Total Tayangan Laman

Translate

Senin, 05 Juni 2017

Dunia Yang Ajaib

Menulis itu bisa dibilang pekerjaan paling aneh. Riuh tapi juga sunyi. Melibatkan banyak emosi tapi dalam proses menulis kerap kali seorang penulis harus bisa menguliti perasaannya sendiri. Kejam sekaligus indah. Hanya penulis (terutama penulis keren) yang dapat menggambarkan kematian dengan keindahan puisi.

Menjadi penulis itu bagiku seperti seseorang yang berjalan seorang diri menyusuri lorong-lorong sepi. Seperti seorang penderita Schizophrenia, seorang penulis harus berdamai dengan suara riuh dalam benak-nya. Dengan kesabaran ia dengarkan satu persatu suara-suara dalam kepalanya itu, mencari bentuk, menyisipkan karakter dan membiarkan suara itu menjadi nyata. 

Menulis adalah pekerjaan olah pikir sekaligus olah rasa. Terlihat tenang dan damai tapi bisa jadi jauh lebih melelahkan dari pekerjaan paling keras sekalipun. 

Tak jarang pula dalam prosesnya, seorang penulis dengan "kejam" terpaksa "membunuh" dirinya sendiri. Memaksa emosinya tak terlibat tapi harus menggunakan perasaan demi membuat tulisan yang bernyawa. Seringkali saat menulis, seorang penulis harus melepaskan jubah ke-aku-an-nya. Membakar dirinya sendiri dan melebur menjadi pribadi berbeda. Ia diharuskan mengupas satu demi satu lapisan emosinya. Menelanjangi pikiran dan perasaannya demi memberikan jiwa bagi tulisannya. 

Seorang penulis itu terkadang seperti seorang iblis berhati malaikat. Atau mungkin sebaliknya? Seorang malaikat berjiwa iblis? Tergantung dari mana kau memandang. Karena menulis adalah soal sudut pandang.

Seorang penulis ibarat pembunuh berjiwa penyair. Bagaimana tidak. Seringkali penulis dengan kejam "membunuh" karakternya tapi kita tak bisa membenci si penulis yang telah menciptakan sebuah kematian yang manis. 

Seperti hujan yang kadang menjengkelkan tapi kita juga tak mampu menolak nuansa romantis yang ditawarkan hujan. 

Aneh? Ah... dunia penulis memang dunia yang ajaib, bukan?

Tidak ada komentar: