Total Tayangan Laman

Translate

Selasa, 22 Maret 2011

Three Musketeers of Cosworth

Balapan perdana musim 2011 sudah akan kembali bergulir minggu depan di Melbourne, Australia. Semua tim F1 kini telah mulai kembali bersiap dengan padatnya rutinitas F1 sepanjang tahun ini setelah menjalani liburan musim dingin. Meski awalnya aku agak enggan menyelesaikan review F1 2010 yang telah kumulai sejak bulan lalu, namun atas desakan sahabatku, akhirnya kuselesaikan juga review 2010 yang tinggal menyisakan tiga tim konsumen Cosworth. Kupikir memang tak adil bila aku tak menyelesaikan review 2010 yang telah kumulai itu tanpa menuliskan mengenai tiga tim papan bawah pengguna mesin Cosworth ini. 


Lotus - Cosworth

 gbr dipinjam dari situs ini


Jarno Trulli (Italia)
Heikki Kovalainen (Finlandia)

Setelah dua pabrikan besar Jepang, Honda dan Toyota memutuskan mundur dari F1 yang kemudian diikuti oleh pabrikan Jerman, BMW akibat krisis ekonomi yang melanda dunia, menimbulkan kekhawatiran akan menyusutnya jumlah grid F1 sehingga FIA pun memperlunak aturan pembentukan tim baru untuk membuat grid F1 tetap semarak. Hasilnya beberapa tim baru pun bersemangat masuk ke F1 namun hanya tiga tim papan bawah ini yang akhirnya benar-benar turun menyemarakan F1 mulai tahun 2010 lalu dan ketiganya mendapatkan pasokan mesin dari Cosworth.

Musketeer Cosworth yang pertama adalah Lotus. Nama Lotus sebenarnya memang bukanlah hal baru di F1. Sebelumnya Lotus identik sekali dengan Colin Chapman, engineer jenius yang membawa banyak sekali perubahan radikal di F1. Kesuksesan Chapman dan Lotus yang telah mengoleksi tujuh gelar dunia konstruktor dan enam gelar dunia untuk pebalap mulai menyurut setelah Chapman meninggal dunia pada tahun 1982 akibat serangan jantung. Lotus yang sempat merajai jagat F1 pada tahun 1960an dan 1970an akhirnya tim besar ini pun mengundurkan diri dari F1 setelah mengalami kehancuran dan kekacauan pada tahun 1994. Namun prestasi gemilang Lotus dan Chapman tetap menjadi catatan manis dalam sejarah F1.

Tahun 2010 lalu tim Lotus akhirnya kembali meramaikan jagat balap F1 dengan sokongan dari Malaysia. Untuk penampilan perdana kembalinya Lotus ke F1, tim ini mempercayakan dua pebalap F1 yang sudah cukup lama malang melintang di dunia jet darat ini.

Jarno Trulli, pebalap Italia yang sejak meraih kemenangan pertama sekaligus satu-satunya pada GP Monaco 2005 bersama Renault ini belum lagi mendapatkan tawaran dari tim-tim besar dan lebih banyak berjibaku dengan tim-tim papan bawah. Tahun lalu Trulli dipercaya Lotus sebagai pebalap utama mereka. Namun sayangnya penampilan Lotus yang didukung mesin Cosworth ini seringkali membuat pebalap Italia ini patah arang. Di musim 2010 lalu terbilang 9 kali Trulli mengalami kegagalan mekanik, di antaranya lima kali Trulli didera masalah hidrolik yang membuatnya terpaksa mengakhiri balapannya lebih awal. Di Bahrain, race pembuka musim balap 2010 Trulli dihadang masalah hidrolik padahal balapan hanya tersisa tiga lap lagi. Begitu pun di Abu Dhabi, ia harus mengalami masalah dengan rear wing-nya menjelang race berakhir. Selain gangguan hidrolik, Lotus-Cosworth Trulli juga mengalami dua kali masalah gearbox yakni di GP Jerman dan Italia, negaranya sendiri sehingga membuatnya tak bisa melanjutkan balapan. Sedangkan di Kanada, Trulli harus mengakhiri balapannya akibat mengalami kendala dengan rem-nya. Sementara di Australia, balapan Trulli harus terhenti karena mengalami kecelakaan saat start.

Hampir serupa dengan Trulli, penampilan pebalap Finlandia, Heikki Kovalainen pun tak terlalu cemerlang di tahun lalu. Meski ia tak mengalami gangguan mekanik sebanyak Trulli namun Lotus-Cosworth-nya belum juga mampu memperlihatkan bakat Heikki yang sebelum memulai debutnya di F1 sempat mencengangkan publik berkat aksinya di ajang balap para juara dunia di berbagai bidang olahraga otomotif di mana saat itu ia berhasil mengalahkan sang juara dunia tujuh kali, Michael Schumacher. Namun sejak memulai debutnya di F1, Heikki belum juga memperlihatkan aksi sespektakuler seperti penampilannya di ajang Race of Champions itu.

Di tahun 2010 Heikki kembali mengalami salah satu musim yang sulit dalam sejarah karirnya di F1. Sama seperti Trulli, ia tak berhasil memberikan satu poin pun untuk tim barunya ini. Seperti Trulli, beberapa kali Kovalainen pun harus mengalami kegagalan mekanikal meski tak sebanyak seperti yang dialami oleh Trulli.

Pebalap Finlandia ini tercatat hanya sekali mengalami gangguan hidrolik yaitu di GP Turki sehingga membuat balapannya terhenti di lap 33. Di dua race sebelum GP Turki pun pebalap Finlandia ini tak bisa menyelesaikan balapannya. Di Barcelona, Spanyol, balapannya harus terhenti saat start baru saja dimulai akibat masalah gearbox. Sementara di Monaco ia terpaksa retire di lap 58 akibat masalah steering.

Di samping kendala mekanikal, beberapa kecelakaan yang dialami pebalap Finlandia ini pun membuat balapannya terpaksa terhenti lebih awal seperti di Malaysia, dan insidennya dengan Webber di GP Eropa pun juga telah mengandaskan balapannya.

Tim Lotus sempat menjadi perbincangan sehubungan dengan masalah hukum yang dihadapi tim ini sehubungan dengan hak cipta atas nama Lotus ini. Untungnya masalah hukum ini bisa terselesaikan sebelum musim balap dimulai. Namun beberapa hari lalu kembali mencuat persoalan ketika David Hunt, yang telah membeli tim ini pada Oktober 1994 dan mengantongi hak atas kepemilikan nama Lotus ini kembali mempersoalkan mengenai hak atas nama Lotus ini. Bagi para penggemar Chapman dan Lotus tentunya sedih rasanya melihat Lotus belum lagi memperlihatkan kejayaannya seperti di era Chapman tapi sudah harus terbelit masalah hukum yang tak jelas seperti ini. Namun Lotus sepertinya bisa sedikit bernafas lega setelah pabrikan asal Perancis, Renault kini menjadi penyokong tim ini sehingga di musim 2011 ini mereka berubah nama menjadi Lotus-Renault. Untuk musim 2011 ini Jarno Trulli dan Heikki Kovalainen masih dipercaya sebagai pebalap utama mereka. 

Virgin-Cosworth
gbr dipinjam dari situs ini

Timo Glock (Jerman)
Lucas di Grassi (Brazil)

Setelah sebelumnya Virgin sempat menjajal dunia F1 lewat Brawn GP pada tahun 2009 silam, kini sang bos, Richard Branson, pengusaha sukses asal Inggris ini memilih untuk membentuk tim baru dengan label Virgin, seperti nama perusahaannya. Berbeda dengan Lotus yang memilih dua pebalap berpengalaman di F1 maka tim Virgin memilih kombinasi antara pebalap berpengalaman yang disandingkan dengan pebalap baru.

Timo Glock, pebalap Jerman yang sudah cukup berpengalaman di F1 dipercaya Virgin sebagai pebalap utama mereka mendampingi seorang rookie asal Italia, Lucas di Grassi. Meski kombinasi kedua pebalap ini belum mampu mengantarkan Virgin sebagai tim yang patut diperhitungkan namun hal itu tentunya bisa dimaklumi.

Sama seperti Trulli, balapan Glock pun kerap didera masalah mekanikal. Sembilan kali ia gagal menyelesaikan lomba dan semuanya dikarenakan masalah mekanikal dan bukan karena kesalahannya sendiri. Sementara di Grassi pada debut F1 nya ini pun enam kali dihadang mechanical failure yang membuat balapanya terpaksa berakhir. Selain masalah mekanikal pebalap Brazil ini pun mengalami dua kali kecelakaan yang membuat balapannya berakhir lebih cepat. Di Suzuka, Jepang, bahkan Grassi tak sempat start. Di sesi kualifikasi menjelang GP Jerman, di Grassi pun tak sempat menorehkan catatan waktu sehingga membuatnya harus memulai balapan dari grid paling buncit namun balapannya harus terhenti di lap 50 akibat masalah suspensi.

Posisi start terbaik Glock untuk musim 2010 lalu adalah start dari grid 16 di GP Malaysia namun saat race ia hanya bertahan selama 2 lap saja sebelum akhirnya retired akibat melintir. Sedangkan posisi finish terbaik Glock tahun lalu adalah finish ke-14 di GP Jepang. Sementara untuk di Grassi, posisi start terbaiknya tahun lalu adalah start dari grid 20 di Singapura dan saat race ia berhasil finish ke-15 sementara rekan setimnya, Glock terpaksa mengakhiri balapannya di lap 49 akibat gangguan hidrolik. Sedangkan posisi finish terbaik untuk Lucas di Grassi pada tahun lalu adalah finish di urutan ke-14 di Sepang, Malaysia.

Untuk musim 2011 ini Timo Glock masih dipercaya tim Virgin sebagai pebalap utama mereka sedangkan Lucas di Grassi digantikan oleh seorang rookie, Jerome d'Ambrosio.

Hispania Racing Team (HRT)
gbr dipinjam dari situs ini

Bruno Senna (Brazil)
Karun Chandhok (India)
Sakon Yamamoto (Jepang)
Christian Klien (Austria)

Berbeda dengan Lotus dan Virgin yang tetap mempertahankan kedua pebalap mereka sejak awal hingga akhir musim, tim HRT berkali-kali melakukan bongkar pasang pebalap sejak pertengahan hingga akhir musim. Di awal musim tim ini mempercayakan Bruno Senna yang juga merupakan keponakan dari pebalap legendaris F1, Ayrton Senna. Ia ditandemkan dengan Karun Chandhok, pebalap asal India. Namun pada pertengahan hingga akhir musim dua pebalap lain, Sakon Yamamoto dan Christian Klien mulai dimasukkan untuk dibongkar pasang dengan Senna dan Chandhok.

Meski menyandang nama besar Senna namun karena performa HRT-Cosworth penampilan Bruno Senna pun masih belum secemerlang pamannya yang sempat mengoleksi tiga gelar dunia F1 sebelum menemui ajalnya di San Marino pada tahun 1994. Namun di antara empat pebalap HRT pada tahun 2010 lalu ini Senna menjalani balapan yang jauh lebih banyak dibanding tiga rekannya yang lain. Dari total sembilan belas race di tahun lalu, Senna hanya sekali absen yaitu di GP Inggris di mana tempatnya digantikan oleh Sakon Yamamoto.

Mengingat HRT di musim pertama mereka di F1 ini kerap hanya menempatkan kedua pebalap mereka di posisi juru kunci maka posisi terbaik Senna hanyalah di urutan start ke-20 yang didapatnya di Belgia namun saat race ia hanya mampu bertahan selama lima lap sebelum akhirnya balapannya harus terhenti akibat masalah suspensi. Posisi finish terbaik Senna tahun lalu adalah di GP Korea di mana ia finish ke-14. Sementara di Suzuka, Jepang, Senna juga mengakhiri balapannya dengan cukup baik. Ia berhasil finish ke-14 sementara Yamamoto, sang local hero Jepang finish ke-16. Balapan Senna sendiri di debut F1-nya ini lebih banyak didera masalah mekanikal. Gangguan hidrolik tiga kali membuatnya terpaksa retired yaitu di GP Australia, Monaco, dan Italia. Di Bahrain balapannya terhenti di lap 17 akibat kegagalan mesin sedangkan di Kanada, balapannya terhenti di lap 17 akibat kegagalan mesin sedangkan di Kanada, balapannya berakhir di lap 13 akibat gangguan gearbox. GP Turki dan Belgia pun bukanlah balapan terbaiknya. Di Monaco ia harus retired di lap 46 akibat gangguan fuel pressure sementara kendala suspensi mengakhiri balapannya di Belgia saat balapan baru menjalani lima putaran.

Setelah sebelumnya F1 sempat dimeriahkan oleh penampilan pebalap India, Narain Kartikeyan, tahun lalu seorang pebalap India lain, Karun Chandhok pun mencatatkan namanya dalam sejarah F1. Namun dari total 19 race yang digelar musim lalu, Chandhok hanya membalap sebanyak 10 race saja hingga di GP Inggris. Pada race selanjutnya di Jerman, tempatnya digantikan oleh Sakon Yamamoto. Posisi start terbaik Chandhok sendiri pada tahun lalu adalah start dari grid 22 di Malaysia dan saat race ia berhasil finish di urutan ke-15 di depan rekan setimnya, Bruno Senna yang finish ke-16. Sementara posisi finish terbaik pebalap India ini adalah di Australia dan Monaco di mana ia berhasil finish di urutan ke-14.

Sakon Yamamoto memang bukanlah rookie di F1 namun berbeda dengan Takuma Sato yang sempat mencicipi podium, Yamamoto kerap terdampar di tim-tim yang tak terlalu bagus sehingga ia tak bisa mengikuti jejak pendahulunya, Sato dan Aguri Suzuki, pebalap kawakan Jepang yang sempat mendirikan tim F1 dengan namanya sendiri ini tapi sayangnya tak bisa bertahan lama akibat masalah finansial.

Tahun lalu Yamamoto kembali ke F1 menggantikan posisi Bruno Senna di GP Inggris. Walaupun ia hanya mampu finish di urutan ke-20 namun ia tetap dipertahankan di race selanjutnya di Nurburgring, Jerman, kal ini ia menggantikan posisi Chandhok, sayangnya balapannya terpaksa terhenti di lap 19 akibat gangguan mekanikal. Hingga akhir musim ia kerap bertukar dengan Christian Klien. Yamamoto sendiri hanya menjalankan tujuh balapan saja dan posisi finish terbaiknya adalah di GP Korea di mana ia berhasil finish ke-15 di belakang Senna yang finish ke-14.
Nama Christian Klien yang memulai debut F1-nya bersama Jaguar ini sempat mengobrak-abrik tim asal Inggris itu ketika ia menabrakan mobilnya di sirkuit jalan raya itu. Ia tak cedera. Dan masalah menabrakan mobil di Monaco bukanlah hal baru bagi rookie yang konon memang suka melakukan kesalahan seperti itu di sirkuit jalan raya ini. Namun yang menjadi masalah adalah akibat kecelakaan itu, berlian yang ditempelkan di mobil Klien sebagai bagian dari promosi film Ocean Twelve ini pun copot dan entah terjatuh di mana sehingga membuat tim Inggris ini kalang kabut mencari berlian yang hilang itu.

Tahun lalu Klien kembali mencoba peruntungannya di F1 lewat tim HRT namun ia hanya menjalani tiga balapan saja yaitu di GP Singapura, Brazil, dan Abu Dhabi. Di GP Singapura, Klien memulai balapannya dari grid 22 di depan Bruno Senna namun balapannya harus terhenti di lap 31 akibat masalah hidrolik. Namun hingga di dua race penghujung musim prestasi Klien tetap tak terlalu mengesankan. Di GP Brazil, ia hanya mampu finish ke-22 di belakang Senna sementara di Abu Dhabi pun ia masih kalah cepat dari Senna yang sebenarnya merupakan rookie pada tahun lalu.

Musim balap 2011 ini tim HRT melakukan perombakan dalam hal pebalap. Meskipun di tahun lalu Senna membalap lebih banyak dibanding tiga rekan lainnya tapi ternyata hal itu tak membuat HRT bersedia menahannya lebih lama. Narain Kartikeyan ditetapkan oleh tim ini sebagai pebalap utama mereka untuk musim 2011 ini. Pebalap Jepang ini akan didampingi Vitantonio Liuzzi yang sebelumnya membela Force India. Sebelumnya nama Klien juga sempat mewarnai bursa pemilihan pebalap tim HRT untuk tahun ini namun akhirnya tim ini menjatuhkan pilihannya pada Liuzzi untuk mendampingi Kartikeyan yang telah ditetapkan lebih dulu. 

Tim HRT sendiri merupakan tim terakhir yang merilis tunggangan terbaru mereka untuk musim balap 2011 ini. Tim ini baru merilis mobil mereka pada tanggal 11 Maret silam bertepatan dengan sesi ujicoba terakhir di Barcelona akibatnya tim ini tak memiliki kesempatan untuk mengujicoba paket mobil mereka. 

Gagal mendapatkan kursi balap reguler, Bruno Senna akhirnya ditarik oleh Renault sebagai pebalap cadangan mereka mendampingi sederet pebalap binaan lainnya di tim pabrikan asal Perancis ini. Nama Senna bahkan sempat masuk dalam bursa pemilihan pebalap Renault menggantikan Robert Kubica yang cedera di ajang rally pada awal Pebruari silam sebelum akhirnya Renault menjatuhkan pilihan pada Nick Heidfeld. Sementara Chandhok belum lama ini resmi bergabung dengan Lotus sebagai pebalap cadangan mereka. 

Tidak ada komentar: