Total Tayangan Laman

Translate

Rabu, 28 Juni 2017

Bahasa....

Beberapa minggu lalu saat tengah menghadiri misa, tak biasanya konsentrasiku terpecah oleh percakapan dua orang di sebelahku. Bukan bermaksud ingin menguping, karena nyatanya percakapan dua orang di sebelahku itu memang tak kupahami bahasanya. Ya, mereka bercakap-cakap entah menggunakan bahasa dari belahan bumi bagian mana. Bahasa mereka sangat asing sekaligus menarik minat sensor syaraf telingaku.

Entah mengapa, sensor dalam syaraf telingaku memang mudah tertarik saat mendengar bahasa asing yang tak kukenal. Saat kecil aku malah pernah bermimpi bisa menguasai berbagai bahasa asing dari berbagai negara. Lagi-lagi, namanya mimpi, tak selalu menjadi nyata. 

Aku memang sangat tertarik pada bahasa. Bagiku bahasa adalah sebuah tanda peradabaan manusia. Setiap makhluk hidup memang memiliki cara berkomunikasi masing-masing. Bahkan ikan pesut di Gelanggang Samudra Ancol pasti memiliki gaya komunikasi dalam komunitasnya. Bahkan pepohonanpun pasti memiliki cara berkomunikasi dengan kaumnya, mungkin lewat gesekan angin atau entahlah, aku bukan pakar botani. 

Namun berbeda dengan makhluk lainnya, hanya manusia sebagai makhluk termulia dari seluruh ciptaan di bumi yang memiliki bahasa sebagai lambang peradabannya. 

Seperti makhluk hidup yang tumbuh dan berkembang, demikian pula dengan bahasa. Bahasa sangat unik. Bukan benda cair namun kerap mampu mencairkan kebekuan suasana. Tak memiliki lidah api namun mampu membakar hati bahkan hutan seluas amazon. Tak berwujud namun mampu menggerakkan seorang pemalas sekalipun. 

Bahasa sekalipun tak memiliki rupa namun selalu berkembang. Selalu mengalami pembaharuan seiring perkembangan jaman. Abadi bersama masa. 

Kembali ke soal perbincangan dua orang di sebelahku. Alhasil bukan saja memecah konsentrasiku, mereka juga telah menggelitik rasa penasaranku. Belum sempat aku bertanya bahasa apa yang mereka gunakan, namun mereka sudah terlebih dulu pergi bahkan sebelum iring-iringan pastor bergerak keluar. Ah... akhirnya aku menundukkan doa sebelum pulang sambil otakku terus berputar mengira-ngira asal bahasa yang mereka gunakan tadi.

Tidak ada komentar: