Total Tayangan Laman

Translate

Kamis, 24 Maret 2011

Agatha Christie = Sang Ratu Cerita Misteri

Bagi yang suka membaca cerita-cerita detektif pastinya tak asing dengan nama Agatha Christie sang pencipta tokoh detektif jenius, Hercule Poirot, yang kecerdasannya setara dengan Sherlock Holmes, detektif kondang ciptaan Sir Arthur Conan Doyle. Seperti Holmes yang dalam melakukan penyelidikannya amat memperhatikan setiap detil betapapun itu terkesan remeh, begitu pula dengan Poirot. Kesamaan lainnya dari kedua tokoh detektif ini adalah keduanya memiliki seorang sahabat yang kerap dihubunginya lewat surat dan keduanya acap kali memanggil sahabat mereka dalam surat dengan sebutan kesayangan dalam bahasa Perancis, "Ma Cherie." Yang paling kuingat dari kata-kata Hercule Poirot adalah: "Gunakanlah sel-sel kelabu (maksudnya otak)-mu yang kecil."

Selain Poirot tokoh detektif terkenal lainnya karya rekaan Agatha Christie adalah Miss Jane Marple, seorang wanita tua yang seperti Poirot dan Holmes memiliki kejeniusan dalam mengungkap kasus pembunuhan yang paling pelik sekalipun berkat ketelitian dan kejeliannya dalam mengumpulkan setiap fakta dan detil yang paling remeh sekalipun yang bisa mengantarkannya menuju si pelaku.

Dalam cerita-cerita misteri karangan Agatha Christie ini meski ia selalu memaparkan setiap fakta dan detil yang bisa mengantarkan pembacanya kepada si pelaku pembunuhan tapi karena begitu rumitnya pemaparan Christie kerap para pembaca malah kecele dengan akhir ceritanya dan tak jarang pula salah menebak pelaku pembunuhannya.

Kehidupan Agatha Christie secara pribadi pun sebenarnya tak kalah peliknya dengan kisah-kisah misteri fiktif rekaannya. 

Agatha Christie terlahir dengan nama Agatha Mary Clarissa Miller pada tanggal 15 September 1890 di Torquay, Devon, Inggris. Ibunya, Clarissa Margaret Boehmer merupakan putri dari Kapten Angkatan Bersenjata Inggris tapi saat ia masih kecil ia dikirim untuk tinggal bersama saudara kandung ibunya yang merupakan istri kedua dari seorang Amerika yang kaya raya. Margaret kemudian menikah dengan Frederick Alvah Miller yang merupakan putra ayah tirinya sendiri dari pernikahan pertamanya. Frederick adalah seorang pialang saham Amerika.

Agatha sendiri merupakan bungsu dari tiga bersaudara. Kakaknya yang tertua bernama Margaret Frary Miller (1879-1950) atau yang kerap dipanggil Madge berusia 11 tahun lebih tua dari Agatha sementara kakak kedua Agatha bernama Louis Montant Miller (1880-1929) yang memiliki nama panggilan Monty ini 10 tahun lebih tua dari Agatha. Dalam sebuah autobiografi-nya, Agatha menyebut kakak laki-lakinya ini sebagai "anak nakal yang ramah."

Saat Perang Dunia kedua, Agatha ikut sebagai tenaga sukarelawan dan menjadi perawat. Agatha sendiri amat menyukai profesi barunya ini. Agatha kemudian dipekerjakan di bagian farmasi di rumah sakit University College di London. Di sinilah Agatha mempelajari berbagai macam jenis racun yang kerap digunakannya sebagai alat pembunuhan dalam kisah-kisah fiktifnya seperti thallium yang diperkenalkan padanya oleh Kepala Bagian Farmasi, Harold Davies (belakangan ia diangkat menjadi Kepala Farmasi di Kementerian Kesehatan Inggris). Dalam sebuah novelnya yang berjudul The Pale Horse (terbit pada 1961), di situ Agatha menuliskan sejumlah petunjuk atas kematian korban fiktifnya. Salah satu petunjuknya adalah si korban mengalami kebotakan. Ia menggambarkannya sedemikian akurat yang mana hal ini merupakan deskripsi atas dampak dari racun thallium.

Pada malam natal 1914 Agatha menikah dengan Kolonel Archibald Christie, seorang pilot di Royal Flying Corps. Namun meski mereka telah dianugrahi seorang putri, Rosalind Hicks yang dilahirkan Agatha pada tahun 1919, sayangnya pernikahan mereka akhirnya harus berakhir dengan perceraian pada tahun 1928 karena suami Agatha berselingkuh.

Dua tahun sebelum perceraiannya, Agatha mendapati suaminya memiliki affair dengan wanita lain. Salah satu karya fiksi misteri-nya yang berjudul The Mysterious Affair at Styles terbit pada tahun 1920 saat ia masih bersama suami pertamanya ini. Selama pernikahannya dengan Christie ini Agatha telah menerbitkan 6 novel, sebuah koleksi cerita pendek dan beberapa cerita pendek di majalah.

Pada tahun 1926 suami Agatha mengatakan pada Agatha bahwa ia mencintai wanita lain bernama Nancy Neele dan ia ingin bercerai dengan Agatha. Tentu saja hal ini membuat Agatha amat terluka. Pada bulan Desember 1926 pasangan ini pun akhirnya memutuskan berpisah namun belum bercerai. Archie meninggalkan rumah mereka, Styles di Sunningdale, Berkshire dan memilih tinggal bersama selingkuhannya di Godalming, Surrey. 

Sorenya setelah suaminya memutuskan pergi meninggalkannya dan memilih bersama kekasih gelapnya, Agatha menghilang dari rumahnya dan hanya meninggalkan secarik surat pada sekretarisnya yang isinya mengatakan bahwa ia pergi ke Yorkshire. Tentu saja berita menghilangnya Agatha ini menyebabkan kesedihan di kalangan para penggemarnya terlebih Agatha tak berhasil ditemukan di mana-mana dan telah menghilang selama 11 hari.

Pencarian besar-besaran pun dilakukan dan pada tanggal 19 Desember 1926 Agatha ditemukan menginap di Hotel Swan Hydropathic (kini bernama The Old Swan Hotel) di Harogate, Yorkshire namun ia mendaftar dengan nama Mrs. Teresa Neele dari Cape Town. Kabarnya saat itu Agatha mengalami hilang ingatan yang diakibatkan oleh perpisahan dengan suaminya sehingga menimbulkan depresi berat atas Agatha karena tekanan emosional bertubi-tubi yang dialaminya. Sebelum pengakuan perselingkuhan suaminya yang kemudian memilih meninggalkan Agatha, setahun sebelum itu Agatha pun mengalami kesedihan akibat kematian ibunya sehingga hal ini ditengarai memicu beban psikologi yang amat berat bagi Agatha.

Namun sebagian publik bereaksi negatif atas insiden menghilangnya Agatha ini dan tak sedikit yang meyakini bahwa Agatha sengaja menghilang untuk membuat polisi menganggap bahwa ia dibunuh oleh suaminya. Hal ini makin diperkuat oleh Jared Cade yang menuliskan berita lenyapnya Agatha Christie dan berdasarkan hasil wawancaranya dengan sejumlah saksi ia menemukan bukti bahwa Agatha memang telah berencana menghilangkan dirinya sendiri untuk mempermalukan suaminya namun Agatha tak pernah mengira bahwa hal itu bisa menciptakan melodrama yang sampai sedemikian besarnya.

Usai pernikahan pertamanya yang tak bahagia dan terpaksa kandas, Agatha akhirnya kembali menemukan cintanya pada seorang arkeolog bernama Max Mallowan. Mereka menikah pada tahun 1930 setelah Agatha bergabung dalam sebuah ekspedisi penggalian situs arkeologi bersama Max. Perjalanan arkeologi yang dialaminya bersama Max kerap menjadi latar belakang beberapa setting lokasi untuk novel-novel Agatha yang mengambil tempat di daerah Timur Tengah seperti salah satu novelnya yang berjudul Murder on the Orient Express yang diterbitkan pada tahun 1934 ini ditulis Agatha di kamar hotelnya di Hotel Pera Palace di Istanbul, Turki. 

Selain itu Agatha pun pernah menulis novel yang berjudul And Then There Were None yang mengambil setting lokasi di sekitar Torquay, tempat di mana Agatha dilahirkan. Lokasi yang juga kerap digunakan Agatha sebagai setting novelnya adalah Abney Hall di Cheshire. Abney Hall sebenarnya merupakan rumah milik ipar Agatha, James Watts namun Agatha sering tinggal di sini dan kabarnya Agatha sangat menyukai tempat ini sehingga rumah ini menjadi inspirasi terbesarnya untuk cerita mengenai kehidupan di daerah pedesaan dengan para pelayan dan tukang kebun yang kerap dimasukkannya ke dalam plot ceritanya. Setidaknya ada dua novelnya yang berdasarkan lokasi di Abney Hall yaitu sebuah cerpen berjudul The Adventure of the Christmas Pudding dan sebuah novel berjudul After The Funeral

Beberapa novelnya yang lain pun memiliki deskripsi Abney dalam berbagai bentuk seperti cerobong asap atau bebatuan gerbang dalam berbagai novel-novel misteri Agatha lainnya. 

Max Mallowan, suami kedua Agatha mendapatkan gelar kebangsawanan atas hasil kerja arkeologinya pada tahun 1968. Tiga tahun kemudian Agatha pun menerima gelar kebangsawanan dari Kerajaan Inggris sehingga menjadikan pasangan ini salah satu dari sedikit sekali pasangan menikah yang mana keduanya menerima gelar kebangsawanan. Agatha pun resmi menyandang gelar Lady Agatha Mallowan walaupun sebenarnya sejak tahun 1968 ketika suaminya, Sir Max Mallowan mendapat gelar kebangsawanan maka sejak itu Agatha juga kerap dipanggil dengan gelar Lady Mallowan.

Pada tahun 1971 kesehatan Agatha makin menurun namun ia tetap melanjutkan menulis. Pada tahun 1975 Agatha mulai menyadari kondisinya yang semakin lemah sehingga Agatha pun menulis wasiat yang isinya menyerahkan hak cipta atas karya dramanya yang paling sukses, The Mousetrap kepada cucunya. Belakangan peneliti dari Kanada menyimpulkan bahwa Agatha kemungkinan saat itu mulai menderita Alzheimer atau kemunduran ingatan. 

Pada tanggal 12 Januari 1976 Agatha menghembuskan nafas terakhirnya di Wallington, Oxfordshire, Inggris. Selain menulis novel-novel misteri, Agatha juga menulis beberapa kisah roman namun dengan menggunakan nama samaran Mary Westmacott. 

Novel-novel misteri Agatha Christie kabarnya telah diterjemahkan ke dalam 103 bahasa. Tokoh Hercule Poirot sendiri diperkenalkan Agatha Christrie pada publik pertama kali lewat novelnya yang diterbitkan pada tahun 1920 berjudul The Mysterious Affair at Styles (Pembunuhan di Styles). Sementara tokoh Miss Jane Marple pertama kali diperkenalkan Agatha pada tahun 1930 dalam novelnya yang berjudul The Murder at The Vicarage (Pembunuhan di Wisma Pendeta) namun sebelumnya Agatha sudah memunculkan tokoh Miss Jane Marple ini dalam cerpennya yang berjudul The Tuesday Night Club pada tahun 1927. Tokoh ini ditulisnya berdasarkan wanita-wanita tua seperti nenek Agatha dan teman-teman neneknya.

Tidak ada komentar: