Total Tayangan Laman

Translate

Jumat, 09 Juni 2017

Sebab Jari Setitik....

Kemarin aku membaca sebuah berita mengenai sepuluh orang calon mahasiswa ditolak masuk Universitas Harvard karena konten minim empati dalam akun facebook mereka.

Kesepuluh anak ini rupanya pernah menyebarkan meme berisi ejekan terhadap korban pemerkosaan bahkan ada pula yang berisi lelucon berbau sara.

Dewasa ini kemajuan teknologi disertai menjamurnya beragam jenis media sosial, makin banyak orang seolah ingin menunjukkan eksistensinya lewat media-media sosial tersebut. Ruang-ruang komunikasi seolah tak lagi memiliki sekat dan batasan. 

Hanya butuh satu jemari saja untuk meng-klik kode share maka beragam informasi, meme, lelucon, mengalir cepat. Dibagi dari satu grup ke grup lain. Dari satu akun ke akun lain. Dari kelompok medsos yang satu ke medsos yang lain. Istilahnya hanya dalam satu kedipan mata, apa yang kita bagikan mungkin sudah menyebar ke berbagai penjuru.

Kecepatan jari saat mengetik seringkali tak seirama dengan kedalaman berpikir. Bila dulu kita diajari untuk menjaga lidah, berpikir dua kali sebelum berucap, namun kini di jaman medsos, jari lebih memegang peranan dibanding lidah. Jika dulu ada pepatah yang mengatakan lidah tak ubahnya api yang bisa membakar hutan, maka kini bukan lidah yang berbahaya namun kecepatan jari-jemari yang tak diimbangi kedewasaan berpikir. 

Terpikir olehku, apa jadinya bila mendadak ada wabah cantengan massal? Mungkinkah saat itulah medsos bisa sedikit lebih beradab? 

Untuk kesepuluh anak yang batal masuk Harvard mungkin pepatah yang cocok adalah: Sebab jari setitik rusaklah impian masuk Harvard.

Tidak ada komentar: