Total Tayangan Laman

Translate

Senin, 04 Januari 2010

For My Best Friend...


Sedih yang kurasa ketika jagoanku, Michael Schumacher mengumumkan pensiunnya dari dunia F1 di ujung akhir tahun 2006 tak disangka kini dialami oleh sahabatku yang kehilangan minatnya menyimak kembali gempita F1 tahun ini setelah pembalap favoritnya, Kimi Raikkonen tak lagi menghias grid F1. Namun saat itu aku masih memiliki idola yang lain Jenson Button meski aku tetap merasa F1 bagiku takkan pernah sama setelah Schumi pergi, tapi setelah dua tahun ternyata Schumi tak tahan juga menyepi dari hingarnya derum mobil F1 sehingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke belakang setir kali bergabung dengan tim yang dibentuk oleh sahabatnya, Ross Brawn.

Berbeda dengan sahabatku yang tak memiliki lagi idola setelah peluang Jacques Villeneuve, yang juga merupakan idolanya itu, untuk bergabung dengan Lotus tertutup, praktis ia merasa tak ada lagi alasan baginya untuk menonton F1.

Selama ini ada banyak hal yang bisa kubagi bersama sahabatku itu. Meski dalam hal pembalap jagoan kami berbeda dan kerap kali kami saling bersilang kata dan tak jarang pula membuat persahabatan kami terkadang jadi dingin ketika kami saling bertengkar hanya karena sebuah ucapan meledek tentang salah satu pembalap jagoan kami. Setitik kata yang semula hanya merupakan lelucon bagi salah satu dari kami tapi ternyata telah melukai pihak lainnya. Lucu memang, bagaimana kami saling bertengkar hanya karena sebuah berita mengenai Schumi ataupun Kimi. Seringkali aku lah yang tak bisa mengerem lidahku untuk meledek Kimi meski sahabatku itu telah berusaha untuk menutupi kegembiraannya ketika pembalap pujaannya bergabung dengan Ferarri sementara Schumi tersingkir hanya untuk menjaga perasaanku.

Setelah Schumi pensiun, aku sempat bersumpah dengan diriku untuk tidak mau lagi membiarkan diriku mengidolakan seseorang seperti aku mengidolakan Schumi. Yang telah membuatku begitu gembira luar biasa ketika ia memenangi sebuah balapan tapi ketika ia kalah, aku merasa jauh lebih sedih darinya. Dan ketika ia pensiun, aku merasa seolah separuh jiwaku ikut terbang, seperti lagunya Anang. Terlalu berlebihan? Entahlah, mungkin inilah yang disebut fans sinting. Tapi bagiku, ketika aku mengidolakan Schumi, aku hanya merasa Schumi seperti memberikanku kekuatan untuk meyakini kekuatanku dalam meraih sebuah mimpi meski mimpi itu terkesan mustahil. Schumi dengan segala daya pesonanya yang mengerahkan segenap kemampuannya di sirkuit seperti telah menyihirku untuk tak kenal menyerah dalam meraih mimpiku sendiri. Jadi tak heran ketika Schumi pensiun, aku merasa seperti kehilangan api yang telah memberikanku cahaya dalam melewati lorong-lorong gelap kebimbanganku dalam meraih impianku. Begitu pula mungkin seorang Kimi Raikkonen bagi sahabatku itu.

Aku sendiri berharap semoga saja sahabatku itu bisa menemukan kembali semangatnya dalam menonton F1. Karena bagiku kemudian, F1 tak ubahnya seperti langit malam bertabur bintang. Sesekali ada bintang yang bercahaya terang tapi di malam berikutnya mungkin bintang lain yang akan bersinar. Kuharap pada akhirnya ada salah satu bintang yang berhasil membuat sahabatku kembali menemukan kecintaan dan semangatnya pada F1.


Aku berterima kasih sekali dengan award yang diberikan sahabatku ini, tapi aku akan lebih berbahagia lagi bila ia bisa menemukan aura kecintaannya pada F1 sehingga kami bisa saling bertukar cerita lagi atau mungkin bisa saling bertengkar lagi ketika salah satu dari kami menyinggung jagoan masing-masing.

Menonton F1 tanpa Schumi memang berbeda tapi ternyata menonton F1 tanpa teriakan temanku ketika jagoannya kalah ataupun menang pastinya akan membuatku jadi kesepian. Jadi, kuharap sahabatku itu bisa menemukan jagoan baru sehingga acara menonton F1 ku bisa kembali semarak sesemarak deru mobil F1 itu sendiri

Tidak ada komentar: