Total Tayangan Laman

Translate

Rabu, 15 Juni 2011

GP Kanada 2011 Mengharu Biru Schumacher

 Meski mobilnya kalah kencang, tapi Schumi sempat membuat Webber keteteran

Michael Schumacher dan sirkuit Gilles Villeneuve sepertinya memang memiliki hubungan yang amat istimewa. Schumi merupakan pebalap tersukses di sirkuit ini dengan tujuh kali kemenangan dan pada balapan GP Kanada hari Minggu kemarin, kenangan manis Schumacher di sirkuit bernama ayah dari mantan rival beratnya saat perebutan gelar dunia 1997 ini makin bertambah. 

Menjelang GP Kanada, Schumi telah banyak menerima kritikan atas performanya yang dinilai belum juga terlihat istimewa dan kerap kalah dari rekan setimnya yang jauh lebih muda. Mulai dari Alain Prost, juara dunia F1 empat kali yang menyatakan bahwa usia Schumi sudah terlalu tua dan tak mungkin lagi bisa mencapai peak perform-nya seperti di masa lalu hingga komentar mantan dua rekan setimnya, Coulthard dan Herbert yang dengan arogannya mengusulkan Schumacher untuk segera pensiun ... lagi. 

Tapi bukan Michael Schumacher namanya kalau ia langsung menyerah begitu saja hanya karena berbagai komentar kejam yang ditujukan padanya itu. Di balapan pada GP Kanada hari Minggu kemarin akhirnya Michael Schumacher kembali mempertontonkan aksi briliannya yang telah membuatku dan mungkin jutaan penggemar Michael Schumacher jatuh hati pada pebalap Jerman peraih tujuh gelar dunia ini. 

Kecepatan Mercedes W02 memang sudah tampak sejak sesi latihan bebas pertama di hari Jum' at di mana saat itu Rosberg, rekan setim Schumi berhasil menjadi pebalap tercepat pertama sementara Michael berada di urutan ketiga di belakang Fernando Alonso. 

Namun pada sesi latihan bebas kedua, duo Mercedes berada jauh di belakang. Rosberg berada di urutan 19 disusul Schumi di urutan ke-20. Namun hasil ini bukan menandakan performa Mercedes W02 mulai merosot. Hasil ini dikarenakan kedua pebalap Mercedes ini membawa bahan bakar penuh sehingga waktu yang ditorehkan mereka tak terlalu mengesankan. Tapi semua ini merupakan strategi Mercedes untuk mendapatkan data yang cukup yang bisa dianalisa dalam menghadapi lomba di hari Minggu.

"We covered quite a lot of work today, obviously we didn't do any times on lower fuel and just concentrated on high fuel due to the red flags shortening our programme this afternoon," ujar Michael Schumacher usai sesi latihan bebas kedua pada hari Jum'at menjelang race di GP Kanada.

"That's why we are at the opposite end of the timesheets to this morning, when it looked encouraging for a weekend that we did not enter with the highest expectations. We will now sit and analyse our performance and hope for another encouraging day tomorrow," juara dunia tujuh kali ini menjelaskan sebab musabab dari hasil yang dicapai tim Mercedes dari sesi latihan bebas hari Jum'at.

Hari Sabtu. Saat sesi latihan bebas terakhir, Rosberg, rekan setim Michael kembali mencatat waktu tercepat ketiga di belakang Vettel dan Alonso sementara Michael hanya mencatat waktu tercepat ketujuh di belakang duo McLaren, Button dan Hamillton.

Saat sesi kualifikasi, seperti biasa kedua pebalap Mercedes hanya melakukan one run saja untuk menghemat ban. Hasilnya kedua pebalap Mercedes dan McLaren saling bersilangan. Rosberg merebut P6 tepat di belakang Hamilton sementara Schumacher berada di urutan ke-8 di belakang Button.

"We can be quite happy with today's qualifying. I had lost drive momentarily after turn 4 during my last lap but otherwise I had a clean lap. We will have to analyse why that happened, but all went pretty well other than that. We have developed our set-up-in the right direction over the weekend, and the long runs looked quite good this morning, so we should be ok in the race," ujar Michael usai sesi kualifikasi mengemukakan bahwa ia sempat kehilangan momentum di turn 4 saat sesi kualifikasi hampir berakhir, meski ia mengaku cukup puas dengan pengembangan sepanjang minggu yang dilakukan timnya dan berharap bisa meraih hasil yang cukup memuaskan di balapan. 

Hari Minggu sebelum lomba dimulai hujan sudah mulai turun membasahi sirkuit Gilles Villeneuve. Menjelang start hujan tak jua berhenti hingga akhirnya balapan dipandu oleh Safety Car. Balapan di Montreal, Kanada hari Minggu kemarin mungkin merupakan salah satu balapan F1 yang paling menarik. Penuh drama dan menegangkan hingga akhir lomba. Safety Car berkali-kali bolak balik ke trek. Balapan sempat ditunda hingga hampir dua jam lamanya tapi toh tak mengendurkan syaraf mataku untuk tetap menatap layar kaca menanti apa yang akan terjadi selanjutnya, meski itu artinya aku harus begadang sepanjang malam, dan hanya sempat tidur dua jam setengah saja, akibatnya hari Senin-nya aku memilih bolos kerja.

Di awal lomba Michael Schumacher sudah memperlihatkan suguhan yang menarik kala ia tak gentar menghadapi tekanan dari Lewis Hamilton. Sebelumnya, pada balapan di Monaco, Schumi dan Hamilton pun sempat terlibat insiden yang turut mempengaruhi kinerja W02 Schumi di Monte Carlo hingga akhirnya juara dunia tujuh kali itu terpaksa retired. Meski begitu, Schumi termasuk salah satu orang yang tak ikut menghujat Hamilton atas berbagai insiden yang dilakukannya di Monaco. Sebaliknya Schumi malah membela Hamilton dan menyatakan bahwa trek di Monaco memang sempit, sehubungan dengan insiden yang menimpa Hamilton dengan Massa di mana saat itu Hamilton dinilai sengaja menempatkan mobilnya hingga separuh trek dan membuat Massa berada di posisi yang sulit. Tapi Schumi sebagai pebalap yang sudah amat berpengalaman ini mengemukakan pandangannya dan menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Hamilton itu bukanlah suatu kesalahan karena keadaan trek di Monaco yang sempit amat menyulitkan pebalap manapun termasuk Hamilton.

Di Kanada, pada lap-lap awal Lewis telah lebih dulu menghadapi insiden dengan Webber hingga membuat posisinya melorot dan saat ia mencoba menyalip Michael, juara dunia 2008 ini malah mendapat pelajaran berharga dari seniornya ini. Lewis sempat melintir saat mencoba menyalip Michael.

Selanjutnya terjadi insiden antara Hamilton dengan rekan setimnya sendiri, Button yang membuat SC kembali ke trek. Cuaca ternyata makin tak bersahabat sehingga beberapa pebalap termasuk Michael yang sebelumnya telah masuk pit terpaksa masuk pit kembali untuk mengganti ban intermediate mereka dengan ban basah. SC lagi-lagi harus masuk trek untuk memandu balapan karena hujan ternyata makin deras.

Di lap 25 akhirnya balapan dihentikan karena hujan yang turun makin deras dan di beberapa areal sirkuit terdapat genangan air. Kesempatan ini digunakan para pebalap untuk kembali ke pit mereka masing-masing dan membahas ulang strategi balap mereka termasuk Schumi.

Setelah hampir dua jam akhirnya balapan kembali digelar dengan dipandu Safety Car. Schumi yang sebelum red flag berada di P12 tepat di belakang rekan setimnya, mulai tampil mengesankan. Setelah SC kembali ke pit, Schumi berhasil menyalip rekan setimnya dan pebalap-pebalap di depannya dan terus mencatat waktu tercepat. 

Penampilan Michael makin luar biasa setelah ia keluar dari pit untuk mengganti ban full wet-nya. Ia terus mencatat waktu tercepat hingga ia berada di P4 tepat di belakang Kobayashi dan Massa yang tengah bertarung merebut P2 di belakang Vettel. Dengan seluruh bakat balap Schumi yang sudah teruji, Michael berhasil mengambil kesempatan di tengah pertarungan antara Massa dan Kobayashi dan langsung menyalip kedua pebalap itu untuk merebut P2 di lap 51. Hebatnya lagi, semua aksi overtaking yang dilakukan Michael itu tanpa menggunakan peranti DRS karena saat itu FIA masih melarang penggunaan DRS sehubungan dengan kondisi trek di sirkuit yang dinilai masih basah dan licin. Tapi Michael, The Rain Man sejati ini mampu membawa Mercedes W02-nya yang sebenarnya tak terlalu tangguh tapi bisa terlihat luar biasa.

Michael nyaris meraih podium kedua di belakang Vettel, tapi kondisi di trek mulai mengering. DRS pun mulai diperbolehkan. Sementara itu Webber dan Button mulai memperkecil jarak dan menekan juara dunia tujuh kali ini yang mulai terlihat kesulitan mengatasi kekuatan DRS milik Webber dan Button. Meski begitu, Michael tetap memperlihatkan semangat juangnya. Ia sempat membuat Webber kewalahan menghadapi pebalap Jerman berusia 42 tahun ini hingga pebalap Red Bull itu melakukan kesalahan dan melebar memotong chicane, akibatnya ia harus melambatkan mobilnya dan memberikan tempatnya kembali kepada Michael. Di lap berikutnya, Webber kembali melakukan kesalahan di chicane yang sama hingga membuat Button berhasil menyalipnya.

Schumi berusaha mempertahankan posisinya di tempat kedua demi merebut podium pertamanya sejak kembali ke ajang F1 pada tahun 2010 lalu. Tapi akhirnya Schumi terpaksa menyadari Mercedes W02-nya bukanlah lawan yang sepadan dengan MP4-26 milik Button hingga akhirnya pebalap McLaren-Mercedes itu berhasil menyalipnya. Tak lama kemudian, lima lap menjelang akhir race, Schumi tak lagi mampu menahan gempuran RB7 milik Webber yang memiliki sistem DRS lebih mumpuni dibanding yang ada dalam Mercedes W02-nya Schumi. Akhirnya Schumi pun terpaksa harus puas finish di P4.

Meski gagal meraih podium, tapi aksi Michael Schumacher di Kanada kemarin membuktikan bahwa usianya yang tak muda lagi itu ternyata bukanlah sebab musabab dari penampilan buruknya selama ini. Aksinya di Montreal, Kanada hari Minggu kemarin itu menunjukkan bahwa Michael Schumacher masih memiliki kemampuan untuk tampil cemerlang seperti di masa keemasannya dulu kalau saja ia mendapatkan mobil yang sepadan yang bisa mengakomodir bakat balapnya itu. Penampilan spektakuler Schumi kemarin itu juga menunjukkan bahwa analisa Mr. Alain Prost yang menyatakan bahwa Schumi yang sudah tak muda lagi ini takkan lagi bisa mencapai puncak performanya seperti di masa lalu.

Berkat aksi briliannya di Montreal, Kanada hari Minggu kemarin itu, nama Michael Schumacher pun kembali menjulang. Bahkan situs planetf1.com menganugrahi aksi Schumi itu sebagai overtaking move of the race sehubungan dengan aksinya saat menyalip Massa dan Kobayashi sekaligus untuk merebut P2.

Michael sendiri seusai race di Kanada mengaku perasaannya campur aduk dan tak tahu apakah ia harus gembira atau menangis.

"I am leaving this race with one eye laughing and one eye crying, as I am not sure if I should be excited or sad about it," ujar Schumi kepada pers usai race di Kanada hari Minggu lalu. Ia sudah tampil amat luar biasa dan nyaris meraih podium tapi sayangnya mobilnya tak mampu mengimbangi bakat cemerlangnya itu.

"Having been in 2nd place towards the end, I would obviously have loved to finish there and be on the podium again. But even if it did not work out in the very end, we can be happy about the result and the big fight we put in," imbuh Michael meski gagal meraih podium tapi merasa cukup puas dengan hasil balapan.

Pebalap yang telah mengoleksi 91 kemenangan ini pun menyatakan rasa puasnya pada kerja keras tim-nya dan strategi mereka. Dan berbanding terbalik dengan opini publik yang selama ini menggambarkan Michael Schumacher sebagai sosok yang arogan, tapi nyatanya juara dunia tujuh kali ini dalam kesempatan itu justru dengan rendah hati-nya mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada para pendukungnya yang tetap memberikan support dalam masa-masa sulitnya dan lewat aksi briliannya di Kanada kemarin itu,  untuk itu aksi Michael di Kanada itu seperti pelipur lara bagi para fans-nya yang pastinya sudah amat menanti juara dunia tujuh kali ini kembali memperlihatkan performa terbaiknya seperti di era keemasannya.

"A good strategy after the red flag it possible, and I am very happy for our team. I would also like to send a big compliment out to the spectators who stayed with us in those difficult circumstances for so long and even cheered us up. That was impressive, and I am glad that I could play my part in entertaining them," kata juara dunia tujuh kali ini mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada tim dan para penggemarnya.

Ross Brawn, bos tim Mercedes yang juga merupakan orang di balik kesuksesan Michael Schumacher sejak di Benetton dan Ferrari juga amat gembira dengan aksi brilian Schumi di Kanada kemarin itu.

"It was a thrilling race and Michael drove beautifully in the second part, he did a strong job on the intermediates and the option tyres, but was unable to hold off Jenson and Mark's faster cars, particularly when the had the use of DRS," ujar Brawn memuji penampilan luar biasa Schumi yang sayangnya harus menyerah pada Jenson dan Mark yang memiliki mobil lebih cepat darinya terutama saat mereka menggunakan DRS.

"Even so, it was a fantastic drive to climb eight places and finish fourth. Overall, it was an exciting and extremely challenging but ultimately positive race for our team," tegas Brawn yang tetap memuji Schumi yang meski gagal meraih podium tapi Schumi telah tampil luar biasa hingga meraih finish di urutan keempat. Bagaimanapun hasil yang dicapai Michael ini memberikan nilai positif bagi tim mereka terlebih rekan setim Michael mengalami balapan yang sulit dan gagal meraih poin setelah hanya mampu finish di urutan ke-11 di belakang pebalap Toro Rosso, Sebastian Buemi.

Sumber gambar dari situs ini.

Tidak ada komentar: