Total Tayangan Laman

Translate

Senin, 14 Maret 2011

The Irony Named Heidfeld

Nick Heidfeld sebenarnya bukanlah nama baru di dunia F1. Debut balap F1-nya telah dimulai sejak tahun 2000 di GP Australia bersama Prost, tim F1 asuhan juara dunia F1 empat kali, Alain Prost. Saat itu Heidfeld bersanding dengan pebalap kawakan asal Perancis, Jean Alesi. 

Setahun bersama Prost, pebalap Jerman kelahiran Monchengladbach pada 10 Mei 1977 ini langsung dipinang oleh Sauber pada tahun 2001. Kala itu ia dipasangkan dengan rookie asal Finlandia, Kimi Raikkonen. Sedihnya, meski Heidfeld berhasil mengalahkan rekan setimnya itu, bahkan di tahun itu ia sukses meraih podium pertamanya kala ia berhasil finish ke-3 di belakang David Coulthard (McLaren) dan Michael Schumacher (Ferrari), namun nama pebalap Finlandia itu yang justru lebih meroket dibanding pebalap Jerman yang terkenal pendiam ini.

Heidfeld hanya bisa menyimpan perasaan kecewa dalam hatinya ketika McLaren memilih rekan setimnya itu menggantikan Mika Hakkinen yang memutuskan cuti dari F1 dan setahun kemudian memilih mengundurkan diri dari F1, sementara Heidfeld tetap bertahan di Sauber. Padahal Heidfeld bukanlah orang baru bagi McLaren. Sebelum memulai debut balapnya bersama Prost, Heidfeld telah lebih dulu mengenal F1 lewat McLaren ketika ia menjadi test driver tim asuhan Ron Dennis ini pada tahun 1998.

Tahun 2002 Heidfeld mendapatkan tandem baru, rookie asal Brazil bernama Felipe Massa. Sekali lagi Heidfeld tampil lebih cemerlang dibanding rekan setimnya. Namun lagi-lagi ia harus tersenyum getir ketika sebuah tim besar lainnya, Ferrari justru lebih melirik rekan setimnya itu dan bahkan menyandingkan pebalap Brazil ini dengan juara dunia tujuh kali, Michael Schumacher menggantikan seniornya yang juga asal Brazil, Rubens Barrichello.

Setelah menjalani masa-masa pahit manis bersama Sauber selama tiga tahun, Nick malah terjerembab ke tim papan bawah sementara mantan-mantan rekan setimnya tampil solid bersama tim-tim papan atas. Pada tahun 2004 ia bergabung bersama Jordan sebagai pertukaran dengan Fisichella dan ditandemkan dengan Giorgio Pantano. Sayangnya penampilan Nick di timnya Eddie Jordan yang flamboyan ini tak terlalu mengesankan. Ia mengalami masa yang sulit dengan EJ14-nya. Ia bahkan dikalahkan oleh rekan setimnya yang baru, Timo Glock di GP Kanada yang juga merupakan debut F1 Glock. Nick hanya mampu mengumpulkan tiga poin saja sepanjang musim itu.

Meski mengalami musim yang buruk dengan Jordan, namun petinggi Williams-BMW terpesona dengannya hingga pebalap Jerman ini pun dipinang menjadi pebalap utama mereka pada tahun 2005. Bersama tim asuhan Frank Williams ini Nick berhasil meraih pole pertamanya di Nurburgring dan sukses finish ke-2 di GP Monaco. Namun akibat kecelakaan yang dialaminya saat melakukan uji coba maka ia terpaksa absen di dua race yaitu di Monza dan Belgia. Ia diperkirakan bisa membalap lagi di Brazil namun ia kembali mengalami kecelakaan, kali ini saat ia mengendarai motornya, akibatnya ia harus absen di sisa balapan musim itu.

Walau begitu di musim 2005 itu Nick beberapa kali berhasil meraih podium. Di Sepang, Malaysia, Nick kembali menambah koleksi trophy-nya saat ia berhasil finish ke-3 di belakang Alonso dan Trulli. Di Monaco dan Nurburgring ia pun sukses meraih podium ke-2. Bahkan di Nurburgring, Heidfeld berhasil mencatat sejarah bagi dirinya sendiri dengan meraih pole pertamanya.

Tahun 2006 Nick kembali bergabung bersama Sauber namun kali ini Sauber memiliki mitra yang lebih kuat, BMW. Pabrikan asal Jerman ini memilih membeli Sauber setelah terjadi ketidaksepahaman dengan mitra lamanya, Williams. Pada pertengahan musim 2006 Nick kembali disandingkan dengan seorang rookie yang kali ini berasal dari Polandia yaitu Robert Kubica yang memulai debut F1-nya di GP Hungaria menggantikan Jacques Villeneuve yang mengalami kecelakaan di GP Jerman. 

Seperti yang sudah-sudah Nick yang pendiam tak terlalu menarik minat pers meski sebenarnya di tahun itu ia berhasil memberikan podium pertama bagi tim baru BMW-Sauber setelah ia berhasil finish ketiga di Hungaroring di belakang Jenson Button dan Pedro de la Rosa namun di akhir musim 2006 Nick harus menghadapi kenyataan bahwa poin rekan setimnya ternyata jauh lebih banyak darinya. 

Pada tahun 2007 Nick sukses merebut podium dua kali. Di Montreal, Kanada, ayah tiga anak ini berhasil meraih podium kedua di antara Lewis Hamilton (McLaren) dan Alex Wurz (Williams-Toyota) sementara di Hungaria untuk keempat kalinya ia menyabet podium ke-3 kali ini di belakang Hamilton dan Kimi Raikkonen, mantan rekan setimnya yang kala itu sudah berlabuh di Ferrari bersama mantan rekan setim Heidfeld yang lainnya, Felipe Massa.

Tahun 2008 mungkin merupakan musim paling cemerlang bagi Heidfeld. Di tahun ini ia mencatat fastest lap pertamanya di Malaysia dan ia kembali berhasil mencatat fastest lap di hadapan publik senegaranya di Hockenheim, Jerman yang ditorehkannya di lap 52 dengan 1:15.987 meski di dua race ini ia tak berhasil meraih podium.

Nick hampir saja meraih kemenangan pertamanya di Montreal, Kanada tapi rupanya nasib baik lebih berpihak pada rekan setimnya, Kubica di mana saat itu Kubica menerima durian runtuh akibat perseteruan panas antara Hamilton dan Raikkonen dan saat di pit pebalap Inggris itu tanpa sengaja menabrak Ferrari-nya Raikkonen akibatnya keduanya pun terpaksa tak bisa melanjutkan lomba dan memberikan jalan bagi Kubica meraih kemenangan pertamanya sementara Heidfeld mendampingi rekan setimnya di podium kedua. Di Belgia ganti Heidfeld yang mendapat durian runtuh dari Hamilton setelah anak asuh Ron Dennis ini terkena penalti 25 detik akibat insiden di tikungan terakhir dengan Raikkonen sehingga mengakibatkan Hamilton terpaksa menyerahkan trophy kemenangannya kepada Massa yang semula finish kedua namun berkat penalti Hamilton naik satu posisi ke urutan pertama sementara Heidfeld yang semula berada di urutan finish ketiga pun naik satu peringkat ke posisi dua. 

Sementara karir Kubica makin bersinar, pijar Heidfeld yang sempat dijuluki media dengan sebutan “Quick Nick” ini malah makin meredup. Tahun lalu ia tak mendapatkan kursi balap setelah Mercedes yang merupakan peluang terakhirnya mengumumkan juara dunia tujuh kali asal Jerman, Michael Schumacher yang akan menjadi ujung tombak mereka didampingi oleh rekan senegaranya, Nico Rosberg sementara Heidfeld semula diproyeksikan sebagai pebalap ketiga tim pabrikan asal Jerman ini namun belakangan Mercedes akhirnya merelakannya menjadi test driver Pirelli, pabrikan ban yang akan memasok ban bagi tim-tim F1 musim 2011 ini.

Di penghujung musim 2011 yang lalu akhirnya Heidfeld bisa kembali turun balapan setelah tim lamanya, Sauber patah arang dengan penampilan Pedro de la Rosa sehingga Heidfeld pun didaulat untuk kembali ke tim lamanya ini menggantikan pebalap asal Spanyol itu di lima race yang tersisa. Hasilnya cukup mengesankan. Dari lima race yang dijalaninya itu, ia berhasil mengumpulkan 6 poin, jumlah yang sama yang dikumpulkan oleh de la Rosa yang menjalani 14 race, Sembilan race lebih banyak dari yang dijalani Heidfeld.

Sedihnya meskipun penampilan Heidfeld di lima race terakhir musim lalu cukup baik namun hal itu tak serta merta menjaminnya memperoleh kursi balap untuk musim 2011 ini. Ia nyaris tak bisa turun balapan lagi karena tak ada tim yang bersedia memakai bakatnya hingga terjadilah kecelakaan parah yang menimpa Robert Kubica, mantan rekan setim Heidfeld. 

Akibat cedera parah yang diderita Kubica di ajang Rally disinyalir pebalap Polandia ini terpaksa harus absen membalap di musim 2011 ini meski belakangan seiring dengan keberhasilan operasi yang dijalani Kubica terbetik kabar bahwa kemungkinan pemulihan Kubica bisa jauh lebih cepat dari yang diperkirakan namun dengan makin dekatnya race pertama musim 2011 yang akan dimulai di Australia maka Renault pun harus segera mencari pengganti Kubica sebagai pebalap utama mereka dan pilihan itupun akhirnya jatuh ke tangan Heidfeld. 

Uniknya nama Heidfeld ini justru diajukan oleh Kubica sendiri kepada Gerard Lopez, pemilik baru tim Renault seperti yang diungkapkan oleh Eric Boullier, bos tim Renault. Kabarnya ketika Kubica ditanya oleh Lopez mengenai siapa yang kira-kira pantas menggantikannya, pebalap Polandia ini menyebutkan dua nama. Nick Heidfeld dan Vitantonio Liuzzi. Meski sempat melirik beberapa nama seperti Bruno Senna (test driver Renault), Liuzzi, dan Nico Hulkenberg namun pilihan Renault akhirnya jatuh ke Nick Heidfeld.

Tes pertama Heidfeld bersama Renault amat mengesankan pihak tim pabrikan Perancis ini. Boullier sendiri mengungkapkan ia sudah terkesan dengan pebalap Jerman ini sejak kedatangannya di tes pertamanya bersama Renault. “When he was testing at Jerez, I was listening on the radio and the way he was talking to the engineers. He was right there (settled in the team). I was already half convinced that morning.” Di hari pertamanya bersama Renault itu Heidfeld berhasil mencatat waktu tercepat sehingga akhirnya pada tanggal 16 Pebruari 2011 Renault secara resmi menetapkan Nick Heidfeld sebagai pebalap utama mereka untuk musim 2011 ini menggantikan Robert Kubica yang masih dalam proses pemulihan akibat kecelakaan parah yang dialaminya pada awal Pebruari silam.

Setelah bertahun-tahun Heidfeld harus terus-menerus menelan kegetiran kala menyaksikan tim-tim besar lebih memilih rekan setimnya maka tahun ini adalah saatnya Heidfeld membuktikan kemampuan dirinya. Dalam wawancaranya dengan media pada 23 Pebruari silam, Heidfeld sendiri mengungkapkan bahwa keputusannya untuk menerima tawaran Renault menggantikan mantan rekan setimnya yang terluka parah merupakan kesempatan yang terlalu bagus untuk dilepaskan. Dan mungkin saja kesempatan ini hanya datang sekali seumur hidup.

Meski begitu Heidfeld mengaku sebelum menerima tawaran Renault ini ia sampai harus berperang batin atau menurut istilahnya melakukan pencarian jiwa – “intensive soul searching.” Terlebih ia sadar bahwa tawaran Renault ini hanyalah sebagai pengganti Robert Kubica selama mantan rekan setimnya ini masih dalam kondisi pemulihan akibat kecelakaan yang dialaminya. Heidfeld mengaku bahwa ia mungkin telah melakukan “pencarian jiwa” yang lebih dalam dibanding yang mungkin dilakukan pebalap lainnya. Namun akhirnya ia tak bisa menolak hasratnya untuk kembali membalap. “… the biggest sensation is that I did not expect to race this year,” kata Heidfeld dalam wawancaranya dengan situs resmi F1. Meski ia sadar bahwa yang dialaminya ini bukanlah situasi yang mudah namun ia merasa harus mengambil kesempatan ini. “In my long years in F1 I have made my own experiences. I only started to believe that I am in again when the ink on the contract had dried. Sure, I felt happy because it was so unexpected.”

Walaupun akhirnya Heidfeld resmi bergabung dengan Renault menggantikan posisi Robert Kubica namun Heidfeld mengungkapkan harapannya agar Robert Kubica bisa segera pulih. 

Kini dengan tersisa hanya beberapa minggu saja sebelum race pertama dimulai di Melbourne, Australia maka jalan hidup Heidfeld sepenuhnya bergantung pada dirinya sendiri. Apakah ia akan terus menjadi ironi dalam sejarah F1 di mana ia selalu harus kalah dari bayang-bayang rekan setimnya –seorang mantan rekan setimnya bahkan sudah sukses menorehkan sejarah menjadi juara dunia F1 sementara dua mantan rekan setimnya yang lain sempat menjadi penantang serius perebut gelar dunia sedangkan Heidfeld sendiri hingga saat ini belum menjadi ancaman serius dalam perebutan gelar dunia – ataukah tahun ini akan menjadi awal kesuksesan Heidfeld.

Sekadar catatan kecil, Heidfeld telah menjalani 174 balapan F1 tanpa sekalipun meraih kemenangan dan mungkin saja ia bisa mencatat sejarah manis bagi karirnya sendiri itu di tahun ini. Namun semuanya itu lagi-lagi bergantung pada diri Heidfeld sendiri. Akankah Heidfeld kembali menjelma sebagai Quick Nick yang sempat fenomenal itu ataukah harus terus menyandang julukan yang dilabeli oleh media dari negaranya sendiri, Jerman yang menyebutnya “Leidfeld” yang mana Leid artinya dalam bahasa Inggris “misery” atau dalam bahasa Indonesia memiliki makna menyedihkan atau sengsara. 

sumber gambar dari: espn f1

Tidak ada komentar: