Total Tayangan Laman

Translate

Selasa, 08 September 2009

Friend or Foe...?



Persaingan di dunia Formula One bisa dibilang tak ubahnya pertarungan hidup mati seperti di medan perang terlebih di jaman ketika masalah safety bukanlah hal yang utama, kadang kematian dan maut merupakan teman sekaligus musuh dalam selimut bagi pembalap F1 dan para penonton di sirkuit. Meski sekarang ini F1 tak lagi sebringas dulu tapi toh kecelakaan yang menimpa Massa pada qualifying Hungaria beberapa minggu yang lalu bisa dibilang bukti bahwa masalah safety selamanya menjadi polemik bagi F1, di satu sisi F1 memang olahraga yang berhubungan dengan maut tapi di sisi lain keselamatan pembalap dan penonton tetap merupakan poin utama bagi penyelenggara.

Namun seperti sebuah roman epik, justru kepahlawanan di dunia F1 tercipta dari momen-momen heroik yang terkadang berujung pada berakhirnya hidup sang tokoh yang dalam hal ini sang pembalap walau kisah heroik itu tak melulu merenggut nyawa sang pembalap seperti kisah heroik Massa di balapan penghujung musim tahun lalu di mana ia nyaris meraih gelar dunia pertamanya di depan publiknya sendiri tapi ia justru dihempaskan hanya sepersekian detik dan siapa sangka pula seorang Glock berperan serta dalam pertarungan sengit antara Massa dan Hamilton dalam meraih gelar dunia itu. Dan ketika Massa berharap tahun ini ia berhasil meraih mimpinya yang tertunda di musim lalu itu, ia justru harus berkutat dengan buruknya performa timnya malahan kini karirnya sepertinya tak terlalu jelas setelah kecelakaan di sesi kualifikasi GP Hungaria di mana ia hampir saja kehilangan nyawanya setelah serpihan dari mobil Rubens Barrichello dari tim Brawn GP mengenai wajahnya.

Sejatinya manusia itu adalah makhluk sosial. Begitupun dengan para pembalap F1 yang terdiri dari darah dan daging. Bagaimanapun kerasnya persaingan di antara mereka dalam merebut kemenangan tapi sisi humanis dari diri mereka masing-masing tak mungkin teringkari. Dan selama kehidupan masih tercipta di bumi ini, nilai-nilai humanis selalu saja membuat hidup manusia menjadi lebih berarti.

Bila di dunia politik terkenal istilah tak ada kawan atau lawan abadi selain kepentingan pribadi namun di dunia F1 sepertinya lawan abadi adalah juga kawan abadi. persaingan di antara mereka sedikit banyak justru malah membuat mereka saling terikat satu sama lain. Tak percaya, berikut ini kucoba merangkum lima pasang pembalap yang saling bersaing tapi juga bersahabat atau setidaknya memiliki ikatan yang lebih kuat dari ikatan manapun di dunia ini seperti yang terjadi pada hubungan Senna-Prost.

1. Ayrton Senna - Alain Prost
pic taken from: www.funkywheelchairs.com

Tak ada yang menyangkal kehebatan Ayrton Senna maupun Alain Prost di dalam kokpit F1. Keduanya adalah mega bintang dan menyatukan mega bintang mungkin saja dapat mengakibatkan konstilasi dalam jagad raya dan membahayakan bumi ketika serpihan meteor dari tabrakan mega bintang itu terjun bebas menghujam planet bumi.

Tapi Ron Dennis berpikir penyatuan mega bintang mungkin malah dapat membuat galaxy makin bercahaya. Sulit memang tapi ia selalu merasa yakin ia dapat menyatukan ego besar kedua mega bintang itu dan memetik keuntungan bagi tim dari persaingan kedua duo mega bintang itu.

Prost yang lebih dulu di McLaren telah memetik dua gelar bersama tim Silver Arrow itu pada tahun 1985 dan 1986 tapi rupanya sang bos, Ron Dennis tak cukup puas dengan hanya memiliki seorang Prost. Ia pun merekrut Ayrton Senna pada tahun 1988 dan pertempuran antara Senna dan Prost pun dimulai. Dengan mesin yang sama dan sumber daya manusia yang sama namun Prost yang lebih lama di tim mestinya diuntungkan karena ia memiliki ikatan yang lebih kuat daripada sang bintang Brazil yang baru masuk itu. Tapi nyatanya Prost harus menelan kekecewaan demi kekecewaan ketika ia merasa tim lebih condong kepada The Brazilian itu. Senna berhasil meraih gelar dunia pertamanya bersama timnya Ron Dennis itu pada tahun 1988 tapi Prost langsung membalasnya dan merebut gelar dunia dari Senna pada tahun 1989. Darah Brazil Senna langsung menggelegak, dua tahun berturut-turut ia menghempaskan Prost. Ia merebut gelar dunianya kembali dari tangan Prost pada tahun 1990 dan berhasil mempertahankannya pada tahun 1991.

Tak tahan harus menelan kekalahan terus menerus dari rekan setimnya, Prost pun hengkang dari McLaren dan bergabung bersama Williams sambil terus melanjutkan persaingannya dengan Senna tapi di tim yang berbeda dengan mesin yang berbeda dan sumber daya yang berbeda pula tentunya. Perubahan suasana ternyata memberikan dampak yang baik bagi Prost. Ia segera saja berhasil meraih gelar dunia keempatnya bersama Williams-Renault pada tahun 1993 tapi di penghujung musim ia segera mengumumkan pengunduran dirinya setelah mantan rekan setimnya sekaligus seterunya, Senna dikabarkan akan bergabung dengan Williams pada tahun 1994 dan kenangan masa-masa sulit bersanding bersama Senna di McLaren sepanjang tahun 1985 hingga 1992 segera membuat Prost segera mengambil keputusan. Mengakhiri karirnya di F1. Perginya Prost dari dunia F1 bersama gelar dunia terakhirnya itu ternyata mengecewakan Senna yang merasa kehilangan dan merindukan saat-saat pertempuran sengit mereka yang harus bertarung sendirian di Williams pada tahun 1994 tanpa ditemani seterunya. Ternyata tahun 1994 justru menjadi tahun terakhir Senna di F1 sekaligus di dunia fana ini. Tikungan Tamburello di sirkuit San Marino merenggut salah satu pembalap terbaik F1. Dunia berduka atas kematian Senna begitu pula dengan seteru abadi Senna, Alain Prost yang pada upacara pemakaman Senna mengungkapkan isi hatinya bahwa ia merasa seolah separuh jiwanya ikut mati bersama Senna, kata-kata yang hampir mirip dikatakan Senna ketika Prost mengumumkan pengunduran dirinya di akhir musim 1993. Kala itu Senna mengatakan bahwa ia akan merindukan Prost tapi justru Prost yang selamanya kehilangan seteru abadinya sekaligus sahabat terbaiknya.

Ternyata persaingan tak selamanya menciptakan jurang pemisah tapi malah merekatkan hubungan antara kedua pesaing itu.

2. Michael Schumacher dan Mika Hakkinen
pic taken from: tmp.grandprixgames.org

Persaingan keduanya mungkin tak seekstrim Senna dan Prost yang harus bertarung merebut kemenangan dan gelar dunia di tim yang sama tapi tetap saja aura persaingan kedua pembalap hebat ini pun sangat sengit dan selalu menarik ditonton. Bahkan persaingan keduanya dalam merebut gelar pun telah menciptakan kelompok pendukung di antara rekan sesama pembalap. Para pendukung Mika menjuluki Mika adalah telur baik sementara Schumi telur busuk. Tapi apapun bentuk pertikaian mereka di sirkuit ternyata tak berpengaruh pada hubungan mereka di luar trek.

Bahkan Mika yang pernah sampai kelelahan dan hampir mati karena dehidrasi setelah dipaksa meladeni kepiawaian Schumi sebagai pembalap kedua terbaik di dunia pada GP Malaysia 1999. Mika memang berhasil meraih gelar dunia keduanya tahun itu setelah Schumi mengalami kecelakaan hebat di Silverstone yang hampir saja membuatnya harus mengakhiri karir balapnya lebih cepat. Setelah Schumi harus absen hampir separuh musim di tahun 1999, pertarungan gelar terjadi antara Mika dan rekan setim Michael di Ferrari, Eddie Irvine. GP Malaysia bisa dibilang merupakan GP yang krusial bagi Eddie dalam meraih gelar dunia pertamanya dari Mika tapi dengan team matenya yang ada, ia tak yakin dapat meraih gelar itu, ia pun meminta bantuan Luca di Montezemolo agar dapat membujuk Schumi untuk turun balapan dan membantunya meraih gelar dunia. Irvine memang tak salah, pembalap sehebat Mika tentu saja harus dikalahkan oleh pembalap hebat yang setara dengannya dan tak ada yang dapat mengalahkan Mika selain Michael Schumacher. Terbukti, di GP Malaysia, Mika harus menahan emosi di dalam kokpit silver arrownya meladeni Schumi yang memperlihatkan skill membalapnya yang luar biasa. Irvine melenggang menjadi juara berkat bantuan Schumi yang berhasil menahan Mika untuk tetap berada di tempat ketiga. Ekspresi wajah Mika yang kelelahan memperlihatkan bagaimana beratnya GP yang harus dijalaninya hari itu dan sangat kontras dengan wajah gembira Schumi yang meski harus puas di tempat kedua di belakang rekan setimnya tapi ia bisa memperlihatkan pada Mika bahwa ia siap bertarung untuk merebut gelar darinya pada musim berikut.

Meski begitu baik Mika maupun Michael saling menghormati satu sama lain. Tak jarang keduanya terlihat di luar trek membahas aksi mereka ketika di lintasan. Mika memang lebih dulu pensiun dari F1. Meski perasaan kehilangan Schumi terhadap Mika tak sedalam perasaan Senna ketika Prost pensiun tapi pastinya Schumi pun merasa kehilangan seorang lawan yang luar biasa seperti Mika.

Dekatnya hubungan Michael dan Mika pun terlihat dengan kehadiran Mika pada balapan pamungkas Michael di GP Brazil 2006.

3. James Hunt - Niki Lauda
pic taken from: www.grandprix.com

Persahabatan kedua pembalap ini memang bukan berita baru di F1. Meski keduanya membela tim yang berbeda dan saling bersaing secara jujur dan adil tapi semua persaingan itu toh tetap tak mengaburkan nilai persahabatan yang terjalin di antara mereka.

Kalau saja kecelakaan yang menimpa Lauda di Nurburgring 1976 tak terjadi mungkin catatan sejarah akan tercetak sedikit berbeda. Tapi apapun yang terjadi pada tahun itu, Lauda sadar bahwa ia mungkin akan kehilangan gelarnya tahun itu tapi siapa sangka bahwa yang merebut gelarnya itu justru sahabatnya sendiri, James Hunt.

Sebelum GP Fuji 1976 sebenarnya Hunt hanya perlu finish keempat untuk meraih gelar dunia dari Lauda tapi di tengah cuaca yang buruk dan problema ban yang menyertai justru Hunt berhasil finish di podium ketiga.

Lauda yang harus mengakhiri balapan lebih awal dan membawa Ferrarinya masuk kandang sebelum balapan berakhir. Ia tengah dalam perjalanan menuju bandara ketika berita gelar dunianya berhasil direbut sahabatnya lewat radio di dalam taxi yang ditumpanginya. Mungkin ada sedikit perasaan kecewa dalam hati Lauda tapi ia dengan tulus mengungkapkan rasa bahagianya atas keberhasilan sahabatnya. Aku jadi teringat salah satu bait dalam puisi teman baikku yang ditulisnya sewaktu kami masih mengenakan seragam putih biru. Dalam puisinya itu, ia mengatakan bahwa persahabatan adalah kehidupan yang membawa kita untuk jadi diri sendiri. Persahabatan adalah mengasihi tanpa memiliki tapi merasa dimiliki dan dikasihi. Persahabatan seharusnya mengajarkan padamu bagaimana membahagiakan orang lain dan bukannya memenangkan keinginan-keinginanmu....

4. Patrick Tambay dan Gilles Villeneuve

pic taken from : www.ventisetterosso.com

Momen di GP Eropa beberapa minggu lalu di mana Rubens Barrichello berhasil menjadi juara dan kemenangannya itu didedikasikannya bagi Felipe Massa, teman baiknya sekaligus rekan senegaranya yang mengalami kecelakaan usai salah satu serpihan mobilnya mengenai mata kiri Massa di kualifikasi GP Hungaria tiga minggu sebelum GP Eropa berlangsung. Bahkan untuk menunjukkan dukungannya pada Massa yang masih dalam tahap penyembuhan dan pemulihan diri, Rubens mencetak kalimat dukungan agar Massa cepat pulih di bagian atas helmnya. (Rubens malah meniru gaya Massa mencium lensa televisi saat berhasil menjuarai GP Eropa, yang pertama kalinya sejak ia terakhir kali menginjak podium utama bersama Ferrari di tahun 2004).

Kemenangan Rubens yang didedikasikan bagi Massa di GP Eropa itu mengingatkanku pada kejadian yang hampir persis sama pada GP Jerman 1982.

Setelah kematian Gilles di GP Zandvoort tiga bulan sebelum GP Jerman, Ferrari merasa tak ada yang pantas menggantikan tempat Gilles selain sahabatnya sendiri, Patrick Tambay.

Perjalanan karir keduanya di F1 tak ubahnya seperti dua sisi mata uang yang meski saling melekat erat tapi takdir membuat mereka menjalani kehidupan mereka secara berbeda.

Keduanya memulai balapan di GP Silverstone 1977. Gilles bersama McLaren sementara Tambay membela Theodore. Saat Gilles pindah ke Ferrari, Tambay yang menggantikan posisinya yang lowong di McLaren. Seharusnya saat itu dunia dapat melihat pertarungan sengit dua sahabat ini tapi ternyata takdir berkata lain. Cahaya McLaren malah meredup sementara bintang Gilles bersama Ferrari malah bersinar terang. Tambay pun akhirnya kembali ke dalam pelukan tim lamanya, Theodore yang tengah sekarat. Tak lama kemudian Tambay bergabung bersama Ligier yang keadaannya idem dito dengan tim lamanya. Tambay sudah berniat pensiun tapi kemudian Ferrari memintanya mengisi posisi sahabatnya yang tewas secara tragis di tim kuda jingkrak itu.

Pastinya berat bagi Tambay menggantikan tempat sahabatnya di Ferrari terlebih bersama rekan setim yang sedikit banyak memberikan kontribusi atas kecelakaan yang menewaskan sahabatnya itu. Tapi Tambay tak menyia-nyiakan kesempatan untuk bergabung dengan tim besar dan melanjutkan impian sang sahabat.

Tambay mungkin tak terlalu berharap banyak ketika menggeber Ferrarinya di GP Jerman meski hatinya bergejolak ingin merebut kemenangan sekaligus memberikan kenangan terindah untuk sahabatnya yang mungkin tengah menatapnya dan mendukungnya agar meraih mimpinya itu.

Entah apakah yang terjadi di GP Jerman itu bisa disebut takdir atau hanya secuil kisah dari perjalanan manusia yang tak lepas dari suratan hidup yang disebut takdir. Rekan setim Tambay yang telah membuat Gilles membawa kebenciannya ke alam kubur mengalami kecelakaan yang hampir mirip dengan Gilles meski nyawa Pironi selamat tapi karir balapnya di F1 tamat. Sementara Tambay melesat menuju finish dan berhasil meraih kemenangannya. Dan ia mempersembahkan kemenangannya itu untuk sahabatnya yang telah tenang di alam sana dan mungkin tengah tersenyum menatapnya, berbagi kememangan mereka di podium.

Perjalanan persahabatan antara Tambay dan Gilles menurutku sangat manis. Mereka selalu saling mengisi. Bakat balap Gilles memang lebih cemerlang dibanding Tambay tapi setiap kali Gilles pergi justru Tambay lah yang mengisi posisi Gilles.

Ketika Gilles keluar dari Kanada dan memasuki dunia F1, Tambay lah yang memberi tumpangan bagi Gilles dan istrinya serta kedua anak mereka, Jacques dan Melanie yang masih kecil-kecil. Perbedaan nasib di antara mereka ternyata tak serta merta merenggut jalinan persahabatan di antara mereka. Bahkan meski Gilles telah pergi pun, Tambay senantiasa berbagi kenangan manis dengan sahabatnya itu.

5. Fernando Alonso dan Jarno Trulli
pic taken from: www.tribuneindia.com

Sama seperti GV dan Tambay, persahabatan antara Alonso dan Trulli juga bukan berita baru di F1. Mereka pernah bernaung di bawah tim yang sama dengan manajer yang sama pula. Namun, walaupun mereka pernah berada di tim yang sama tapi persaingan mereka tak sesengit seperti Prost dan Senna.

Di Renault, mungkin Alonso yang lebih diistimewakan tapi justru Trulli lah yang berhasil meraih kemenangan bagi tim biru dari Perancis itu di GP Monaco 2004 setelah F2004 Michael Schumacher ditabrak Montoya dan penonton tercengang melihat mobil merah yang selalu mencatat nilai sempurna pada balapan-balapan sebelumnya itu terlihat kacau balau saat keluar dari terowongan.

Sayangnya, meski Trulli berhasil meraih kemenangan tunggal bagi Renault tapi Flavio Briatore malah mendepak Trulli yang langsung lari ke Toyota bahkan sebelum musim 2004 berakhir. Namun meski akhir hubungan Trulli dengan Renault dan Flavio harus berakhir menyakitkan tapi sepertinya hubungan mereka berdua tetap baik hingga sekarang ini.

Mungkin hubungan persahabatan mereka tak sespektakuler pasangan yang lainnya tapi berada di tim yang sama dengan ambisi yang sama pastinya sulit bagi dua orang manusia yang sebenarnya bersahabat. Kemungkinan salah satunya akan melukai bisa saja terjadi yang mungkin akan mengoyakkan ikatan persahabatan itu. Tapi kedua pembalap ini dan empat pasang pembalap lainnya memperlihatkan bahwa persaingan tak selalu memutuskan jalinan sebuah persahabatan malah tak menutup kemungkinan juga persaingan justru menjadi benang merah yang mengikatkan dua orang manusia ke dalam sebuah ikatan yang lebih kuat dibanding ikatan manapun di dunia seperti yang terjadi antara Senna-Prost dan Schumi-Mika.

Sepeti yang kuungkapkan di atas, sebenarnya aku ingin mencari sebanyak mungkin pasangan pembalap yang saling bersahabat tapi aku hanya berhasil merangkum kelima pasang pembalap ini yang memiliki jalinan persahabatan yang membuat F1 tak sekering sirkuit Bahrain atau sesempit trek di Monaco. Sisi humanis ini membuat F1 jadi terlihat lebih manusiawi dan beradab di tengah persaingan sengit demi sebuah gelar dan mimpi.

Tapi jika pembaca mengetahui pasangan sahabat lainnya dari pembalap F1, tolong bagi-bagi infonya ya supaya F1 tak melulu berkutat seputar intrik dalam perebutan juara. Toh, pembalap juga manusia....

Karena tulisan ini ingin kupersembahkan untuk teman baikku Selvia Lusman yang telah sabar meladeniku sebagai seorang sahabat yang degil sejak kami di SMP jadi kututup tulisanku ini dengan puisi yang dibuatnya ketika perjalanan hidup kami masih dihiasi oleh kenaifan dan keluguan masa remaja kami ....
pic taken from : www.myspace.com

PERSAHABATAN
karya : Selvia Lusman

Persahabatan, adalah sebuah kata yang teramat indah
di sana kita temukan tawa riang dan senyum ceria
Sesekali pertengkaran yang ternyata melelahkan
karena kita kehilangan sosok yang demikian berarti
untuk kita

Di sana keegoisan bukan lagi satu kelemahan tapi satu sifat
yang perlahan sirna oleh kasih sayang
Di sana memberi adalah kebahagiaan
dan menerima jadi satu keharusan

Persahabatan adalah kehidupan yang membawa kita
untuk jadi diri sendiri
Persahabatan adalah mengasihi tanpa memiliki tapi
merasa dimiliki dan dikasihi
Persahabatan seharusnya mengajarkan padamu bagaimana
membahagiakan orang lain dan bukannya memenangkan
keinginan-keinginanmu

Persahabatan lemah lembut dan manis,
polos dan apa adanya,
naif dan lugu,
namun menyentuh dan indah.

pic taken from : www.myspace.com

Tidak ada komentar: