Total Tayangan Laman

Translate

Kamis, 09 Juli 2009

The King of Pop



Gambar dipinjam dari: www.Daveastro.co.uk

You can't never lost until it's really gone. Itulah yang dirasakan dunia saat berita The King of Pop, Michael Jackson meninggal dunia. Toko-toko kaset di seluruh dunia langsung diserbu dan album-album sang raja pop ini langsung ludes terjual. Padahal pada beberapa waktu yang lalu, dunia yang sama ini mencibir dan mencemooh sang raja pop kala ia didera masalah hukum mengenai pelecehan seksual terhadap anak-anak yang dituduhkan padanya. Dan dunia yang sama ini pula yang selalu menertawakan bahkan menjadikan tingkah polah sang bintang yang aneh ini seperti sifat over protektifnya pada putra-putrinya dari media dengan menutupi wajah anak-anaknya dengan topeng atau selimut. Belum lagi operasi plastik yang dilakukannya (meski ia selalu membantah dan mengaku hanya dua kali melakukan operasi wajah) yang belakangan membuat wajahnya tak lagi terlihat seperti wajah seorang manusia. Bahkan dalam salah satu video musiknya, Eminem meledek sang raja pop ini dengan menggambarkan hidung sang raja copot dan terjatuh di lantai dansa sehingga sang raja kelimpungan mencari hidungnya.

Namun ketika sang raja wafat, dunia seolah tersentak. Seluruh kisah hidup Michael Jackson dengan segala macam ironinya ditampilkan di berbagai media baik cetak maupun audio visual. Lagu-lagu dan video musik sang raja kembali mengisi ruang dengar dan pandang para pemirsa. Kilasan memori kembali terbayang di benak tiap-tiap orang terutama kita yang hidup di awal masa generasi MTV dimana Michael Jackson telah menyihir jutaan para pemuda yang terinspirasi dengan lagu-lagunya dan gaya menarinya yang enerjik dan dinamis itu. Metamorfosis perubahan wajah sang raja pun ditampilkan berulang-ulang di layar kaca yang membuat semua orang tertegun dan bertanya-tanya apa yang salah dengan wajahnya sehingga ia terus mempermak wajahnya itu?

Michael Jackson adalah sebuah ironi dalam hidup. Itulah pendapatku dan mungkin pendapat banyak orang di dunia ini. Ia dicintai namun ia senantiasa merasa hidup dalam kesepian. Segala puja puji yang ditujukan padanya bahkan tak mampu mengangkat perasaan rendah dirinya sehingga ia memutuskan mengubah dirinya menjadi seseorang yang bahkan tak dapat dikenali olehnya sendiri. Ia hidup dalam dunianya sendiri dan tak seorangpun yang dapat menyentuh ruang terdalam dalam hatinya karena ia merasa tak ada seorangpun yang dapat memahami dirinya. Ia hidup dalam kesendirian di tengah segala kemewahan yang berhasil diraihnya lewat kerja kerasnya yang kadang menimbulkan kepedihan dan kesakitan bagi dirinya.

Michael Jackson adalah sebuah fenomena. Syair-syair lagunya yang begitu indah dan mampu menginspirasi jutaan orang di dunia. Bahkan lagu-lagunya mampu melepaskan belenggu-belenggu rasial, gender, dan budaya, namun ia sendiri tak mampu melepaskan dirinya dari belenggu kehampaan yang dihadapinya dalam hidupnya. Kepedihan hatinya senantiasa menghiasi mimpi-mimpinya di malam hari. Bahkan sepertinya siang pun tak dapat menyingkirkan kabut gelap kegalauan dalam hatinya.

Dua kali ia menikah namun ia tak pernah mendapatkan cinta sejati yang didambakannya. Meskipun cintanya telah berhasil membuat hati para penggemarnya bergetar lewat lagu-lagunya.

Michael Jackson memang pantas dikasihani. Ia hidup dalam kebingungan namun dunia dan media dengan kejam terus membuatnya terperosok dan tenggelam dalam ruang gelap hatinya yang sesungguhnya sangat sensitif itu. Media melimpahinya dengan puja puji ketika berbagai penghargaan di bidang musik berhasil diraihnya dan album-albumnya laris manis di pasaran. Namun media tak jarang mencerca dan mengejeknya. Ia tak suka dengan panggilan Jacko, sebutan negatif yang diberikan media padanya yang merupakan kependekan dari Wacko Jackson tapi media tanpa belas kasihan terus menerus memanggilnya dengan label negatif ini.

Memang tepat kiranya yang dikatakan oleh Al Sharpton dalam pidatonya pada upacara penghormatan terakhir bagi sang raja. Kepada anak-anak Michael, Al mengatakan bahwa sebenarnya tak ada yang aneh dengan Michael Jackson, yang aneh sebenarnya dunia di sekitarnya itu. Al dengan berapi-api bahkan berkata bahwa Michael Jackson adalah sebuah pribadi yang luar biasa. Berkali-kali ia jatuh namun ia selalu mampu untuk bangkit. Ya, sepertinya memang dunia inilah yang telah menciptakan keanehan itu bagi seorang Michael Jackson.

Michael Jackson bahkan telah menghadapi kejamnya dunia ini sejak ia masih kecil. Perlakuan keras ayahnya yang sangat disiplin dalam menggali bakat putranya yang luar biasa ini membuat Michael kehilangan masa kanak-kanaknya. Dan dunia sebenarnya ikut andil di dalamnya. Bagi seorang kulit hitam yang hidup di tengah dominasi kulit putih yang menganggap kelompoknya merupakan ras paling unggul, kesempurnaan adalah hal yang mutlak untuk menunjukkan keberadaan dirinya, menembus dominasi kaum kulit putih yang terlihat sempurna. Dan itu pula yang diajarkan oleh Joe Jackson pada putranya ini. Bakat saja tak cukup. Bakat itu perlu dipoles menjadi sempurna. Itulah yang dapat membawa Michael kecil dari kelompok minoritas ini menembus dinding tebal yang membatasinya dari dunia di sekitarnya. Dan mungkin hal ini pulalah yang membuat Michael Jackson membenci kulit hitam yang membungkus dirinya. Sepanjang hidupnya, ia terus berusaha meraih kesempurnaan itu. Ia merubah dirinya sendiri pada kesempurnaan dalam imajinasinya. Namun satu hal yang tak disadari ayahnya. Sikap keras dan disiplinnya untuk memperlihatkan arti kesempurnaan itu pada putranya yang luar biasa ini justru telah menciptakan sebuah ruang kosong dalam hati belia putranya ini yang membuatnya merasa kesepian dan senantiasa merindukan cinta.

Dunia yang tak pernah berusaha memahaminya malah terus menerus mencemoohnya dan menerornya seolah ia seorang monster. Membuat Michael semakin tenggelam dalam dunianya. Dalam kesendiriannya. Dalam kehampaannya. Dalam kepedihan hatinya. Dan tak seorang pun yang berusaha mengulurkan tangannya untuk meraihnya. Dan pada siapakah ia mengadukan kesepiannya? Perasaan ambiguitasnya terhadap ayahnya yang di satu sisi telah membuatnya menjadi seorang mega bintang, namun di sisi lain sang ayahnya pulalah yang telah menjerumuskannya ke dalam dunia kejam ini. Dunia yang tak kenal ampun yang selalu mengamati setiap langkahnya dan bersiap-siap menertawakan bahkan tak jarang menghujat bila ia terjatuh.

Sesungguhnya dunia berhutang padanya. Pada seorang Michael Jackson yang lagu-lagunya telah berhasil menginspirasi para penghuni dunia ini untuk menjadikan bumi ini menjadi jauh lebih beradab. Menginspirasi para pemimpin dunia akan sebuah dunia baru yang jauh lebih baik. Dunia yang layak bagi semua makhluk yang bernafas. Dunia yang selaras dalam harmoni kedamaian.

Namun dunia baru menyadari kehilangan itu ketika sang mega bintang ini wafat. Seluruh dunia baru menyadari betapa suara dan gaya sang bintang besar ini telah banyak memberikan kegembiraan dan acap pula syair dari lagu-lagunya begitu menyentuh dan menjadi sumber inspirasi. Sebuah kehilangan besar sungguh-sungguh dirasakan dan hal itu nyata terlihat pada upacara penghormatan terakhir bagi sang raja menuju tempat peristirahatan terakhirnya pada Rabu dini hari (menurut waktu Indonesia), beberapa jam sebelum kita, yang mengaku sebagai warga negara Indonesia beramai-ramai menuju TPS-TPS untuk mencontreng, menjadi salah satu kunci yang menentukan nasib bangsa ini dengan memberikan suara bagi orang-orang yang dianggap tepat bagi tiap-tiap individu yang mungkin saja berbeda tapi memiliki tujuan yang sama, Indonesia Raya.

Kembali ke upacara penghormatan terakhir sang bintang yang diadakan di Staples Centre, gedung yang selama beberapa terakhir sebelum sang bintang besar ini berpulang ke Sang Khalik melakukan latihan keras untuk konser terakhirnya. Konser terakhir sang raja sebelum lengser keprabon. Sebuah comeback sang bintang yang ingin memperlihatkan bahwa sinar bintangnya masih cukup terang untuk menyala di tengah gugusan galaxi yang dipenuhi kemilau bintang-bintang muda. Dan memang ternyata sang bintang besar ini masih memiliki tempat khusus di hati para penggemarnya. Terbukti hanya dalam waktu tiga hari tiket konsernya ludes terjual. Dan sang bintang besar ini tak ingin mengecewakan para pemujanya. Ia ingin memperlihatkan kesempurnaan yang selalu berusaha diraihnya itu. Namun di tengah usaha kerasnya untuk meraih kembali tempatnya di galaxi itu ia menghembuskan nafas terakhirnya. Demi kesempurnaan itu sang bintang besar ini bahkan harus menderita kesakitan yang tak sanggup ditanggungnya. Dalam kesakitannya ia berpulang.

Kini sang raja pop ini telah berpulang ke pangkuan Penciptanya. Sang Pemilik jiwa raganya yang telah memberinya bakat luar biasa yang pernah dimiliki oleh seorang anak kecil kulit hitam yang bermetamorfosis karena tekanan dunia. Bakat luar biasa yang telah membuatnya menjadi seorang bintang besar namun juga menjadi sumber segala kepedihan dan deritanya. Sumber segala kepahitan dalam hidupnya. Dan pada Sang Pemberi Hidup inilah kiranya hati sang bintang yang selama ini terasa hampa menemukan muara yang akan menyegarkan jiwanya yang selama ini terasa kosong itu. Dan kiranya warna warni pelangi di horizon itu pada akhirnya dapat mewarnai relung jiwa sang bintang yang selama hidupnya ditutupi kabut gelap.

Dunia memang sangat kehilangan sang raja pop ini. Namun selamanya karya-karyanya abadi dalam hati tiap jiwa yang mendambakan kedamaian dan cinta. Mungkin saja suatu waktu nanti kala kita menatap langit malam yang berhias jutaan bintang, kita dapat melihat sang bintang yang telah menemukan kebahagiaan sejatinya tersenyum. Dan mungkin di suatu waktu nanti, kita dapat melihat sang bintang tertawa riang, berayun pada bianglala yang menghias horizon. Siapa tahu....

Selamat jalan Michael Jackson. Terima kasih karena kau telah memberikan segenap hatimu pada setiap karyamu demi memberikan kebahagiaan pada penggemarmu meski kebahagiaan itu selamanya menjadi mimpi abadi dalam hidupmu. Dan meski aku tak pernah menyukai gaya hidup dan sikap nyelenehmu tapi lagu-lagumu ternyata telah memberi warna dalam hatiku dan terkadang tanpa kusadari mulutku bergumam menyenandungkan lagu-lagumu.

Semoga di dunia barumu itu kau dapat menemukan kebahagiaan dan cinta yang selama ini kau dambakan. Semoga pula pada akhirnya kau dapat menemukan teman sejati seperti yang kau ungkapkan dalam salah satu lagumu yang menjadi lagu kesukaanku, Ben.

"Ben, the two of us need look no more
We both found what we were looking for
With a friend to call my own
I'll never be alone
And you my friend will see
You've got a friend in me
(You've got a friend in me)

Ben, you're always running here and there
(Here and there)
You feel you're not wanted anywhere
(Anywhere)
If you ever look behind
And don't like what you find
There's something you should know
You've got a place to go
(You've got a place to go)

I used to say "I" and "me"
Now it's "us", now it's "we"
I used to say "I" and "me"
Now it's "us", now it's "we"

Ben, most people would turn you away
I don't listen to a word they say
They don't see you as I do
I wish they would try to
I'm sure they'd think again
If they had a friend like Ben
(A friend)
Like Ben
(Like Ben)
Like Ben"

Tidak ada komentar: