Total Tayangan Laman

Translate

Kamis, 02 Juli 2009

Mimpi-mimpi Konyolku ....




Belakangan ini aku merasa kejenuhan melingkupi sedemikan pekatnya hingga aku malas sekali melakukan apapun. Sejujurnya sejak minggu lalu aku merasa begitu penat hingga aku berpikir seandainya waktu bisa kuhentikan sesaat agar aku bisa bernafas sebentar di antara hiruk pikuk rutinitas yang menjemukanku ini.

Aku seringkali merasa tak puas dengan apa yang telah kucapai (yang sebenarnya tak ada satupun pencapaian yang kuharapkan). Ya, aku memang bekerja tapi pekerjaan ini tak sesuai dengan apa yang kucita-citakan sejak kecil. Tapi jika menoleh ke belakang aku kembali berpikir apa sebenarnya cita-citaku, ... jujur jawabannya adalah aku tak tahu pasti apa sebenarnya cita-citaku karena aku memiliki begitu banyak cita-cita yang ingin kucapai.

Awalnya aku ingin menjadi seorang pilot karena aku sangat suka sekali memandangi langit biru yang terbentang luas di atas kepalaku. Aku seringkali merasa takjub dan kerdil di antara luasnya angkasa. Dulu, ketika Jakarta belum lagi sepikuk sekarang, saat masih begitu banyak bidang tanah kosong yang dapat digunakan anak-anak untuk bermain, kala itu langit dan bumi terlihat seolah hampir menyatu di ujung horizon tanpa penghalang tembok-tembok tinggi berhias kaca-kaca yang menghias gedung-gedung pencakar langit (yang ditengarai menjadi salah satu penyebab global warming...?) Aku ingat saat itu, aku kerap berlari menyusuri tanah lapang coklat dengan bertelanjang kaki (tanpa takut terkena cacing pita, tambang, atau cacing-cacing lainnya) menuju titik yang kukira ujung horizon di mana aku dapat menyentuh langit yang kukagumi itu dengan jari mungilku dan merasakan lembutnya awan putih yang berarak perlahan. Namun setelah aku tiba di tempat yang kukira titik horizon itu ternyata langit di sana pun menjauh dan aku tetap tak dapat menjangkau langit yang terbentang tinggi sekali di atasku. Aku pun hanya termenung menatap langit biru yang tetap terasa jauh dari bumi tempatku berpijak.

Ketika kuungkapkan keinginanku untuk menjadi pilot, tanteku (salah satu tante yang galak dan moodnya sering berubah tanpa bisa diterka seperti cuaca yang seringkali berubah tak menentu, kadang panas tapi bisa tiba-tiba berubah mendung) bilang anak perempuan tak bisa menjadi pilot karena profesi itu untuk anak laki-laki sementara anak perempuan harus cukup puas menjadi pramugari. Tapi aku berkeras ingin menjadi pilot. Aku lebih suka menjadi pilot. Aku suka sekali membayangkan diriku mengendalikan pesawat menembus awan-awan putih melintasi langit biru yang kusukai itu.

Tapi seperti umumnya cita-cita kanak-kanak yang cepat berubah. Begitu pun denganku. Cita-citaku ini pun akhirnya tenggelam hanya menjadi sekadar impian masa kecil yang konyol dan naif. Aku mengubur impianku ini karena ada yang mengatakan padaku bahwa menjadi pilot itu harus pintar dalam matematika sementara nilai matematikaku senantiasa seperti bunga mawar yang merah merekah di raportku.

Belakangan, aku memiliki begitu banyak cita-cita. Aku pernah bercita-cita menjadi guru, pendeta, dokter, pengacara, insinyur pertanian, dan entah apa lagi. Begitu banyak cita-cita yang singgah dalam benakku sampai-sampai aku sendiri tak tahu apa yang benar-benar kuinginkan.

Alasanku ingin menjadi pendeta sebenarnya merupakan impian konyol sesaat. Waktu SD, aku suka sekali dengan guru agamaku yang pandai bercerita tentang tokoh-tokoh dalam Alkitab dan aku pun langsung mengatakan pada semua temanku bahwa aku ingin menjadi guru agama, tapi salah seorang temanku mengatakan bahwa aku harus menjadi pendeta dulu baru bisa menjadi guru agama. Akhirnya akupun mengatakan ingin menjadi pendeta. Cerita ini begitu cepat beredar sampai-sampai teman-temanku langsung memanggilku pendeta seolah aku telah ditahbiskan.

Setelah lulus SD, cita-citaku pun mulai berubah lagi. Waktu kelas II SMP, aku mulai berpikir untuk menjadi pengacara setelah aku membaca Rage of Angel (Malaikat Keadilan)-nya Sidney Sheldon yang begitu membiusku sehingga aku mulai berkhayal betapa kerennya bila aku menjadi seorang pengacara, berdiri di muka sidang memperjuangkan keadilan bagi klienku yang tak bersalah (atau malah sebenarnya bersalah dan pantas dihukum tapi karena aku telah dibayar jadi aku tetap harus membelanya dan mengabaikan fakta...?)

Cita-citaku menjadi pengacara makin kuat setelah aku juga membaca novel-novel John Grisham. Aku jadi makin yakin, inilah jalan hidup yang akan kupilih.

Tapi ternyata, secepat angin berhembus, begitu pula dengan angan-anganku. Setelah aku mulai menyukai novel-novel Marga. T, aku kembali goyah dan mulai berangan-angan menjadi dokter. Mengenakan lab jas putih yang berkibar-kibar dengan stetoskop dikalungkan di leher. Uih, keren sekali kelihatannya. Tapi cita-citaku menjadi dokter langsung kandas begitu temanku mengatakan bahwa sebelum menjadi dokter, para mahasiswa kedokteran diharuskan menjalani tes di kamar mayat. Iiih, membayangkan aku ditinggal bersama mayat-mayat yang terbujur kaku, aku langsung merinding.

Kemudian salah satu temanku mengenalkanku pada sebuah impian lain. Berdasarkan pada kesukaanku akan tanaman, ia mengatakan bahwa aku bisa menjadi seorang insinyur pertanian di mana aku bisa mempelajari berbagai macam jenis tanaman. Tapi impian ini tak berlangsung lama karena meski aku suka dengan tanaman tapi aku tak terlalu suka dengan cacing-cacing di dalam tanah dan lagipula yang selalu mengurus tanaman-tanaman di rumahku adalah ibuku. Bahkan untuk menyiram tanaman-tanaman itu pun aku malas. Aku hanya suka menikmati keindahan bunga-bunga mawar, adenium, dan aster ibuku tapi aku ogah kalau disuruh mengaduk-aduk tanah dan berkenalan dengan cacing-cacing di dalamnya.

Akhirnya aku kembali pada cita-cita semulaku. Menjadi guru. Bukan guru agama. Tapi guru yang mengajarkan berbagai macam bidang ilmu seperti guru SD dan setelah aku membaca mengenai betapa masih banyak anak-anak di pedalaman nusantara yang tak seberuntung anak-anak Jakarta dalam hal pendidikan karena minimnya guru di sana sehingga banyak anak-anak di sana yang bahkan masih belum bisa mengeja huruf meski usianya sudah bisa dikatakan berada di ujung kanak-kanak. Aku pun mulai memikirkan sebuah tugas mulia. Menjadi guru di pedalaman. Dan pilihanku adalah belantara Papua. Aku mulai membaca-baca mengenai pulau berbentuk kepala burung itu. Tapi ketika aku memikirkan kemungkinan adanya ular di belantara hutan tanah Cendrawasih sana, aku pun kembali mengurungkan impian ini. Dan kini, aku makin jauh dari impian itu bila aku membayangkan kemungkinan aku tak dapat menyaksikan balapan formula one karena mungkin saluran televisi yang menayangkan F1 sulit ditangkap di pulau paling ujung bumi nusantara ini. Adikku yang kini tinggal di Samarinda karena mengikuti suaminya saja mengatakan bahwa tak semua saluran televisi bisa tertangkap di sana. Kalau di bumi Kalimantan saja, saluran televisinya tak dapat ditangkap apalagi di Papua, pulau yang terletak lebih jauh dari tanah Jawa ini, pikirku.

Mungkin aku terlalu banyak berpikir. Atau mungkin juga aku terlalu banyak berkhayal. Aku tak tahu. Tapi aku selalu berpikir dengan banyaknya cita-cita yang dimiliki, aku jadi tak pernah merasa kesulitan memiliki sebuah target yang hendak kucapai sehingga aku merasa memiliki sesuatu untuk kuraih dalam hidup. Bagus juga sebenarnya tapi buruknya, hal ini menyebabkan aku tak fokus pada satu bidang yang mungkin saja bisa membuatku mencapai apa yang kuinginkan.

Entahlah, tapi mungkin aku sendiri tak tahu apa yang kuinginkan.... sampai ketika berita mengenai kematian Michael Jackson yang belakangan hari ini mulai menghiasi layar televisi. Aku mulai berpikir bahwa berusaha menjalani hidup dengan baik saja pun sebenarnya merupakan sebuah impian. Sebuah cita-cita.

Hidup itu sendiri sebenarnya tidak mudah. Dan mensyukuri apa yang kita miliki juga merupakan hal yang seringkali terlihat remeh tapi sebenarnya itulah kunci dalam menikmati hidup sebagai anugrah Tuhan yang terindah.

Betapa sebenarnya banyak sekali yang dapat disyukuri dalam hidup, kurasa itupun merupakan sebuah usaha untuk mencintai hidup apa adanya. Dan pastinya itu tak mudah terutama bila hidup terasa menyesakkan.

Ada sebuah ungkapan bijak yang mengatakan bahwa sepanjang hidup, kita takkan pernah berhenti belajar. Kupikir itupun ada benarnya. Sepanjang hidup, kita selalu belajar untuk menjalani hidup kita. Belajar untuk mencintai hidup. Belajar untuk memetik suatu hikmah bahkan dari sebuah pengalaman hidup paling buruk sekalipun. Dan betapa beruntungnya kita bila kita masih memiliki waktu untuk menyadari betapa hidup itu sebenarnya sangat berharga dan dapat mengisi hidup itu dengan sesuatu yang bernilai untuk menjadi sebuah kenangan manis di hati banyak orang.

Garis hidup Michael Jackson sudah berakhir. Entah apakah ia pada ujung hidupnya berhasil menemukan apa yang sungguh-sungguh diinginkannya atau tidak tapi hidupnya selamanya memberikan sebuah nilai bagi perjalanan hidup manusia. Pelajaran akan arti bersyukur dan menerima apa yang kita miliki sebagai hadiah terindah Tuhan. Michael Jackson mungkin tak menyadari bahwa nilai hidup yang selama ini dicarinya sesungguhnya telah berhasil dicapainya. Seandainya saja ia menyadarinya. Entah Berapa banyak yang telah demikian tersihir oleh gaya menari Michael Jackson yang menginspirasi anak-anak muda (bahkan pada masa aku SMP dulu) dan lagu-lagunya yang senantiasa abadi dalam kenangan setiap orang. Seandainya saja Jacko mau membuka mata hatinya sedikit saja, ia pasti akan melihat betapa ia memiliki begitu banyak cinta dari para penggemarnya dan tak semestinya sang raja wafat dalam kesepian dan kehampaan hati yang terasa tanpa cinta.

Aku sendiri tak pernah menyesal dengan banyaknya cita-cita yang kubuat tapi tak satupun yang berhasil kucapai. Aku tak menyesal meski aku seringkali merasa terjebak dalam pekerjaanku sebagai staf akunting seperti saat ini. Tapi aku merasa banyak hal yang kurasa telah berhasil kugapai. Setidaknya aku memiliki sebuah pekerjaan untuk mengisi hidupku dan membuat hidupku sedikit lebih berarti sementara masih banyak orang yang kesulitan mencari pekerjaan terutama di tengah krisis global yang mendera saat ini, tak selayaknya aku mengeluh seolah tak mensyukuri keberuntunganku ini.

Meski aku belum berhasil menerbitkan satu buku pun tapi setidaknya hobi menulisku sudah memiliki salurannya dan meski mungkin tulisanku tak semutakhir para penulis berbakat tapi setidaknya aku dapat menumpahkan apa yang ada dalam benakku untuk menjadi sebuah kenangan akan diriku kelak. Ya, memang kenangan akan diriku mungkin tak sebesar sang raja pop tapi setidaknya ada sesuatu yang kutinggalkan untuk dunia ini yang dapat menceritakan bahwa pernah ada seorang manusia bernama Herny yang pernah hidup di dunia dengan begitu banyak cita-cita tapi tak satupun yang berhasil diraih namun ia tetap merasa bahagia dengan hidupnya karena hidup jauh lebih berarti dari segala macam retorika dan ia cukup bahagia menjadi pribadi yang tak ingin terbelenggu oleh sebuah cita-cita karena cita-cita adalah mimpi dan mimpi senantiasa membuat hidup jadi terasa bermakna.

Ah, hidup memang indah meski aku tak selalu berhasil mendapatkan apa yang kuinginkan. Meski aku tak berhasil mencapai satu pun dari cita-citaku tapi aku takkan pernah kapok untuk membuat sebuah cita-cita baru karena hal itu menandakan bahwa aku masih memiliki sesuatu untuk kuperjuangkan dalam hidupku yang fana ini. Dan memang hanya mimpi yang selamanya abadi di tengah kefanaan dunia.

Akhir kata, mimpiku saat ini adalah berharap Jenson Button bisa kembali meraih podium tertinggi setelah pada dua minggu lalu nyusruk di posisi keenam di depan publiknya sendiri.

All my wishes maybe can't be coming true but I'm pretty happy that I still alive so I still have a time to reach all my dreams till one of my dreams will be come true. One day. And I'll never stop to dream and hope as long as I can live.













Tidak ada komentar: