Total Tayangan Laman

Translate

Selasa, 14 Juli 2009

Masihkah Kau Ingin Meraih Bintang itu, Jens...?





Kesel. Gemes. Sebel. Semuanya campur jadi satu sampai-sampai aku tak tahu lagi warna emosiku saat menonton GP Jerman kemarin. Jengkel, karena biarpun kepala lagi nyut-nyutan gara-gara tidur kemaleman, saking bela-belain pengen nonton Qualifying yang ditayangin minggu dini hari (lama-lama aku juga jadi sebel berat sama global tv, sampai-sampai punya niatan kalo aja punya duit segudang, pengen banget bikin stasiun tivi yang acaranya tentang F1 semua dan yang pasti sesi qualifying apalagi race bakalan ditayangin live bukannya siaran tunda sampai dini hari seperti sekarang ini …..)

Dibilang jengkel, jelas jengkel banget (dan kuyakin semua pendukung JB dan Brawn pasti merasakan hal yang sama). Sudah dua kali Brawn (dan JB) dipecundangi RBR. Di depan publik sendiri , Jenson harus menggigit jari melihat the Young German (mainan baru Willi Weber, yang dulu memanageri Schumacher bersaudara) merebut podium tertinggi di hadapan para rekan sebangsa senegara Jenson. Dan ketika kupikir di GP Jerman, Jenson akan membalas Vettel dengan merebut podium di depan para kompatriatnya tapi boro-boro bisa balas dendam, Jenson malah keteteran di lapis tengah. Frustasi di belakang Heiki Kovalainen sampai pit stop pertamanya.

Jangankan meraih podium utama, masih bagus Jenson bisa finish kelima dan meraih empat poin untuk menambah pundi-pundi poin di klasemennya dan memang ia untuk saat ini masih memimpin di klasemen pembalap tapi untuk berapa lama? Jika RBR tak terbendung seperti dua penampilan terakhir mereka (di GP Inggris dan Jerman) sementara Brawn terus saja kesulitan dengan masalah bannya, maka Jenson harus kembali berkubang dalam kesedihan dan penyesalan saat gelar dunia yang di depan matanya harus terkubur kembali (amit-amit, semoga aja Jens, mimpi buruk itu segera berakhir dan kau bisa kembali memperlihatkan dominasimu seperti pada race-race awal yang telah memukau semua pecinta formula one dan kembali menyadari keberadaanmu).

Vettel memang tak berhasil meraih podium utama di tanah tumpah darahnya dan ia harus mengakui ketangguhan Mark Webber (yang biarpun nama belakangnya mirip dengan nama managernya tapi mereka sama sekali tak ada hubungan darah dan nama belakang mereka dibedakan oleh jumlah b) tapi finish di posisi dua juga tak buruk untuk Vettel, setidaknya dengan tambahan delapan poin, ia berhasil menggeser Rubens Barrichello dari posisi dua klasemen dan ia pun semakin mendekati perolehan poin Jenson di klasemen (benar-benar mimpi buruk bukan hanya untuk Jenson Button tapi juga mimpi buruk bagi para pendukung setia Jenson, kurasa, yang sudah lama mengharapkan si ganteng ini berhasil meraih gelar dunianya).

Aku sendiri sebenarnya tak terlalu mengerti dengan masalah teknis yang menyebabkan penampilan Brawn pada dua race belakangan ini yang tak seperti penampilan mereka pada awal-awal race yang demikian memukau. Namun aku tak percaya orang sejenius Brawn dengan ketrampilannya dalam mengatur strategi yang senantiasa setia membantu Michael Schumacher meraih tujuh gelar dunia dan membawa Ferrari pada masa-masa keemasannya ini tak mampu mengatasi persoalan teknis di tim yang dinamai dengan namanya sendiri ini. Karena itu aku benar-benar tak percaya ketika pada GP Jerman kemarin, Brawn GP seperti tim papan bawah yang tak tahu bagaimana cara memenangi balapan. Aku jadi bertanya-tanya kemana perginya Brawn GP, tim debutan tahun ini yang menjadi perbincangan hangat di awal musim?

Seperti yang kubilang sebelumnya bahwa aku tak mengerti masalah teknis yang membelit Brawn GP (nilai fisika dan matematikaku saja selalu jeblok, ngapain juga sok menganalisa masalah teknis yang bukan hanya membuat kepalaku botak tapi juga yang membaca tulisanku ini. He… he…)

Terserah deh mau dibilang orang yang percaya takhayul atau apapun istilahnya tapi ketika aku melihat helm baru Jenson yang dipakainya sejak GP Inggris, aku langsung merasa bahwa helm baru Jenson membawa bad luck for him. Nyatanya di GP Inggris, JB benar-benar dipermalukan di kandangnya sendiri. Kupikir, helm baru Jenson hanya untuk dipakai di home town-nya saja, tak tahunya di GP Jerman kemarin aku masih melihat helm jelek itu lagi (yang kata temanku seperti semangka tapi aku melihatnya seperti cakar alien). Pendapatku ini memang boleh saja dibilang ngaco dan gak ilmiah tapi aku lebih suka melihat ayahnya Jenson memakai kemeja pink, tertawa lebar menyambut kemenangan putranya daripada harus melihat helm semangka Jenson bertengger di kepalanya dan kepala di dalam helm itu berdenyut-denyut seirama detak jantungnya, menggeber mobilnya mengejar dua banteng (baca Red Bull Racing) yang tampil perkasa, jauh sekali di depannya itu. Ah, Jenson, semoga saja memang benar pendapatku itu cuma komentar asal yang konyol dan semoga memang benar helm semangkamu itu tidak ada hubungan dengan nasib jelekmu di dua GP terakhir ini tapi aku benar-benar berharap bisa melihat senyum lebarmu lagi di atas podium utama, mencium trophy, dan merasakan manisnya champagne kemenanganmu (kurasa kau belum lupa kan rasa manis champagne itu dan kurasa pula kau masih haus dan ingin mereguk champagne itu lagi, bukan?)

Terakhir, kuharap Ross Brawn dapat kembali menemukan performanya dan mampu mengangkat tim miliknya sendiri menjadi sensasi tersendiri di formula one dan berhasil mengukir prestasi terbaiknya. Menurutku, ironis sekali bagi Brawn yang selama ini berhasil mendalangi kesuksesan dua tim besar formula one, Renault-Benetton, dan Ferrari tapi tak berhasil mengangkat tim bertajuk namanya sendiri ke puncak tertinggi di ajang balap terbaik dunia ini.

Go Jenson, jalan di depan menuju gelar dunia masih panjang, berliku dan terjal tapi kau kan pernah menghadapi yang lebih buruk dari ini dan kurasa kau bukan pria cengeng yang mudah menyerah, bukan? So, go for it, Jens! Go for your first World Champion! Jangan biarkan bintang yang sudah hampir kau raih itu menjauh kembali, Jens!



Gambar dipinjam dari : blogs.thetimes.co.za

Tidak ada komentar: