Total Tayangan Laman

Translate

Kamis, 08 Juni 2017

Pete vs Duren

Suatu hari saat tengah menyantap menu favoritku, sambal goreng pete, seorang temanku menatapku sambil mengernyitkan keningnya. Dengan nada menyebalkan ia bertanya setengah tak percaya bagaimana bisa aku menyukai makanan yang menurutnya berbau tak sedap ini?

Meski mendongkol aku tak ingin merusak nafsu makanku hanya untuk meladeninya. 

Beberapa lama berselang, ganti aku yang mengernyitkan kening melihatnya tengah menyantap buah beraroma menyengat, berwarna kekuningan dengan tekstur sedikit lembek menjijikkan.

"Enak tau. Makanan orang kaya nih. Dibanding pete. Makanan orang kere," celetuk kawanku sambil setengah menyeringai. 

Sudah berkali-kali kudengar komentar diskriminatif macam ini. Memang benar harga durian bisa mencapai ratusan ribu sedangkan semahal-mahalnya pete, harga sepapan pete paling tidak sekitar lima atau enam ribu, tapi apa lantas soal perbedaan harga ini berhak merendahkan derajat pete yang setengah berseloroh kukatakan pada temanku itu sebagai makanan para dewa?

Temanku beropini bahwa durian bisa dibuat jadi es krim sedangkan pete rasa es krim, bisa bayangkan bagaimana rasanya? 

Panas karena makanan favoritku dilecehkan, aku balas mendebatnya. Kubilang lalap pete bakar disantap bersama sambal terasi, hmmm... dewa-dewa pun bisa mabuk kepayang. Coba, apa lalapan durian bakar bisa seenak itu?

Temanku masih berargumen membeberkan apa sebab duren lebih berkelas dibanding pete yang lebih banyak menghuni warteg-warteg pinggir jalan. Aku pun bagai bocah tak mau kalah mendebatnya dan membeberkan kualifikasi-kualifikasi cita rasa pete yang jauh lebih bisa membuat lidah bergoyang. 

Entah sampai kapan kami akan terus memperdebatkan hal konyol macam ini hingga seorang kawan lain tak tahan, menertawakan kekonyolan kami. 

"Sudah... sesama penggemar makanan bau dilarang saling menghina," tukasnya sambil tertawa lebar menertawakan kekonyolan kami.

Lucu sekaligus malu rasanya bila mengingat momen itu di saat sekarang. Tapi momen terkonyol kadang jauh lebih berkesan dalam kotak ingatanku. Saat menghadapi hari buruk, momen aneh macam ini justru yang bisa mengembalikan mood-ku. 

Lantas momen konyol apa yang pernah kau alami?

Tidak ada komentar: