Total Tayangan Laman

Translate

Minggu, 11 Juni 2017

Kotak Abu-abu-ku

Sejak kecil aku sudah menyukai kotak ini. Dulu sekali saat isinya masih belum terlalu banyak, isinya masih sangat rapi. Dengan mudah aku bisa menemukan apa yang kucari. Namun makin hari makin banyak yang kutumpuk di sana. Sesekali masih suka kutengok namun lebih sering aku mengabaikannya. 

Aku memanggilnya kotak abu-abu-ku meski warnanya tak pasti abu-abu namun sejak membaca novel Agatha Christie, aku menamakannya kotak abu-abuku. 

Di dalamnya kini terdapat banyak sekali, mulai dari yang remeh hingga yang cukup berharga. Semua kumasukkan begitu saja ke dalamnya tanpa sempat menatanya. 

Terkadang aku melongok ke dalamnya tapi terlalu frustasi karena tak mampu menemukan apa yang ingin kucari sehingga kututup kembali kotak abu-abuku sebelum kepalaku meledak karena pening yang teramat sangat. 

Rasanya kotak abu-abuku sudah sedemikian lusuh. Penuh debu dan mungkin dihiasi banyak sarang laba-laba juga. Aku tak dapat memastikan keadaannya karena aku terlalu lelah untuk merapikan isinya. Terlalu banyak yang kusimpan hingga aku bahkan tak lagi mengingat apa saja yang telah kucemplungkan ke dalam sana. 

Seorang teman pernah menasihatiku untuk menjaga kotak abu-abuku saat aku terlalu tamak mengambil apa saja yang ingin kuambil dan melemparkannya begitu saja ke dalam kotak abu-abuku. 

Bagiku kotak abu-abuku ini sangatlah berharga. Tanpanya aku merasa bagai kepompong tanpa isi. Kotak abu-abuku ini menyimpan seluruh gambaran perjalanan hidupku. Kotak abu-abu ini pulalah teman pertama dalam hidupku saat aku bahkan belum mengenal kata berteman. 

Ketakutan terbesarku adalah bila kotak abu-abuku rusak. Kotak abu-abu inilah kebanggaanku. Kotak abu-abu ini harta sekaligus harga diriku. Aku tak berani membayangkan apa jadinya aku bila kotak abu-abuku ini rusak. Kurasa hidupku akan terasa mengerikan bukan saja bagiku tapi bagi orang-orang yang kucintai bila sampai kotak abu-abuku rusak. 

Ketakutanku makin menjadi saat kotak abu-abu nenekku mengalami penyumbatan. Nenekku tak berdaya. Tiga hari ia bagai kepompong tanpa isi. Aku dan keluarga berjuang dan berharap kotak abu-abu nenek bisa kembali utuh namun dalam tiga hari itu kotak abu-abu nenek malah makin parah. Nenek tak lagi dapat bertahan. Sama sepertiku, kotak abu-abu itu adalah harta utamanya. Karena dari kotak abu-abu itu kehidupannya memancar. 

Seperti kotak hitam yang selalu menyimpan rekaman dari pesawat atau kapal laut yang mengalami kecelakaan, demikian pula rekam jejak hidupku tersimpan dalam kotak abu-abu ini. Karena kotak abu-abu ini adalah kotak memoriku. Dalam buku biologiku kotak abu-abu ini tak berbentuk kotak, lebih mirip sebuah gumpalan aneh penuh serat-serat halus dan jalinan benda-benda seperti pipa lembek. Dari buku biologiku ini nama benda ini adalah otak. Benda kecil yang sangat ajaib bagiku.

Tidak ada komentar: