Total Tayangan Laman

Translate

Kamis, 14 Januari 2010

England, Home of Formula 1


Pic taken from here

Aku tak tahu dengan ajang motorsport lainnya, tapi untuk F1 kurasa Inggris adalah rumah bagi F1. Ada beberapa alasan yang membuat aku mentahbiskan Inggris sebagai rumah bagi Formula One. Pertama, meski keberadaan GP Inggris selalu terancam tapi berdasarkan fakta yang ada, dari sekian banyak tim-tim yang berlaga di Formula 1, kebanyakan tim memilih Inggris sebagai base camp mereka. Terbukti dari 10 tim yang berlaga di musim balap 2009 kemarin, enam di antaranya memilih Inggris sebagai markas mereka.

Kedua, dari segi sumber manusianya. Kebanyakan keberhasilan tim-tim besar bersumber dari otak arsitek-arsitek teknik berkebangsaan Inggris. Sebut saja Ross Brawn, Adrian Newey, Mike Gascoyne, dan Christian Horner, semuanya adalah putra-putra Inggris. Dan masih ada juga si tua Patrick Head, mitra sejati Sir Frank dari Williams, maha guru yang telah melahirkan technical-technical director jenius seperti Newey dan Brawn.

Selain itu, dari segi pembalap, Inggris memberikan sumbangan pembalap terbanyak bagi F1. Entah berapa banyak pembalap Inggris yang pernah berlaga di F1 tapi tercatat ada 49 pembalap Inggris yang berhasil mencatatkan poin dan menorehkan nama mereka dalam sejarah F1 dan jika kuderetkan nama-nama tersebut rasanya takkan cukup waktu dan tempat untuk kuungkap semuanya.

Hebatnya, dari 31 pembalap yang berhasil menjadi juara dunia F1, sepuluh di antaranya adalah pembalap-pembalap Inggris.

Jika Inggris begitu tangguh di dunia sepakbola dan berhasil menjuarai ajang piala dunia sebanyak, enam kali (kalau tak salah), tapi di F1 hanya ada tiga pembalap Brazil yang berhasil meraih gelar juara dunia. Mereka adalah Emerson Fitipaldi yang sukses merebut dua kali gelar dunia (1972 & 1974). Kemudian ada Nelson Piquet dengan tiga kali gelar dunia (1981, 1983, dan 1987). Terakhir adalah pembalap yang paling banyak dibicarakan oleh publik selain Michael Schumacher, Ayrton Senna yang sebelum menemui ajalnya di Imola telah berhasil mengoleksi tiga gelar dunia yang diraihnya pada tahun 1988, 1990, & 1991).

Finlandia yang terkenal dengan pembalap-pembalap rally-nya juga sukses menempatkan tiga pembalapnya menjadi juara dunia melalui Keke Rosberg (1982), Mika Hakkinen (1998 & 1999), dan Kimi Raikkonen (2007).

Sementara Italia yang memiliki tim sekelas Ferrari namun hanya ada dua pembalap asal negara Pizza ini yang sukses menjadi juara dunia yaitu, Giuseppe Farina yang menjadi juara dunia F1 pertama di tahun 1950 dan Alberto Ascarai yang sukses meraih dua kali gelar dunia pada tahun 1952 dan 1953.

Australia, Amerika, dan Austria pun hanya mampu mencatatkan dua pembalapnya yang sukses menjadi juara dunia F1. Austria lewat Jack Brabham (1959, 1960, & 1966) dan Alan Jones (1980). Sementara Phill Hill yang meraih gelarnya di tahun 1961 dan Mario Andretti pada tahun 1978 merupakan dua pembalap Amerika yang sukses menaklukkan dunia F1 meski kita mengenal nama seorang lagi pembalap F1 yang sangat hebat dari Amerika bernama Dan Gurney, tapi sayangnya Gurney tak pernah berhasil meraih gelar dunia.

Austria yang sirkuit A1 ring-nya merupakan salah satu agenda dalam kalender F1 dan sirkuit itu pula yang konon merupakan sirkuit yang paling sulit ditaklukkan oleh Michael Schumacher, berhasil mencatat sejarah dalam dunia F1 lewat Jochen Rindt yang merupakan satu-satunya pembalap F1 yang meraih gelar dunianya dalam keadaan telah wafat. Rindt yang tewas akibat kecelakaan ternyata tak mampu menghalanginya meraih gelar dunianya pada tahun 1970, ironis memang, tapi selamanya nama Rindt kiranya tetap abadi bersama kisah-kisah pembalap-pembalap heroik F1 lainnya.  Setelah era Rindt, Austria kembali memiliki lokal hero lewat Niki Lauda yang pernah mengalami kecelakaan cukup serius di mana mobilnya terbakar dan hampir saja merenggut nyawanya tapi tak membaut keberanian pembalap yang kini terkenal dengan topi parmalat-nya itu kendur, terbukti ia berhasil meraih gelar dunia tiga kali yaitu pada tahun 1975, 1977, dan 1984, tahun di mana ia kembali ke panggung F1 bersama McLaren setelah mengambil cuti dari F1 dan ternyata sukses meraih gelar ketiganya di tahun pertama come back-nya ke ajang F1.

Canada yang pernah berharap banyak pada Gilles Villeneuve tapi sayangnya pembalap Ferrari yang melegenda itu harus mati muda akibat kecelakaan di Zolder. Harapan Canada kembali tumbuh ketika putra Gilles mengikuti jejak ayahnya. Jacques Villeneuve lah yang akhirnya berhasil mewujudkan mimpi ayahnya sekaligus negaranya dengan menjadi satu-satunya juara dunia asal negeri yang terkenal dengan daun maple di benderanya itu. Jacques sukses meraih gelar dunianya bersama Williams pada tahun 1997.

Jody Scheckter yang merupakan rekan setim Gilles di Ferrari di mana Gilles turut berperan membantu mengantar pembalap Afrika Selatan ini menjadi juara dunia pada tahun 1979 merupakan satu-satunya pembalap Afrika Selatan yang mampu berbicara banyak di ajang F1 karena setelahnya tak ada lagi pembalap Afrika Selatan yang mampu memperlihatkan kemampuan seperti dirinya.

Begitu pula rupanya dengan Fernando Alonso yang sukses menjadi satu-satunya pembalap Spanyol yang berhasil meraih 2 gelar dunia sekaligus mematahkan dominasi Michael Schumacher dan Ferrari pada tahun 2005 dan 2006. Alonso pula yang membuat publik Spanyol yang semula hanya menggandrungi ajang motosport kini mulai mencintai ajang F1.

Lain halnya dengan Perancis yang menjadi cikal bakal ajang motorsport dan F1. Perancis tercatat memiliki banyak pembalap hebat seperti Alain Prost, Rene Arnoux, Jacques Laffite, Patrick Depailler, Tambay, Pironi, Jean Alesi, Francois Cevert, Jean-Pierre Beltois, ah, kalau disebutkan semua rasanya akan berjejer nama-nama pembalap hebat asal Perancis yang pernah menghias dunia F1 tapi ternyata hanya ada satu nama pembalap Perancis yang sukses merajai F1 yaitu "The Professor" Alain Prost yang sukses meraih empat gelar dunia pada tahun 1985, 1986, 1989, dan 1993, tahun terakhirnya di F1 setelah Williams, tim tempat bernaungnya dan meraih gelar terakhirnya mengumumkan telah mengontrak Ayrton Senna, pesaing sekaligus orang yang terdekat dengannya. Padahal karena tersiksa dengan keberadaan Senna, Prost akhirnya bergabung dengan Williams tapi ternyata Sir Frank malah merekrut pesaingnya yang telah membuatnya tersiksa selama berada di McLaren. Keputusan Sir Frank merekrut Senna itu pulalah yang membuat Prost akhirnya mengumumkan pensiun dininya dari F1 dan membawa kenangan manis dengan merebut gelar terakhirnya di musim terakhirnya di F1.

Dua pembalap paling sukses di F1, Juan Manuel Fangio merupakan pembalap F1 tersukses dengan 5 gelar dunia yang hampir mustahil terpatahkan sebelum seorang pembalap muda asal Jerman akhirnya muncul dan bukan hanya sukses mencatat banyak rekor tapi juga berhasil mematahkan rekor gelar dunia Fangio. Namun kesuksesan Fangio meraih lima gelar dunia di masa-masa awal ajang F1 di mana standar keselamatannya masih jauh dan kecelakaan yang berujung maut masih merupakan momok yang mengerikan perlu mendapat kredit. Dan hanya lewat Juan Manuel Fangio lah Argentina berhasil mencatatkan sejarah di F1 karena memang hanya Fangio lah satu-satunya pembalap Argentina yang sukses meraih gelar dunia bahkan sampai lima kali pada tahun 1951, 1954, 1955, 1956, dan 1957.

Terakhir, The Numero Uno asal Jerman, Michael Schumacher yang berhasil mematahkan banyak rekor termasuk rekor gelar dunia milik Fangio. Memang ada beberapa pembalap hebat Jerman lainnya seperti Wolfgang von Trips tapi ternyata hanya Michael Schumacher yang mampu mengangkat nama Jerman di kancah F1. Dan kesuksesan Schumi menyabet 7 gelar dunia (1994 & 1995 bersama Benetton dan 200-2005 bersama Ferrari) ternyata membawa dampak pada pembalap-pembalap muda Jerman untuk mengukir prestasi di kancah F1, terbukti untuk musim 2009 saja tercatat dari dua puluh lima pembalap yang sempat mengisi grid F1, enam di antaranya merupakan pembalap Jerman. Meski begitu, baru Schumi seorang yang sukses mengantar Jerman ke puncak tertinggi di ajang F1. Namun dengan berlimpahnya pembalap-pembalap berbakat Jerman yang mengisi grid F1 bukannya tak mungkin akan muncul penerus Schumi berikutnya. Kira-kira siapa yang akan menyusul kesuksesan Schumi ya? Vettel? Ataukah duo Niko? Niko Hulkenberg yang sukses menjuarai A1 GP dan dimanajeri oleh orang yang sama dengan Schumi ataukah Niko Rosberg, putra juara dunia, Keke Rosberg yang di musim 2010 adkan menjadi tandem sang maestro ini? Waktu kiranya yang akan menjawab semuanya....

Tidak ada komentar: