baru sesungguhnya telah hadir hanya waktu saja yang kelak akan membuktikannya.

Formula one memang tak bisa lepas dari hitung-hitungan matematika yang rumit dan serumit itu pula dalam menebak apa yang terjadi kemudian. Pada musim 2004 Button dengan tim BAR Honda menjadi kompetitor Ferrari dalam merebut gelar tapi justru pada musim itu Button tak memenangi satu GP pun dan justru pada tahun berikutnya di GP Hungaria 2005, barulah Jenson berhasil merasakan manisnya champagne pertamanya saat Honda-nya tak berhasil membuat mata publik pecinta F1 terbelalak seperti pada tahun sebelumnya.

Antony Davidson boleh mengatakan GP Bahrain kemarin merupakan balapan terbaik Jenson tapi bagiku balapan terbaik Jenson adalah ketika ia mengalahkan Alonso dengan satu tangan itu yang memperlihatkan kualitas seorang Jenson Button yang baru dibuktikan lima tahun kemudian. Semoga saja JB bisa mereguk hasil yang manis di akhir musim nanti dengan menjadi juara dunia. Hopefully. Go for it, Jense!

Tidak ada komentar: