Total Tayangan Laman

Translate

Rabu, 23 September 2009

Gone With The Wind


pic taken from : www.automobilsport.com

Semula aku tak tahu akan menulis apa dan sepertinya minat menulisku tengah terkubur dalam kebosanan selama libur ini. Namun semangat ingin menulisku muncul kembali ketika kulihat sebaris kalimat pendek di running text TV One, yang mengungkapkan prediksi juara dunia F1 tujuh kali, Michael Schumacher terhadap Button yang diyakininya akan menjadi juara dunia F1 tahun ini. Segera saja aku ngibrit ke warnet dan langsung membuka autosport.com, ternyata memang benar kalimat yang kubaca di tv tadi.

Memang musim ini masih menyisakan lima GP lagi dan dengan penampilan Jenson yang buruk setelah kemenangan luar biasanya di GP Turki ditambah nasib apesnya di GP Belgia dimana ia bahkan harus mengakhiri balapannya lebih awal setelah mengalami kecelakaan di awal lomba, rasanya jalan Jenson menuju mahkota juara dunia tak semudah dan semanis ucapan sang juara dunia yang tujuh kali yang telah banyak mengalami pahit manis masa-masa di F1 itu tapi bila melihat penampilan Jenson yang membaik pada GP Italia kemarin di mana ia sempat menjadi yang tercepat di Q2 tapi pada Q3 catatan waktunya kalah dibanding peraih pole, Lewis Hamilton yang membawa bahan bakar jauh lebih sedikit dibanding Jenson. Somerset boy ini pun harus puas start di belakang rekan setimnya, Rubens Barrichello yang membawa bahan bakar hampir setara dengannya.

Namun hasil GP Italia dua minggu lalu bisa dibilang oase bagi Jenson yang mengalami duka beruntun sejak GP Inggris hingga GP Belgia. Walaupun Jenson tidak meraih nilai penuh di Monza, sirkuit yang dipenuhi roh-roh para pembalap hebat F1 seperti Ascari, namun podium kedua bisa jadi merupakan titik balik Jenson yang menemukan kembali break point-nya setelah melewati masa euforia kemenangan beruntunya di awal musim kemudian sedikit kehilangan fokus atau mungkin merasa sedikit tertekan dengan beban yang mulai terasa memberati pundaknya, apapun itu, Jenson sepertinya telah dapat menata dirinya, menyadari apa yang benar-benar diinginkannya, hal yang telah lama didambakannya. Be The Next World Champion!

Aku pribadi takkan pernah berhenti meyakini bakat luar biasa the English man ini. Meski Jenson mudah sekali teralihkan pikirannya tapi Jenson selalu tahu apa yang diinginkannya dan ia tak pernah menyerah sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya itu.

Jenson juga bukanlah seorang yang gampang menyerah bahkan ucapan skeptik ayahnya sekalipun yang pernah meragukan bakatnya, seperti yang dikisahkan Alan Henry untuk F1 Racing, di mana sekali waktu dulu ketika Jenson masih berumur sepuluh tahun dan ia beserta kedua orang tuanya tengah dalam perjalanan pulang dari karting, ayahnya, John Button, yang mengira Jenson telah tertidur di kursi belakang, berkata pada istrinya bahwa ia merasa sepertinya Jenson tidak berbakat (di bidang balapan, tentunya). Jenson yang ternyata tidak tidur seperti yang dikira orang tuanya mendengar apa yang dikatakan ayahnya. Ia menyimpan ucapan ayahnya itu di dalam hatinya yang ternyata menjadi cambuk baginya untuk memperlihatkan pada ayahnya bahwa ia salah menilai bakatnya. Beberapa tahun kemudian Jenson ternyata benar-benar membuktikan kekeliruan ayahnya dalam menilai bakatnya itu. Dan setelah ia berhasil membuktikan pada ayahnya, ia mengatakan pada ayahnya bahwa ia mendengar apa yang ayahnya ucapkan pada ibunya di mobil waktu itu dan ayahnya pun akhirnya mengakui bakat besar Jenson Button, putra kebanggaanya itu.

Dalam meraih gelar dunia selain bakat tentu saja diperlukan kematangan sang pembalap dan Jenson bahkan telah menunjukkan kematangan itu dalam usia yang masih sangat belia. Seorang bocah berumur sepuluh tahun yang memendam ucapan miring ayahnya mengenai dirinya dan terus berusaha keras meraih pengakuan yang akhirnya bukan hanya diamini oleh ayahnya saja tapi juga seluruh dunia yang mudah sekali melupakan Mr. Smooth yang memiliki tingkat sensitivitas yang sangat tinggi dalam mengendalikan tunggangannya ini.

Mungkin Jenson Button tak kelihatan istimewa seperti Kimi Raikkonen dan Fernando Alonso yang meski Jenson lebih dulu masuk ke F1 dibanding keduanya tapi karena bertahun-tahun Jenson terbenam dalam tim yang tak mampu mengeluarkan bakat istimewanya itu dan nyaris saja bakatnya terkubur tanpa dunia mengetahui bakat luar biasa pria yang satu ini. Namun sebenarnya Jenson memiliki kelebihan yang hampir tak dimiliki kedua pembalap tersebut bahkan tak semua pembalap memiliki kemampuan seperti Jenson dalam hal sensitivitasnya terhadap mesin bahkan angin -yang mungkin terasah berkat hobi triathlon-nya- kerap dapat menjadi faktor penentu seperti di GP Turki di mana Vettel harus mengakui kemampuan unik dan luar biasa Jenson itu ketika menyalipnya berkat angin samping yang membuat Vettel melakukan sedikit kesalahan dan langsung saja kesempatan itu tak disia-siakan Jenson untuk meraih kemenangan keenamnya di musim ini (yang kuharap bukan kemenangan terakhirnya).

Semoga saja sang angin kembali berbaik hati pada Mr. Sensitive ini dan kembali membawa sang bintang baru ini melesat bersama angin menuju podium pertama yang telah lama tak disinggahinya itu. Dan biarlah bersama angin yang berhembus, Jenson Button bersama Brawn Mercedes yang dikemudikannya melesat kencang menuju puncak tertinggi karirnya. Juara dunia Formula One. I hope it. Good luck for you, Jens! Keep fight and let the world knows you're the best!
pic taken from : www.metrof1.com

Tidak ada komentar: