Total Tayangan Laman

Translate

Minggu, 18 Juni 2017

Elegi Pagi

Malam pernah begitu mempesonaku...

Aku benci pagi yang penuh ketidakpastian. Pagi yang tak menawarkan kenyamanan selain kehangatan sinar mentari muda yang menyilaukan saat telah mencapai puncak kekuasaannya di siang yang terik. 

Pagi pernah menjadi teror bagiku. Mimpi buruk yang selalu kualami dengan mata terjaga. Ketakutan tanpa bentuk yang hanya kurasa dalam rupa kecemasan mencekam dan berharap gelap kan kembali menyapa

Rembang petang membawa harapan. Aku nyaman bersembunyi dalam gelap walau tak sepenuhnya pekat. Malam mencipta misteri namun menawarkan kenyamanan. Membuaiku hingga terlelap dan berharap pagi tak pernah datang...

Namun pagi selalu datang dalam rupa dan bentuk yang sama. Menawarkan teror yang sama dan mencipta kecemasan yang nyaris serupa. Dengan harapan yang sama. 

Pagi bagai deja vu yang melelahkan.... 

Hanya saja sesuatu telah berubah. Entah apa, namun pagi tak lagi menakutkan. Pagi tak sepenuhnya teror. Kecemasan tanpa rupa itu masih kerap mengendap menyusup namun perlahan terkikis sinar lembut mentari muda yang tak pernah lelah merayap di ufuk timur mengumpulkan bentuk dan energinya demi mengukuhkan otoritasnya atas siang namun dalam puncak kekuasaannya pun, ia rela mengundurkan diri, membiarkan sinarnya meredup saat petang menyapa, menyerahkan kekuasaannya dalam kedamaian malam. Bergulir ke arah barat, bersembunyi sesaat di balik peraduannya, untuk kembali menyapa di ujung timur. 

Aku masih mencinta malam namun pagi tak lagi mencipta teror. Pagi menawarkan harapan yang terbentuk dalam mimpi di saat malam. 

Pagi masih menawarkan ketidakpastian dan malam masih mempesona sementara roda waktu terus bergulir, melindas kejam mereka yang tak mampu mengikuti geraknya namun begitu lembut pada siapapun yang mampu merangkulnya.

Tidak ada komentar: