Total Tayangan Laman

Translate

Selasa, 06 Juni 2017

Kompas...

Lagi-lagi soal menulis. Dalam menulis ada kalanya ada kejenuhan. Tak jarang kita sedikit melangkah keluar jalur dari mimpi kita menjadi penulis. Seperti seorang pengelana yang membutuhkan kompas dalam petualangannya agar tak tersesat, begitu pun kita dalam perjalanan menuju apapun mimpi kita.
 
Aku memiliki sahabat yang juga suka menulis. Kami memiliki mimpi yang sama sebagai penulis. Namun dia jauh lebih konsisten dalam mengejar mimpinya dibanding aku. Aku cenderung sedikit permisif dengan ketidakdisiplinanku dalam menulis sementara ia begitu gigih mencecar kemalasanku hingga terkadang membuatku sedikit sebal. Namun aku tetap bersyukur memilikinya sebagai sahabat.

Betapapun terkadang sebal dengan kerewelannya mengomentari keahlianku dalam membuat banyak alasan demi membenarkan kemalasanku, aku menganggapnya sebagai kompas, penunjuk arahku demi menuju mimpiku juga mimpinya. Menjadi penulis.

Seperti Matt Damon dan Ben Affleck, dua sahabat yang berbagi mimpi yang sama. Begitu pula dengan kami. Kami berharap suatu saat nanti kami bisa mendapatkan momen kami seperti saat Matt Damon dan Ben Affleck menulis naskah Good Will Hunting. 

Sejak masa sekolah, saat pertama kali kami memulai pertemanan kami, aku memang sudah mengagumi imajinasinya selain koleksi-koleksi novelnya:) Puisi-puisinya yang lebih dewasa dariku. Diksinya yang kaya. Juga tulisannya yang lebih lugas. Jadi bisa dibilang dialah barometer awalku dalam menulis. 

Kami sama-sama menyukai Tolstoy dan Hemingway. Memiliki keterpesonaan yang sama terhadap Anna Karenina dan Doctor Shivago. 

Namun dalam beberapa hal kami memiliki perbedaan. Ia penggemar berat Chairil Anwar sedang aku lebih menyukai Armijn Pane. 

Ia mengeluh  saat menonton drama Korea di saat aku terharu biru saat menonton Drakor. Ia to the point juga dalam menulis sementara aku lebih suka menggunakan bahasa berbunga-bunga tanpa menyentuh konflik secara langsung. Ia lebih suka happy ending sedangkan aku menganggap sad ending lebih realistis. 

Dan yang paling menyebalkanku hingga saat ini, ia pendukung berat Kimi Raikkonen sementara aku selamanya menganggap Michael Schumacher adalah Pebalap Terbaik Sepanjang Masa =D

Seperti persahabatan lain pada umumnya, tentu ada pula silang pendapat di antara kami. Namun enaknya memiliki seorang sahabat yang juga suka menulis adalah membiarkan konflikmu terselesaikan lewat tulisan. 

Meski begitu seperti yang kukatakan sebelumnya, sahabatku ini tetaplah kompas yang menjaga langkahku dan terus menyalakan api mimpiku.

Big thank's to my best friend :)

Tidak ada komentar: