Total Tayangan Laman

Translate

Sabtu, 04 Juni 2011

Michael Schumacher dan GP Monaco

Usai hasil mengecewakan di Turki, seperti yang dijanjikan Haug, Michael Schumacher bisa kembali tersenyum lebar di Barcelona, Spanyol dimana ia berhasil mengungguli rekan setimnya meski memulai start dari grid 10 sementara Rosberg start dari P7. Selepas start, seperti biasa Michael berhasil melakukan start yang mengesankan. Sepanjang lomba walau ia mendapat tekanan dari rekan setimnya, namun Michael berhasil mempertahankan posisi ke-6 hingga akhir race meski penampilan ini masih memiliki sedikit cacat dan belum bisa dianggap merupakan kegemilangan Schumi karena Rosberg mengalami masalah dengan DRS-nya yang dianggapnya sebagai penyebab hingga akhirnya ia mengendurkan perlawanannya terhadap rekan setimnya yang lebih senior itu. Bagaimanapun hasil finish ke-6 dan ke-7 yang diraih duo Mercedes ini merupakan hasil yang sudah maksimal bagi tim pabrikan Jerman ini.

"We managed to make the most out of our race possibilities today which is good news, especially for our guys who I am happy for," ujar Schumacher setelah meraih hasil yang cukup menggembirakan di GP Spanyol.  "I had a good start; going right through the middle was tight but fortunately it worked out. Then the race was about holding position from there. We can be happy with the result but other than that, it was just tricky with oversteer, tyre degradation and poor balance to deal with. Still we achieved what we could have, and I look forward to going to Monaco," imbuh Schumi. Namun sayangnya, hasil di Monaco malah tak sesuai harapan.

Sepekan berselang setelah GP Spanyol, Mercedes kembali terpuruk dalam mimpi buruk di GP Monaco. Padahal penampilan kedua pebalap tim pabrikan Jerman ini sudah cukup meyakinkan di sepanjang sesi latihan bebas dan kualifikasi. Di sesi kualifikasi, Michael berhasil meraih P5 sementara rekan setimnya, Rosberg yang sempat hampir mengalami kecelakaan saat sesi latihan bebas, meraih P7. 

Saat start, tak seperti biasanya, start Michael tak berjalan mulus akibat anti stall di mobilnya tak bekerja dengan maksimal hingga akhirnya ia malah disalip rekan setimnya dan melorot ke urutan 10 tapi Michael sempat memperlihatkan aksi menarik saat ia berhasil menyalip Hamilton sayangnya aksinya itu harus dibayar mahal, karena akibat bersinggungan dengan Hamilton, sayap depannya rusak hingga membuatnya terpaksa masuk pit lebih cepat dan terjebak di deretan tengah. Sementara itu balapan rekan setimnya pun tak terlalu memuaskan. Seperti Schumi, Rosberg pun harus masuk pit lebih cepat. 

Schumacher gagal melanjutkan lomba akibat masalah airbox di W02-nya. Sementara Rosberg pun gagal meraup poin dan hanya mampu finish di urutan ke-11. Akhir pekan kelabu bagi kubu Mercedes.

Balapan di Monaco kemarin memang benar-benar mengecewakan bagi Schumacher yang di masa lalu telah menorehkan lima kemenangan di sirkuit Monte Carlo ini, jumlah kemenangan yang sama seperti yang ditorehkan oleh Mr. Monaco, Graham Hill. Namun Ayrton Senna merupakan pebalap tersukses di Monaco yang telah menorehkan 6 kemenangan. 

Bagi Schumi sendiri, meski telah mengoleksi lima kemenangan dan lima pole position di sirkuit jalan raya yang terkenal ini, namun Monaco memang tak selalu bersikap ramah pada juara dunia tujuh kali ini. Beberapa kali Schumi harus terjerembab di sirkuit ini. 

Empat kali Schumi harus retired dari balapan di sirkuit ini dan dua di antaranya saat ia memulai balapan dari posisi pole sitter. 

Prestasi Michael di Monaco memang dibilang unik. Hasil Schumacher di Monaco selalu saja meninggalkan kesan dan kisah yang sulit untuk dilupakan. 

Pada tahun 1992 bersama Benetton-Ford, Schumi memulai balapan dari grid ke-6 sementara Mansell yang bersama Williams-Renault tampil mendominasi musim itu sukses meraih pole. Sebelum Monaco, Mansell telah mengantongi lima kemenangan musim itu dan saat itu pun Mansell nyaris menambah satu kali lagi kemenangan kalau saja ia tak mengalami masalah kehilangan baut rodanya, seperti yang dialami Schumacher di GP Malaysia tahun lalu, hingga memaksa Mansell kembali ke pit dan Senna pun segera mengambil alih posisi Mansell dan meraih kemenangan kelimanya di Monaco, menyamai rekor Graham Hill. Sementara Schumi yang saat itu bisa dibilang masih anak baru di F1 sukses finish ke-4 disusul rekan setimnya, Martin Brundle. 

Setahun berikutnya, pada tahun 1993, Schumi masih bersama tim Benetton sukses meraih P2 saat kualifikasi sementara posisi pole disabet Prost yang menggantikan Mansell di Williams-Renault. Saat start Prost melakukan jump start hingga membuatnya mendapat penalti stop and go yang mengakibatkannya kehilangan waktu. Balapan Prost makin menyedihkan saat ia mencoba keluar dari pit, mobilnya mogok dan saat masalahnya telah berhasil diatasi kru Williams, ia telah kehilangan banyak waktu dan posisinya pun melorot ke urutan 22. Schumacher yang start dari grid kedua di belakang Prost pun segera mengambil alih pimpinan lomba dari tangan Prost dan nyaris meraih kemenangan pertamanya di Monaco kalau saja mobilnya tak mengalami masalah hidrolik di lap 33 yang membuatnya terpaksa gagal melanjutkan lomba. 

Michael Schumacher baru berhasil menaklukan Monaco pada tahun 1994. Saat itu balapan di Monaco masih diliputi kabut duka akibat kematian Ayrton Senna di Imola beberapa pekan sebelum GP Monaco. Schumi yang telah tampil mendominasi dengan menyabet empat kemenangan sejak awal musim sebelum GP Monaco sukses meraih pole pertamanya di Monaco. Tapi untuk menghormati kematian dua pebalap F1 sebelum race di Monaco, yaitu Senna dan Ratzenberger, maka FIA mengosongkan dua grid posisi terdepan dan mewarnainya dengan warna bendera negara kedua pebalap tersebut yakni bendera Brazil untuk Senna dan bendera Austria untuk Ratzenberger. 

GP Monaco 1994 memiliki kenangan memilukan lainnya dimana saat kualifikasi, pebalap Sauber Mercedes, Karl Wendlinger mengalami kecelakaan parah hingga membuatnya koma selama beberapa minggu. Akibat kecelakaan ini, Mercedes sampai shock dan sempat mundur dari F1 selama bertahun-tahun lamanya. 

Sementara itu di tengah berbagai kisah memilukan ini, Schumacher sukses mencatat sejarah manis bagi karir balapnya. Setelah dua pesaingnya, Damon Hill dan Mika Hakkinen tabrakan hingga membuat keduanya gagal melanjutkan lomba, maka jalan Schumi meraih kemenangan pertamanya di Monaco pun berjalan mulus. Schumi sukses menyabet kemenangan pertama di Monaco yang sekaligus juga menorehkannya sebagai pebalap pertama yang berhasil meraih kemenangan di Monaco selain Senna dan Prost yang merajai Monaco sejak tahun 1983 dimana kedua pebalap ini saling bergantian meraih kemenangan di Monaco namun Senna meraih kemenangan lebih banyak dibanding Prost. 

"This is the great day for me and I am so glad to achieve this for my loyal and patient fans. Today was one of the best days in my racing career. I made a perfect start and had a faultless race. It has been a very difficult time. When your five-year-old daughter asks you if it's true (Ayrton) Senna is dead it is difficult to reconcile things," ujar Schumacher usai balapan mengungkapkan kegembiraannya meraih kemenangan pertamanya di Monaco sekaligus juga menyatakan dukacitanya atas kematian Senna. 

Kesuksesan Schumi berlanjut di tahun berikutnya pada 1995 dimana ia kembali sukses meraih kemenangan dari grid kedua akibat Hill dan Williams salah strategi. Schumi dengan strategi 1 pit stopnya berhasil menaklukkan Hill yang melakukan dua kali pit stop. Saat Hill melakukan pit pertamanya, Schumi langsung mengambil alih posisi Hill dan tetap mempertahankannya hingga akhir lomba dan unggul 30 detik di depan Hill. 

Sayangnya setahun berikutnya pada 1996 Schumi yang berhasil memulai balapan dari pole position gagal melanjutkan lomba akibat menghantam tembok di lap pertama. Olivier Panis yang membalap untuk tim Ligier yang akhirnya berhasil meraih kemenangan. Satu-satunya kemenangan Panis di sepanjang karir balap F1-nya setelah pebalap-pebalap di tim-tim papan atas berguguran. 

Kemenangan ketiga Schumi di Monaco diraihnya pada tahun 1997 berkat settingan ban basah yang dipilihnya sebelum balapan dimulai. Schumi memulai balapan dari grid kedua sementara pole sitter dipegang oleh rekan senegaranya, Heinz-Harald Frentzen yang membalap untuk Williams-Renault menggantikan Hill yang hengkeang dari Williams usai meraih gelar dunia pada akhir musim 1996. Sekitar 30 menit sebelum start, hujan mulai turun, kedua pebalap Williams memilih menggunakan ban kering karena mengira cuaca akan segera cerah, tapi nyatanya cuaca malah makin memburuk. Schumi dengan pilihan ban yang lebih tepat langsung melesat. Ia memimpin dengan selisih 22 poin di lap 5 disusul duo Jordan dimana salah satunya disupiri oleh adik kandungnya sendiri, Ralf Schumacher. Sementara duo Williams tampil berantakan. Frentzen, sang pole sitter menabrak barrier pada lap 39 sementara Jacques Villeneuve menghantam tembok di lap 17. Kedua pebalap Williams pun retired. Posisi Schumi di urutan terdepan pun aman hingga akhir race. Meski ia sempat melakukan kesalahan di lap 53 tapi hal itu tak mempengaruhi posisinya. Saat balapan dihentikan pada lap 62, Schumi telah unggul 53 detik dari Rubens Barrichello yang kala itu membalap untuk tim Stewart Ford dan Eddie Irvine, rekan setim Schumi di Ferrari yang berhasil finish ketiga setelah menyalip Panis, membalas kegagalannya di tahun sebelumnya dimana saat itu Panis menyalip Irvine.

Tahun 1999 Schumi meraih kemenangan keempatnya di Monaco. Berkat start yang cemerlang, Schumi berhasil mempecundangi rival beratnya, Mika Hakkinen yang meraih pole. Meski Hakkinen sangat kencang di atas mobil McLaren-nya namun ia tak berhasil menghambat laju Schumi meraih kemenangan keempatnya di sirkuit favorit para pebalap F1 itu.

Setahun berikutnya Schumi kembali tampil jeblok padahal Schumi memulai balapan dari posisi pole tapi akibat suspensinya jebol di lap 55 maka Schumi pun terpaksa keluar dari balapan padahal saat itu ia tengah memimpin lomba. 

Hasil buruk di GP Monaco 2000 segera dibalas oleh Schumi dan Ferrari setahun berikutnya. Meski di sesi kualifikasi Schumi kalah kencang dari David Coulthard yang membela McLaren-Mercedes, namun saat start, mobil DC stall hingga akhirnya Schumi sukses melenggang meraih kemenangan kelimanya di Monaco.

Michael nyaris meraih kemenangan keenamnya di Monaco pada tahun 2004, menyamai rekor Senna kalau saja ia tak disundul oleh Juan Pablo Montoya. Saat itu meski Schumi hanya meraih grid ke-4, sebenarnya saat kualifikasi Schumi hanya mampu meraih P5 namun setelah adiknya, Ralf yang meraih P2 terkena penalti akibat mengganti mesin hingga membuat posisinya diturunkan ke P10, memberi keuntungan bagi Schumi yang naik satu peringkat ke P4 sementara yang berhasil meraih pole position kala itu adalah Jarno Trulli yang membalap untuk Renault. Schumi sudah sempat meraih P3 di belakang duet Renault, Trulli dan Alonso saat Safety Car masuk trek akibat kecelakaan yang melibatkan Ralf, adik kandung Michael dengan Alonso. Saat itulah, ketika balapan tengah dipandu oleh Safety Car, mobil Schumi disundul oleh JPM hingga membuat Schumi gagal mencatat sejarah menyamai rekor kemenangan Senna di Monaco.

GP Monaco 2006 selamanya akan menjadi lembaran hitam dalam karir balap Schumi. Kala itu, Schumi tengah berseteru dengan Alonso dalam perebutan gelar. Setelah di tahun sebelumnya, Alonso berhasil merebut gelar dunia dari tangannya, Schumi bermaksud merebutnya kembali terlebih di musim itu Ferrari tampil bagus setelah di tahun sebelumnya Ferrari dan Schumi tampil memalukan. Schumi pun bertekad meraih kemenangan keenamnya di Monaco, menyamai rekor Senna. Saat kualifikasi menjelang detik-detik terakhir sesi kualifikasi, tiba-tiba saja Ferrari-nya Schumi terparkir di tikungan Rascasse. Schumi berdalih bahwa mobilnya tiba-tiba mengalami masalah tapi para pengamat terlebih para bekas pebalap F1 menilai Schumi sengaja memarkir mobilnya untuk menahan laju Alonso yang memang akhirnya gagal mengalahkan catatan waktu Schumacher akibat bendera kuning yang langsung dikibarkan setelah mobil Schumi terpaksa parkir di tengah jalan. Akibat tindakan ini Schumi pun dikenai hukuman dengan menurunkan posisi startnya ke urutan paling buncit. Schumi dan Ferrari memutuskan memulai balapan dari pit. 

Bila aksinya di kualifikasi bisa dibilang memalukan, maka aksi Schumi saat race amat luar biasa. Dari posisi paling buncit, Schumi berhasil finish kelima, padahal sirkuit di Monaco yang amat sempit terkenal merupakan sirkuit yang paling sulit bagi para pebalap untuk melakukan overtaking. Tapi Schumi sukses mematahkan opini itu, tapi tentu saja semua itu berkat dukungan performa Ferrari yang luar biasa berpadu dengan bakat balap Schumi, maka juara dunia tujuh kali ini pun sukses menyalip setidaknya 17 mobil untuk bisa meraih finish kelima. 

Semua itu memang kini hanya merupakan bagian dari sejarah. Sejak kehadiran Schumacher kembali ke ajang balap F1, juara dunia tujuh kali ini memang belum lagi berhasil memperlihatkan performa terbaiknya seperti yang ditampilkannya di masa lalu, tapi bila menilik sejarah. Schumi yang amat mempercayai pentingnya kontinuitas dalam meraih kesuksesan ini memang membutuhkan setidaknya tiga tahun dalam membentuk sebuah tim juara. Schumi memerlukan waktu tiga tahun setengah bersama Benetton sebelum akhirnya ia meraih gelar dunia pertamanya pada tahun 1994 yang dipertahankannya pada tahun berikutnya. 

Bersama Ferrari, sebelum mencapai masa-masa keemasan bersama tim Maranello itu, Schumi bahkan membutuhkan waktu yang lebih lama. Bahkan Schumi sempat patah arang dengan tim legendaris dalam sejarah F1 ini sebelum akhirnya ia berhasil membawa Ferrari menjadi tim tersukses sepanjang sejarah Formula One. Schumi mulai membalap untuk tim Scuderia Ferrari pada tahun 1996 dan ia baru berhasil meraih gelar dunia pertamanya bersama Ferrari tapi gelar dunia ketiga baginya secara pribadi, pada tahun 2000 jadi ia membutuhkan waktu sekitar lima tahun bersama Ferrari untuk meraih gelar dunia. 

Seperti yang dibilang Schumi sebelum GP Monaco, hal-hal yang baik pastinya akan datang bagi mereka yang sabar menanti. Michael memiliki semua komponen yang dibutuhkan untuk menjadi juara. Meski usianya bisa dibilang sudah tidak lagi muda, tapi Michael tak kalah fit dengan para juniornya. Dengan pengalamannya yang segudang dan talentanya yang tak mungkin disangsikan, pastinya Michael Schumacher tetap merupakan aset berharga bagi Mercedes. Jadi kuharap, Mercedes akan tetap mempertahankan Schumacher di musim mendatang, walaupun penampilan Schumi di tahun keduanya bersama Mercedes ini belum juga mengesankan,  tapi bila Mercedes bisa mempersembahkan mobil yang mumpuni bagi Schumi, jangan heran apabila Schumacher akan kembali merajai jagat Formula One. Dan kuharap saat itu akan segera tiba. 

Sumber gambar dari : planetbenz

Tidak ada komentar: