Total Tayangan Laman

Translate

Senin, 04 Januari 2010

BMW-Sauber

BMW-Sauber : 36 poin.

pic taken from here

Sejak pecah kongsi dengan Williams dan BMW memutuskan untuk mendirikan tim sendiri sehingga membeli tim Peter Sauber ini, penampilan tim pabrikan mobil besar asal Jerman ini sebenarnya sudah sangat menjanjikan untuk menjadi calon kuat juara dunia meski perebutan gelar juara dunia dua tahun terakhir masih berkutat antara dua tim besar, Ferrari dan Mclaren, tapi BMW merupakan kuda hitam yang mampu membalikkan keadaan terlebih fasilitas wind tunnel bekas milik Sauber sempat digembar-gemborkan sebagai yang terbaik. Namun, sayangnya tahun ini jangankan sebagai penantang serius gelar dunha, bahkan kehadiran BMW di F1 pun terancam berakhir. Entah karena keputusan BMW yang sempat menyatakan akan mundur dari F1 sehingga penampilan tim asuhan Mario Theissen ini tak sebaik pada tahun-tahun sebelumnya. Meski begitu, setidaknya mereka sempat dua kali merasakan podium ke-2. Di Malaysia ketika balapan dihentikan, Heidfeld tengah berada di tempat kedua. Dan di Brazil, giliran Robert Kubica yang berhasil memberikan podium kedua bagi tim.

Seperti Toyota yang masuk ke F1 demi ambisi menyaingi prestasi Honda yang pernah mengecap sebagai juara dunia begitu pula dengan BMW yang ingin turut merasakan kesuksesan Daimler Chrysller yang kehadirannya di F1 diwakili oleh Mercedes. Namun seperti Toyota, nasib pabrikan besar asal Jerman ini pun tak terlalu berhasil meraih gelar dunia yang diharapkan. Beberapa kali, BMW nyaris menjadi juara dunia ketika masih bergabung bersama Williams. Sayangnya bila BMW memutuskan mengambil langkah yang sama dengan Toyota karena meski tahun ini merupakan sukses besar Mercedes, bukan tidak mungkin, suatu saat nanti BMW pun mampu menyamai prestasi Mercedes terlebih brand BMW tak kalah dengan Mercedes.

13. Nick Heidfeld : 19 poin

pic taken from here

Penampilan pembalap binaan Mercedes ini sebenarnya tidak buruk tapi juga tak terlalu bersinar. Ketika Kimi Raikkonen memulai debutnya bersama Sauber, sebenarnya Heidfeld jauh lebih kencang dari anak baru asal Finlandia itu tapi publisitas Kimi yang memulai debutnya dengan super license dari FIA membuat Heidfeld yang pendiam terbenam, alih-alih  merekrut pembalap binaannya ini sebagai pengganti Mika Hakkinen, McLaren Mercedes malah mengontrak team matenya yang dijuluki The Iceman oleh Ron Dennis, sang bos tim.
Dan ketika ia mendapat tandem baru dari Polandia, penampilan rekan setimnya itu lebih menjadi sorotan terlebih ketika team matenya ini merebut podium. Sementara ketika Heidfeld meraih podium, publisitas yang diterimanya terkesan biasa saja. Malang memang nasib pembalap yang pendiam ini. Mungkin karena sifatnya yang pendiam membuat media tak terlalu memperhatikannya. Tahun ini seiring dengan memburuknya performa timnya, penampilan Heidfeld tahun ini pun tak terlalu memuaskan. Hasil terbaiknya di GP Malaysia ketika ia berhasil meraih P2 dan di Belgia ia sukses meraih P3 di sesi kualifikasi namun sayangnya di race posisinya melorot dan ia pun harus puas finish di P5 di belakang rekan setimnya.

Mungkin yang bisa diingat dari Heidfeld tahun ini adalah ketika di GP Brazil, ia terpaksa mengakhiri lomba karena kehabisan bahan bakar.

Kesabaran Heidfeld hampir terbayarkan ketika Jenson Button memastikan diri bergabung dengan McLaren Mercedes, tim Brawn GP yang telah berganti nama menjadi Mercedes GP, nama anak binaan Mercedes ini  sempat menjadi bahan pertimbangan dan berada dalam list pembalap tim juara dunia 2009 ini untuk membela tim ini di musim 2010 bersanding dengan pembalap muda Jerman lainnya, Nico Rosberg. Namun di penghujung akhir tahun, Mercedes mengalihkan perhatiannya pada juara dunia tujuh kali, Michael Schumacher. Tentu saja, dibanding Heidfeld, Schumi yang sebenarnya juga merupakan pembalap binaan Mercedes tapi tim pabrikan Jerman itu kecolongan ketika Ferrari yang lebih dulu merekrutnya dan menikmati tahun-tahun keemasan mereka, Schumi yang lebih berpengalaman dan merupakan tandem sejati Ross Brawn bisa jadi merupakan kunci kesuksesan bagi Brawn GP yang kini menjadi Mercedes GP itu mempertahankan gelar juara mereka. Dan Heidfeld sepertinya masih harus bekerja lebih keras lagi untuk membuktikan baik pada Mercedes maupun pada tim lainnya akan kemampuannya. Karena memang pembuktian diri yang dibutuhkan Nick untuk bertahan di F1. Heidfeld memang telah membuktikan diri sebagai seorang yang sedikit bicara dan banyak bekerja alias talk less do more, seperti slogan salah satu iklan rokok tapi sepertinya hal itu pun belum cukup untuk membuat tim-tim papan atas meliriknya, jadi ya do more more deh, alias kerja keras lebih giat lagi....

14. Robert Kubica : 17 poin.

pic taken from here

Tak ada yang menyangsikan kekencangan pembalap asal Polandia ini. Namun seperti Heidfeld, tahun ini penampilannya merosot drastis dibanding tahun sebelumnya karena pengembangan timnya yang tak sesuai harapan. Tahun lalu Kubica merupakan salah satu kompetitor dalam meraih gelar dunia sementara tahun ini ia harus bergelut dengan mobilnya yang buruk, bahkan hingga GP Monaco ia masih belum berhasil meraih poin hingga di GP Turki akhirnya ia berhasil memecahkan kebuntuan dengan finish di P7.

Penampilannya yang pasang surut musim ini mencapai puncaknya di GP Brazil saat ia berhasil finish di P2 di belakang Webber sementara rekan setimnya yang harus mengakhiri balapan karena kehabisan bahan bakar.

Tahun 2010 mungkin masih belum ada kepastian bagi Kubica, tapi jujur saja, kuharap Kubica mendapatkan tim yang jauh lebih baik yang dapat menggali potensi yang dimilikinya.

Tidak ada komentar: