Total Tayangan Laman

Translate

Selasa, 01 September 2009

Now Or Never




Pic taken from www.topnews.in

Tak terasa balapan formula one tahun ini telah berjalan lebih dari separuh musim dan kini sirkus F1 sudah hampir di ujung musim. Namun ternyata kejutan-kejutan ala Formula One tetap saja terjadi, contohnya gagalnya Jenson Button, sang pemimpin klasemen, menembus Q2 pada sesi kualifikasi yang membuatnya harus puas memulai balapan di grid ke empat belas. Ajaibnya, tim Force India yang selama ini hanya dipandang sebelah mata mampu membuat semua publik terbelalak setelah Giancarlo Fisichella berhasil menyingkirkan nama-nama besar lawannya yang berada di tim-tim papan atas dengan meraih pole position yang pertama untuk tim-nya Vijay Mallya ini dan di balapan pada hari Minggu kemarin mampu bersaing ketat dengan Ferrari-nya Kimi Raikkonen dan meraih podium kedua, sebuah hasil yang luar biasa bagi tim underdog seperti Force India.

Sepanjang sejarahnya, Formula One memang senantiasa penuh dengan kejutan-kejutan. Dan tahun ini semua kejutan itu berawal di GP Australia sebagai balapan pembuka musim di mana sebuah tim privateer debutan, Brawn GP berhasil menarik perhatian segenap publik pecinta dunia balap ini. Bersama Jenson Button, Brawn GP merayakan sukses beruntun pada musim awal. Jenson bersama Brawn GP pun sukses bertengger di puncak klasemen.

Namun sayangnya dominasi Jenson Button yang sempat membuat ketar-ketir the Supremo F1, Bernie Ecclestone, tak berlanjut pada pertengahan musim. Usai Turki, Brawn GP dan Jenson malah keteteran mengejar tim-tim lawan yang melakukan perkembangan jauh lebih baik pada besutan mereka masing-masing. Ironisnya, awal dari mimpi buruk Jenson justru di GP Inggris. Di sirkuit Silverstone yang jaraknya tak terlalu jauh dari kampung halamannya itu, Jenson justru dipermalukan habis-habisan oleh Sebastian Vettel dan tim Red Bull-nya. Sebuah rencana pembalasan dendam pun dibuat. Jenson berjanji akan balas menghabisi Vettel di kampungnya pada GP Jerman yang akan digelar dua minggu kemudian.

Sayangnya, alih-alih membalas dendam, Jenson malah dibuat frustasi dengan BGP01-nya itu. Meski Vettel tak berhasil menjadi juara di kandangnya sendiri dan harus puas berada di tempat kedua di belakang Mark Webber, rekan setimnya sendiri, namun keberadaan duo Red Bull itu mulai mengancam posisi puncak Jenson Button.

Seperti kemenangan dan keberuntungan yang menyertai Jenson di awal musim, pada pertengahan musim justru kemalangan dan kegagalan yang terus menerus menjadi pil pahit yang harus ditelan Jenson Button. Usai gagal di kandangnya dan di GP Jerman, Jenson lagi-lagi harus berkutat di deretan papan tengah berusaha tetap menjaga konsentrasinya hanya demi memperoleh poin agar posisinya sebagai pemimpin klasemen tetap aman.

GP Hungaria yang pernah memiliki kenangan manis bagi Button di mana pada tahun 2006, ia berhasil meraih kemenangan pertamanya di sirkuit yang terletak di kota Budapest ini. Jenson berharap nasib malangnya akan berakhir di tempat ini, di tempat di mana ia pernah mengukir sebuah catatan paling bersejarah dalam hidupnya. Namun, lagi-lagi Jenson dan tunggangannya masih belum sanggup menemukan performa terbaik mereka seperti di GP Australia, Malaysia, Bahrain, Spanyol, Monaco, dan Turki.

Setelah lama tenggelam, akhirnya Brawn GP, tim di mana Jenson bernaung, berhasil menemukan performa terbaik mereka kembali di GP Eropa, namun kali ini yang bersinar bersama tim mantan direktur teknik Ferrari itu adalah Rubens Barrichello, team mate Jenson yang lebih senior. Dan berkat kemenangannya di GP Eropa itu, rekan setim Jenson pun berhasil mendekati posisi Jenson di klasemen pembalap. Perebutan gelar dunia pun makin sengit.

Mungkin puncak dari semua kemalangan Jenson Button adalah di GP Belgia kemarin dimana ia gagal menembus Q2 pada sesi kualifikasi, pertama kalinya pada musim ini karena pemilihan ban yang salah. Namun sebagai seorang juara dunia sejati, tak layak bagi Jenson berkubang dalam kesedihan di babak kualifikasi itu, ia harus bangkit dan menatap balapan esok hari. Menjelang start, dengan tatapan mata tajam seorang pemburu, ia menatap lurus ke depan, ke lintasan sirkuit dan jejeran mobil-mobil yang harus dilewatinya demi merebut kembali podium pertamanya yang hilang pada beberapa balapan. Namun, manusia berencana, Tuhan pula yang menentukan. Kecelakaan di tikungan pertama pada lap pembuka malah mengandaskan harapan Jenson Button. Ia pun harus menyudahi balapannya jauh lebih cepat dari yang diperkirakannya. Kecewa, tentu saja, tapi sebagai seorang calon juara dunia Jenson seharusnya bisa segera melepaskan diri dari semua tekanan ini karena itulah yang persyaratan paling utama yang harus dimiliki seorang pembalap yang berhasrat meraih gelar juara dunia selain kemampuan balapnya yang luar biasa.

Sedikit curhatan pribadi, sejujurnya setelah Michael Schumacher dipastikan urung turun membela tim kuda jingkrak di GP Eropa, aku berharap ia akan turun di GP Belgia yang digelar seminggu setelah GP Eropa. Mustahil memang karena cedera leher yang dialami Schumi akibat keikutsertaannya dalam balapan super bike setelah ia mundur dari dunia F1 sebenarnya cukup serius dan tak mungkin ia turun balapan bila pada seminggu sebelumnya saja ia tak dapat membalap karena cedera lehernya itu, tapi aku selalu berpikir bahwa dunia ini penuh dengan segala macam kemungkinan dan keajaiban. Aku berharap keajaiban akan terjadi, terlebih melihat penampilan Luca Badoer di GP Eropa seminggu yang lalu itu benar-benar telah mempermalukan tim papan atas itu, pastinya petinggi Ferrari berharap kehadiran seorang pembalap yang jauh lebih baik yang tahu bagaimana cara membalap dan pastinya yang mampu memberikan kebanggaan bagi tim legendaris di jagad F1 itu. Siapa lagi yang layak mengisi posisi itu selain jagoan mereka, sang juara dunia tujuh kali, Michael Schumacher? Meski rumor yang beredar Ferrari mulai melirik Fernando Alonso tapi untuk merekrut pembalap Spanyol itu dari tim Renault pastinya memerlukan birokrasi yang panjang dan berbelit-belit.

Sebenarnya juga harapanku untuk melihat Michael Schumacher kembali membalap di GP Belgia bukannya tanpa alasan. Di GP Belgia ini Schumi memulai debutnya pada tahun 1991 bersama tim Jordan menggantikan Bertrand Gachot yang masuk penjara, seminggu sebelum balapan GP Belgia, karena masalah hukum yang dihadapinya. Saat itu Michael Schumacher bukanlah siapa-siapa, Willi Weber, managernya berusaha membujuk Eddie Jordan agar memberi kesempatan bagi anak asuhnya itu. Jordan pun mengetes Schumi yang tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan membuat sang bos terkesan. Namun meski terkesan, tim Jordan yang membutuhkan dana tak serta merta memberikan kursi balap bagi pemuda Jerman itu. Ia harus membeli kursi balapnya. Sang manager yang yakin bahwa anak asuhnya itu adalah berlian yang akan bersinar suatu saat nanti tanpa segan segera merogoh koceknya sendiri demi membayari kursi pertama sang juara dunia tujuh kali itu.

Istimewanya adalah Schumi tak pernah menjajal sirkuit ini sebelumnya namun ketika ia ditanya apakah mengenal sirkuit ini, Schumi yang takut kesempatannya masuk F1 batal dengan keyakinan penuh menjawab ya. Usai itu dengan bersepeda Schumi mengelilingi sirkuit untuk mengenal kondisi trek yang baru dikenalnya itu. Hasilnya ia berhasil menarik perhatian seisi jagad F1 pada sesi kualifikasi. Dengan Jordan 191-nya ia berhasil meraih posisi start ke-7, sayang di race ia harus mengakhiri balapan lebih awal setelah pada lap pertama kopling mobilnya rusak. Namun penampilannya di balapan perdananya itu telah menarik minat Flavio Briatore dari Benneton yang segera menarik anak muda dari Jerman itu untuk membalap bagi timnya pada balapan berikutnya di GP Italia.

Keputusan Schumi bergabung dengan tim Benetton ternyata tak salah. Ia berhasil meraih poin pertamanya setelah berhasil finish di tempat kelima. Namun yang paling penting adalah saat sesi kualifikasi ia berhasil mengalahkan rekan setimnya yang lebih senior, mantan juara dunia, Nelson Piquet. Bersama tim Benetton pula, Schumi berhasil meraih kemenangan pertamanya setahun setelah ia memulai debutnya di tempat di mana ia pertama kali memasuki dunia Formula One. Di GP Belgia 1982 kemenangan pertama Schumi bersama B 192 itu sebenarnya sangat istimewa mengingat mobilnya masih menggunakan gigi manual sementara FW 148 milik tim Williams sudah menggunakan yang semi otomatis dan active ride.

Meski begitu Spa tak selalu memberikan kenangan manis bagi Schumi seperti di Spa tahun 1995, Schumi berhasil memenangi balapan tapi sayangnya rivalitasnya dengan Damon Hill membuat kemenangannya ini ternoda setelah ia diskorsing karena dianggap telah memblok Hill.

Di Spa 1998 pun Schumi harus mengalami kenangan buruk. Saat itu hujan turun sangat deras sehingga pandangan Schumi yang tengah memimpin balapan tak melihat mobil David Coulthard dan ia pun tanpa sengaja menabrak bagian belakang McLaren DC, kemenangan yang ada di depan matanya pun sirna.

Namun Spa tetap saja merupakan tempat yang memiliki banyak kenangan manis bagi Schumi. Di sirkuit ini pula ia berhasil mengunci gelar ketujuhnya meski ia hanya finish di tempat kedua di belakang Kimi Raikkonen pada tahun 2004.

Dengan sederetan analisaku di atas tak heran bila aku berharap dapat melihat Schumi kembali membalap di tempat di mana ia memulai sihir ajaibnya yang telah menyihir segenap pecinta Formula One dengan seluruh bakat dan kejeniusannya itu.

Tapi inti dari semuanya ini adalah sebuah kesempatan yang harus benar-benar dimanfaatkan karena kesempatan tak selalu datang dua kali. Dan mungkin tahun ini adalah kesempatan bagi Jenson untuk merebut gelar dunianya. Jenson memang mungkin telah melakukan beberapa kesalahan tapi seorang Michael Schumacher sekalipun bahkan kerap dicerca oleh beberapa orang yang menganggap bahwa Michael adalah juara dunia yang paling banyak melakukan kesalahan tapi seorang juara dunia sejati adalah orang yang tak layu hanya karena kecaman justru seharusnya kecaman dan caci maki itu menjadi senjata pamungkas baginya menuju gelar juara sesungguhnya.

Pada akhirnya seorang juara dunia sejati adalah orang yang mau belajar dari kesalahannya menuju kesuksesan. Kesempatan tak selalu datang dua kali, karena itu seharusnya Jenson dapat menggunakan kesempatannya kali ini. Kuharap Jenson dapat segera berbenah diri agar gelar dunia yang di depan matanya tak luput dari tangannya pada penghujung musim nanti. Seluruh dunia tengah menanti lahirnya sang juara dunia sejati dan kuharap Jenson Button lah sang juara dunia sejati itu. Namun yang terpenting, Jenson harus dapat menunjukkan bahwa ia sanggup menjadi juara dunia dengan cara mengatasi tekanan yang dihadapinya itu. Karena para juara dunia sebelumnya telah menunjukkan bahwa mereka pantas menjadi juara dunia dengan mengatasi tekanan yang mereka hadapi menuju puncak itu. Jenson telah sering menghadapi tekanan dan ia selalu mampu mengatasinya karena itu kuyakin kali ini pun Jenson akan dapat menemukan ruang baginya dan menunjukkan performa terbaiknya itu, sebuah kemampuan yang didapatnya lewat berbagai pengalaman pahit manis yang dilaluinya sepanjang perjalanan hidupnya. Jenson pernah mengalami keadaan sebagai Hero lalu terlempar menuju tempat tergelap sebagai Zero dan siklus from hero to zero, from zero to hero terus menerus dihadapinya tapi pada akhirnya Jenson akan mampu menunjukkan bahwa ia adalah seorang juara sejati yang tak pernah melupakan pelajaran yang diajarkan oleh sang guru yang bernama Pengalaman.

Go Jenson, I always keep my eyes on you because I believe you are the raising star that will show the brightest light on the galaxy named Formula one....

Tidak ada komentar: