Total Tayangan Laman

Translate

Kamis, 14 April 2011

Ratu Kalinyamat = Wanita Pemberani dari Jepara

Berbicara tentang Jepara tentunya pikiran kita tak bisa dialihkan dari kiprah seorang wanita asal kota ini yang amat melegenda dalam sejarah Indonesia. Ya dia adalah Raden Ajeng Kartini yang berkat surat-suratnya menjadi inspirasi dalam memajukan gerakan emansipasi kaum wanita Indonesia. Namun yang kita bicarakan kali ini adalah tokoh wanita lainnya dari Jepara yang kiprahnya tak kalah heroik. Dia adalah Ratu Kalinyamat yang memiliki nama asli Retna Kencana.

Retna Kencana merupakan putri dari Sultan Trenggana, raja Demak yang memerintah sejak 1521-1546. Pada saat ia masih remaja, ayahnya menikahkan Retna Kencana dengan Pangeran Kalinyamat yang oleh masyarakat Jepara dipanggil dengan nama Win-tang. Mengenai hal ihwal Pangeran Kalinyamat ini ada beberapa versi.

Pada versi pertama mengisahkan bahwa Win-tang atau Pangeran Kalinyamat ini merupakan saudagar Tiongkok yang mengalami kecelakaan di laut. Ia kabarnya terdampar di pantai Jepara dan kemudian berguru pada Sunan Kudus. Namun versi lain menyatakan bahwa Win-tang berasal dari Aceh. Nama aslinya adalah Pangeran Toyib, putra Sultan Mughayata Syah, raja Aceh yang memerintah pada 1514-1528. Toyib lalu berkelana ke Tiongkok dan menjadi anak angkat seorang menteri bernama Tjie Hwio Gwan. Nama Win-tang sendiri merupakan ejaan Jawa untuk Tjie Bin Thang, nama baru Toyib. Dalam versi ini dikisahkan Win-tang dan ayah angkatnya lalu pindah ke Jawa dan mendirikan desa Kalinyamat yang saat ini berada di wilayah kota Tegal sehingga ia pun dikenal dengan nama Pangeran Kalinyamat.

Setelah menikahi Retna Kencana, putri raja Demak maka Pangeran Kalinyamat pun menjadi anggota keluarga Kesultanan Demak dan mendapat gelar Pangeran Hadiri. Nama Retna Kencana pun kemudian dikenal sebagai Ratu Kalinyamat. Mereka pun memerintah bersama di Jepara. Sementara Tjie Hwio Gwan, sang ayah angkat dijadikan patih bergelar Sungging Badar Duwung, konon ia pulalah yang telah mengajarkan seni ukir pada penduduk Jepara.

Akibat kematian kakaknya yang merupakan pewaris takhta kerajaan Demak membuat Ratu Kalinyamat terlibat dalam intrik politik di kerajaan Islam pertama di Jawa ini. Setelah kematian Sultan Trenggana, maka Sunan Prawata, kakak Ratu Kalinyamat naik takhta menjadi raja ke-4 Demak. Namun belum lama ia memerintah, pada tahun 1549 ia tewas dibunuh oleh utusan Raya Penangsang, bupati Jipang yang sebenarnya merupakan sepupunya sendiri. Ratu Kalinyamat menemukan keris Kyai Betok milik Sunan Kudus menancap pada mayat kakaknya itu. Hal ini membawa Pangeran dan Ratu Kalinyamat menemui Sunan Kudus untuk meminta penjelasan atas kematian kakaknya.

Namun Sunan Kudus yang pernah menjabat sebagai panglima perang untuk Kesultanan Demak ini memberikan penjelasan yang menyakitkan bagi Ratu Kalinyamat. Seperti yang telah diketahui oleh umum, Sunan Kudus merupakan guru dari Arya Penangsang dan pada masa pemerintahan Sunan Prawoto ia menjadi penasehat Arya Penangsang dan menjadi pendukung Arya Penangsang dalam konflik perebutan takhta sepeninggal Sultan Trenggana pada tahun 1546. Saat Ratu Kalinyamat menuntut keadilan atas kematian kakaknya. Sunan Kudus malah mengatakan bahwa apa yang dialami oleh Sunan Prawoto, kakak Ratu Kalinyamat adalah balasan yang setimpal karena ia semasa mudanya pernah membunuh Pangeran Sekar Seda yang merupakan ayah Arya Penangsang.

Tentu saja pernyataan Sunan Kudus ini menyakitkan hati Ratu Kalinyamat. Ia dan suaminya akhirnya memutuskan kembali ke Jepara. Namun di tengah jalan mereka dikeroyok oleh anak buah Arya Penangsang hingga menyebabkan Pangeran Kalinyamat tewas. Ratu Kalinyamat lalu meneruskan perjalanan sambil membawa jenazah suaminya sampai pada sebuah sungai. Konon menurut cerita darah yang berasal dari jenazah Pangeran Kalinyamat menjadikan air sungai itu berwarna ungu sehingga daerah tersebut pun lalu dikenal dengan nama Kaliwungu.

Ratu Kalinyamat sendiri berhasil meloloskan diri dari serangan anak buah Arya Penangsang namun kematian kakak dan suaminya membuat dendamnya pada Arya Penangsang pun jadi berlipat ganda hingga membuatnya bertapa telanjang di Gunung Danaraja dan bersumpah tidak akan berpakaian sebelum berkeset kepala Arya Penangsang. Namun kabarnya hanya Hadiwijaya atau Jaka Tingkir saja yang memiliki kesaktian yang setara dengan Arya Penangsang. Maka Ratu Kalinyamat pun menggantungkan harapannya pada adik iparnya ini untuk membalaskan dendamnya. Tapi Hadiwijaya yang merupakan bupati Pajang ini merasa segan menghadapi Arya Penangsang secara langsung karena mereka sama-sama anggota keluarga Kesultanan Demak. Ia lalu mengadakan sayembara dan menjanjikan tanah Mataram dan Pati sebagai hadiah bagi siapapun yang berhasil membunuh Arya Penangsang. Sayembara itu dimenangi oleh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi.

Kisah kematian Arya Penangsang sendiri sangat tragis. Ia tewas di tangan Sutawijaya, putra Ki Ageng Pemanahan berkat siasat cerdik Ki Juru Martani, putra Ki Ageng Saba atau Ki Ageng Madepandan yang merupakan putra dari Sunan Kidul, putra Sunan Giri, anggota walisanga, pendiri Giri Kedaton. Sementara ibu Ki Juru Martani adalah putri Ki Ageng Sela yang masih merupakan keturunan Brawijaya, raja terakhir Majapahit (menurut versi Babad).

Ki Juru Martani sendiri merupakan orang yang sangat cerdik dan pandai dalam mengatur siasat. Ketika Hadiwijaya mengadakan sayembara untuk membunuh Arya Penangsang, ia pun meyakinkan Ki Penjawi dan Ki Ageng Pemanahan untuk mengikuti sayembara itu namun sejak semula ia telah mengatur strategi dengan menempatkan Sutawijaya, putra Ki Ageng Pemanahan untuk membunuh Arya Penangsang. Karena Sutawijaya merupakan anak angkat Hadiwijaya maka ia pun tak tega pada putra angkatnya ini dan memberikan pasukan Pajang untuk mengawal Sutawijaya sementara pasukan Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi yang terdiri atas gabungan orang Pajang dan Sela berangkat dan menunggu di sebelah barat Sungai Bengawan Solo tapi karena sungai tersebut telah dimantrai Sunan Kudus maka Ki Juru Martani melarang mereka menyebrang sungai tersebut. Lalu bagaimana caranya membuat Arya Penangsang keluar menghadapi mereka. Ki Juru Martani pun menjalankan siasat cerdiknya. Ia menangkap tukang kuda Arya Penangsang yang tengah mencari rumput dan memotong telinga orang itu lalu menempelinya dengan surat tantangan atas nama Hadiwijaya karena ia tahu Arya Penangsang hanya mau meladeni tantangan dari Hadiwijaya yang kesaktiannya dinilai setara dengannya.

Benar saja. Demi melihat surat tantangan atas nama Hadiwijaya itu, Arya Penangsang pun langsung keluar menghadapi tantangan itu. Namun karena ia imgat pesan gurunya, Sunan Kudus untuk tak menyebrangi Sungai Bengawan Sore maka ia pun hanya berteriak-teriak memanggil nama Hadiwijaya dari seberang sungai. Ki Juru Martani pun melancarkan siasat cerdiknya yang lain untuk membuat Arya Penangsang menyebrangi sungai maka ia pun memerintahkan Sutawijaya mengendarai kuda betina yang sudah dipotong ekornya akibatnya kuda jantan yang dinaiki oleh Arya Penangsang pun bisa melihat langsung alat vital kuda betina yang ditunggangi Sutawijaya. Kuda jantan Arya Penangsang yang diberi nama Gagak Rimang ini pun menjadi liar dan tidak terkendali sehingga membawa Arya Penangsang menyebrangi sungai mengejar kuda betina milik Sutawijaya.

Ketika Arya Penangsang baru saja mencapai tepi barat, Sutawijaya langsung menusuk perut Arya Penangsang dengan menggunakan tombak pusaka Kyai Plered. Perut Arya Penangsang robek dan ususnya terburai. Namun rupanya ia masih bisa bertahan. Ususnya itu disampirkan pada pangkal keris pusakanya. Arya Penangsang yang sudah terluka parah ini bahkan masih bisa menaklukkan musuhnya. Meski dalam keadaan sedemikian parahnya, namun Arya Penangsang ini masih bisa mencekik Sutawijaya hingga membuatnya tak berdaya. Menyadari Sutawijaya masih bukan merupakan tandingan kesaktian Arya Penangsang maka Ki Juru Martani pun dengan cerdiknya menggiring Arya Penangsang menemui ajalnya akibat kearoganannya.

Melihat Sutawijaya sudah kepayahan dan hampir saja tewas di tangan Arya Penangsang maka Ki Juru Martani pun meneriaki Arya Penangsang agar bertarung secara adil. Karena Sutawijaya menusuk perutnya dengan tombak pusaka maka Ki Juru Martani pun meminta Arya Penangsang membunuh Sutawijaya dengan keris pusakanya. Tanpa pikir panjang Arya Penangsang pun menyetujui usul Ki Juru Martani ini dan langsung mencabut keris pusaka Kyai Setan Kober yang terselip di pinggangnya, tak ingat bahwa ususnya yang terburai tersampir di keris pusaka itu akibatnya saat ia menarik keris pusakanya maka ususnya yang tersampir di pangkal keris pusaka itu terpotong sehingga Arya Penangsang pun menemui ajalnya.

Namun Ki Juru Martani yang cerdik ini lalu menyusun laporan palsu bahwa Arya Penangsang tewas dikeroyok oleh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi karena apabila Hadiwijaya tahu kalau pembunuh sebenarnya adalah Sutawijaya tentu ia akan lupa memberi hadiah tanah Mataram dan Pati seperti janjinya karena Sutawijaya adalah anak angkat Hadiwijaya.

Setelah Arya Penangsang tewas maka dendam Ratu Kalinyamat atas kematian suami dan kakaknya pun terbalaskan. Namun kisah heroik Ratu Kalinyamat masih berlanjut.

Setelah kematian Arya Penangsang pada tahun 1549 wilayah Demak, Jepara, dan Jipang menjadi bawahan Pajang yang dipimpin Sultan Adiwijaya sebagai raja. Meski begitu Sultan tetap memperlakukan Ratu Kalinyamat sebagai tokoh senior yang dihormati. Ratu Kalinyamat kembali menjadi bupati Jepara namun seperti pendahulunya, Pati Unus yang antipati pada Portugis, Ratu Kalinyamat pun tak menyukai keberadaan bangsa Eropa ini yang menjajah nusantara. Pada tahun 1550 ia mengirim 4000 tentara Jepara dalam 40 buah kapal memenuhi permintaan Sultan Kerajaan Johor untuk membebaskan Malaka dari kekuasaan bangsa Eropa itu.

Pasukan Jepara itu lalu bergabung dengan pasukan Persekutuan Melayu hingga mencapai 200 kapal perang. Pasukan gabungan tersebut menyerang dari utara dan berhasil merebut sebagian Malaka. Namun Portugis berhasil melakukan serangan balik dan memukul mundur Pasukan Melayu sementara Pasukan Jepara masih bertahan. Setelah pemimpinnya gugur barulah pasukan Jepara ditarik mundur.

Pertempuran selanjutnya masih terjadi di pantai dan laut yang menewaskan 2000 prajurit Jepara. Badai datang menerjang sehingga 2 buah kapal Jepara terdampar kembali ke pantai Malaka dan menjadi mangsa bangsa Portugis. Prajurit Jepara yang berhasil kembali ke Jawa tak lebih dari setengah dari yang berhasil meninggalkan Malaka. Meski mengalami kekalahan yang menyesakkan namun hal ini tak membuat Ratu Kalinyamat jera dalam mengusir bangsa Portugis dari bumi nusantara.

Ratu Kalinyamat tetap memenuhi permintaan raja-raja di nusantara untuk membantu mereka menghalau Portugis seperti pada tahun 1565 ia memenuhi permintaan orang-orang Hitu di Ambon untuk menghadapi gangguan Portugis dan kaum Hative. Meski ia telah mengalami kekalahan yang amat parah pada serangan pertamanya melawan Portugis tapi rupanya hal itu tak membuat Ratu Kalinyamat kapok. Ia kembali mengirimkan pasukannya ke Aceh untuk memerangi pasukan Portugis atas permintaan Sultan Ali Riayat Syah dari Kesultanan Aceh. Pada tahun 1564 Sultan Aceh ini meminta bantuan Demak untuk menyerang Portugis di Demak. Namun saat itu Demak dipimpin oleh seorang bupati yang mudah curiga bernama Arya Pangiri, putra Sunan Prawata (keponakan Ratu Kalinyamat yang dibesarkannya). Bukannya memenuhi permintaan Sultan Aceh ini malahan utusan Aceh itu dibunuhnya.

Meski tak mendapat bantuan dari tanah Jawa namun Aceh tetap menyerang Malaka pada tahun 1567. Sayangnya serangan itu gagal. Maka pada tahun 1573 Sultan Aceh meminta bantuan Ratu Kalinyamat untuk menyerang Malaka kembali. Ratu Kalinyamat menyanggupi permintaan Sultan Aceh ini dan mengirimkan 300 kapal berisi 15.000 prajurit Jepara dengan dipimpin Ki Demang Laksamana. Namun pasukan Jepara ini baru tiba di Malaka pada bulan Oktober 1574, saat itu pasukan Aceh sudah dipukul mundur oleh Portugis. Meski begitu pasukan Jepara yang datang terlambat ini langsung menembaki Malaka dari Selat Malaka. Esoknya, mereka mendarat dan membangun pertahanan. Tapi pertahanan itu dapat ditembus pihak Portugis. 30 kapal Jepara terbakar. Pihak Jepara mulai terdesak tapi tetap menolak perundingan damai karena terlalu menguntungkan Portugis. 

Sementara itu sebanyak 6 kapal perbekalan yang dikirim Ratu Kalinyamat direbut Portugis sehingga membuat pihak Jepara semakin lemah dan akhirnya memutuskan pulang. Dari jumlah awal yang dikirimkan Ratu hanya sepertiganya saja yang berhasil kembali ke Jawa.

Walaupun telah dua kali gagal menghadapi serangan Portugis namun Ratu Kalinyamat tetap menunjukkan dirinya sebagai seorang wanita yang gagah berani. Tak heran bila Portugis pun mengapresiasi keberanian bupati Jepara ini dan bahkan mencatatnya sebagai rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de Kranige Dame yang artinya "Ratu Jepara, seorang wanita yang kaya dan berkuasa, seorang perempuan pemberani."

Ratu Kalinyamat meninggal sekitar tahun 1579 dan dimakamkan di dekat makam Pangeran Kalinyamat di desa Mantingan. Semasa hidupnya, Ratu Kalinyamat membesarkan tiga orang pemuda. Yang pertama adalah adiknya yaitu Pangeran Timur Rangga Jumena, putra bungsu Sultan Trenggana yang kemudian menjadi bupati Madiun.

Yang kedua adalah keponakannya yaitu Arya Pangiri, putra Sunan Prawata yang kemudian menjadi penguasa Demak. Namun sebelum itu ia sempat menjadi Raja Pajang dengan gelar Sultan Ngawantipura. Saat itu dengan bantuan Panembahan Kudus pada tahun 1583 ia berhasil naik takhta atas kerajaan Pajang menggantikan Sultan Hadiwijaya yang meninggal dunia akibat sakit sepulang dari perang dengan Mataram melawan anak angkatnya sendiri, Sutawijaya. Sepeninggal Hadiwijaya, terjadi perebutan takhta antara Pangeran Benawa yang merupakan putra dari Sultan Hadiwijaya sendiri dengan Arya Pangiri, menantunya yang dimenangkan oleh Arya Pangiri. Namun pemerintahan Arya Pangiri hanya disibukkan dengan usaha balas dendam terhadap Mataram sehingga kehidupan rakyat Pajang terabaikan. Hal ini kemudian membuat Pangeran Benawa yang tersingkir ke Jipang prihatin. Pada 1586 ia lalu bersekutu dengan Sutawijaya menyerbu Pajang. Arya Pangiri kalah. Ia lalu dikembalikan ke negeri asalnya yaitu Demak.

Sedangkan yang ketiga adalah sepupunya yakni Pangeran Arya Jepara, putra Ratu Ayu Kirana (adik Sultan Trenggana). Ayah Pangeran Arya Jepara adalah Maulana Hasanuddin, raja pertama Banten. Ketika Maulana Yusuf, raja ke-2 Banten meninggal pada tahun 1580, putra mahkotanya masih kecil. Pangeran Arya Jepara berniat merebut takhta. Pertempuran pun terjadi di Banten. Namun Pangeran Jepara terpaksa mundur setelah Ki Demang Laksamana, panglimanya gugur di tangan Patih Mangkubumi Kesultanan Banten.

Kiprah Ratu Kalinyamat dalam menghadapi Portugis memberikan pelajaran berarti bagi bangsa ini akan arti persatuan dan kesatuan. Meski saat itu Pancasila belum ditetapkan secara resmi sebagai lambang negara ini dan Bhinneka Tunggal Ika pun belum secara sah menjadi semboyan negara namun Ratu Kalinyamat telah memperlihatkan semangat dan arti sesungguhnya dari semboyan pengikat semua elemen bangsa yang majemuk ini. Walaupun ia seorang wanita namun Ratu Kalinyamat dapat bersikap jauh lebih arif dibanding penguasa Demak yang bukannya memenuhi permintaan Sultan Aceh namun malah membunuh utusannya. Ratu Kalinyamat memberikan contoh kearifan bagi pemimpin di negeri ini. Dua kali ia mengirimkan bantuan untuk memerangi Portugis di Malaka namun dua kali pula ia gagal tapi kegagalan ini tak menyurutkan keberaniannya dalam menghadapi bangsa Eropa ini. Walaupun Aceh terletak jauh dari daerahnya namun Ratu Kalinyamat dengan besar hati mau memberikan bantuan kepada Sultan Aceh memerangi Portugis.

* Gambar dipinjam dari sini.

Tidak ada komentar: